Demokrasi di Iran Terancam, Puluhan Orang Tewas dalam Aksi Demonstrasi
Aksi demonstrasi yang berlangsung di Iran sejak Minggu lalu telah menewaskan minimal 35 orang dan membuat lebih dari 1.200 orang ditahan aparat. Konfirmasi ini diberikan oleh asosiasi pers Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang menggunakan jaringan aktivis di dalam Iran untuk mendapatkan data korban kerusuhan.
Demokrasi di Iran terus terancam setelah aksi demonstrasi meluas ke lebih dari 250 lokasi di 27 dari 31 provinsi di Iran. Ini menunjukkan bahwa protes tersebut telah menyebar secara luas dan intens. Aksi ini dimulai ketika para pedagang turun ke jalan-jalan Teheran untuk menyuarakan kemarahan mereka atas penurunan tajam nilai mata uang Iran terhadap dolar AS.
Rial, mata uang Iran, telah anjlok ke level terendah sepanjang sejarah pada Desember lalu, mencapai 1,4 juta rial per dolar AS. Inflasi juga melonjak hingga 40 persen akibat sanksi atas program nuklir Iran yang menekan ekonomi.
Mahasiswa segera bergabung dalam protes tersebut dan aksi protes mulai menyebar ke kota-kota lain. Aksi ini menjadi yang terbesar di Iran sejak 2022 saat kematian Mahsa Amini. Namun, belum seluas dan seintensif yang terjadi seputar kematian Amini.
Sementara itu, Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, mengatakan bahwa otoritas akan mendengarkan protes dan kritik massa aksi secara sah dan wajar. Namun, mereka bakal bertindak tegas terhadap pendemo yang memanfaatkan situasi, memicu kerusuhan, dan mengganggu keamanan negara serta rakyat.
Aksi ini menunjukkan bahwa demokrasi di Iran masih terancam oleh otoritas yang kuat. Puluhan orang telah tewas dalam aksi demonstrasi ini, dan ribuan lainnya ditahan aparat. Ini menegangkan bagi masyarakat dunia, khususnya Amerika Serikat, yang telah mengeluarkan ancaman kepada Iran.
Aksi demonstrasi yang berlangsung di Iran sejak Minggu lalu telah menewaskan minimal 35 orang dan membuat lebih dari 1.200 orang ditahan aparat. Konfirmasi ini diberikan oleh asosiasi pers Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang menggunakan jaringan aktivis di dalam Iran untuk mendapatkan data korban kerusuhan.
Demokrasi di Iran terus terancam setelah aksi demonstrasi meluas ke lebih dari 250 lokasi di 27 dari 31 provinsi di Iran. Ini menunjukkan bahwa protes tersebut telah menyebar secara luas dan intens. Aksi ini dimulai ketika para pedagang turun ke jalan-jalan Teheran untuk menyuarakan kemarahan mereka atas penurunan tajam nilai mata uang Iran terhadap dolar AS.
Rial, mata uang Iran, telah anjlok ke level terendah sepanjang sejarah pada Desember lalu, mencapai 1,4 juta rial per dolar AS. Inflasi juga melonjak hingga 40 persen akibat sanksi atas program nuklir Iran yang menekan ekonomi.
Mahasiswa segera bergabung dalam protes tersebut dan aksi protes mulai menyebar ke kota-kota lain. Aksi ini menjadi yang terbesar di Iran sejak 2022 saat kematian Mahsa Amini. Namun, belum seluas dan seintensif yang terjadi seputar kematian Amini.
Sementara itu, Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, mengatakan bahwa otoritas akan mendengarkan protes dan kritik massa aksi secara sah dan wajar. Namun, mereka bakal bertindak tegas terhadap pendemo yang memanfaatkan situasi, memicu kerusuhan, dan mengganggu keamanan negara serta rakyat.
Aksi ini menunjukkan bahwa demokrasi di Iran masih terancam oleh otoritas yang kuat. Puluhan orang telah tewas dalam aksi demonstrasi ini, dan ribuan lainnya ditahan aparat. Ini menegangkan bagi masyarakat dunia, khususnya Amerika Serikat, yang telah mengeluarkan ancaman kepada Iran.