Puluhan mahasiswa STIK diterjunkan ke Aceh Timur, tindaklanjuti perintah Presiden dan Kapolri.
Senin, 9 Februari 2026, sebanyak 21 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) diangkat oleh Komisaris Besar Polisi Firdaus untuk melaksanakan pengabdian masyarakat pascabencana di Aceh Timur. Hal ini merupakan tindak lanjut langsung atas perintah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo agar jajaran kepolisian hadir membantu masyarakat di daerah terdampak dan terisolasi akibat bencana alam di Aceh.
Menurut Firdaus, mahasiswa STIK langsung bergerak ke lapangan meski belum genap 24 jam tiba di Aceh. Kegiatan difokuskan pada pemulihan masyarakat pascabencana sesuai amanah pimpinan. Para mahasiswa dijadwalkan melaksanakan misi kemanusiaan selama satu bulan penuh.
Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi bakti sosial berupa pengobatan gratis, pembuatan sumur untuk kebutuhan air bersih, penyaluran bantuan sosial, hingga kerja bakti dan bakti religi di tengah masyarakat. Selain itu, mahasiswa STIK juga terlibat dalam pemulihan psikologis warga terdampak, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, melalui kegiatan trauma healing.
Pemulihan pascabencana tidak hanya soal infrastruktur, tapi juga soal kemanusiaan, ujar Firdaus. Kehadiran mahasiswa STIK di Aceh Timur merupakan bentuk empati dan pengabdian kepada masyarakat terdampak.
Senin, 9 Februari 2026, sebanyak 21 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) diangkat oleh Komisaris Besar Polisi Firdaus untuk melaksanakan pengabdian masyarakat pascabencana di Aceh Timur. Hal ini merupakan tindak lanjut langsung atas perintah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo agar jajaran kepolisian hadir membantu masyarakat di daerah terdampak dan terisolasi akibat bencana alam di Aceh.
Menurut Firdaus, mahasiswa STIK langsung bergerak ke lapangan meski belum genap 24 jam tiba di Aceh. Kegiatan difokuskan pada pemulihan masyarakat pascabencana sesuai amanah pimpinan. Para mahasiswa dijadwalkan melaksanakan misi kemanusiaan selama satu bulan penuh.
Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi bakti sosial berupa pengobatan gratis, pembuatan sumur untuk kebutuhan air bersih, penyaluran bantuan sosial, hingga kerja bakti dan bakti religi di tengah masyarakat. Selain itu, mahasiswa STIK juga terlibat dalam pemulihan psikologis warga terdampak, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, melalui kegiatan trauma healing.
Pemulihan pascabencana tidak hanya soal infrastruktur, tapi juga soal kemanusiaan, ujar Firdaus. Kehadiran mahasiswa STIK di Aceh Timur merupakan bentuk empati dan pengabdian kepada masyarakat terdampak.