Aurelie Moeremans, aktris terkenal yang pernah menjadi korban child grooming, masih belum memiliki kekuatan untuk menyentuh jiwa banyak orang. Meskipun telah membuka luka masa lalunya dalam buku memoarnya, "Broken Strings", namun banyak orang masih merasa tidak nyaman ketika mendengar ceritanya.
Pengakuan Aurelie tentang pengalamannya menjadi korban child grooming membuat banyak ahli psikologi terkejut. Salah satu yang menonjol adalah Joice Manurung, yang memiliki pendapat yang berbeda tentang bagaimana mentalitas Aurelie menghadapi trauma tersebut.
Menurutnya, Aurelie memiliki daya tahan emosi yang relatif kuat, tetapi ini juga bisa dianggap sebagai bentuk mekanisme bertahan. Banyak korban trauma yang tampak kuat di luar, tetapi sebenarnya menyimpan tekanan emosional dalam jangka panjang.
Joice juga menekankan bahwa relasi dalam kasus child grooming kerap disalahartikan sebagai cinta. Padahal, yang terjadi adalah ketergantungan emosi yang terbentuk akibat kebutuhan afeksi yang tidak terpenuhi sejak awal.
Pengakuan Aurelie memang membuat banyak orang merasa sedih dan marah. Banyak orang masih sulit untuk menerima bahwa anak-anak bisa menjadi korban trauma seksual, bukan hanya karena mereka lemah atau kurang percaya diri.
Namun, Joice Manurung juga memberikan kejutan dengan mengatakan bahwa banyak pelaku child grooming yang sangat jeli membaca kekosongan emosional korban. Mereka lalu hadir sebagai sosok yang memberi perhatian, perlindungan, dan rasa aman semu.
Dalam keseluruhan, pengakuan Aurelie Moeremans tentang pengalaman child groomingnya masih menjadi perbincangan hangat di kalangan ahli psikologi. Namun, banyak orang masih belum memiliki kekuatan untuk menyentuh jiwa banyak orang yang terkena dampak trauma tersebut.
Meskipun begitu, dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang child grooming, kita dapat membantu korban-korban tersebut lebih cepat pulih. Kita perlu belajar untuk mendukung mereka dan memberikan mereka bantuan yang lebih baik.
Pengakuan Aurelie tentang pengalamannya menjadi korban child grooming membuat banyak ahli psikologi terkejut. Salah satu yang menonjol adalah Joice Manurung, yang memiliki pendapat yang berbeda tentang bagaimana mentalitas Aurelie menghadapi trauma tersebut.
Menurutnya, Aurelie memiliki daya tahan emosi yang relatif kuat, tetapi ini juga bisa dianggap sebagai bentuk mekanisme bertahan. Banyak korban trauma yang tampak kuat di luar, tetapi sebenarnya menyimpan tekanan emosional dalam jangka panjang.
Joice juga menekankan bahwa relasi dalam kasus child grooming kerap disalahartikan sebagai cinta. Padahal, yang terjadi adalah ketergantungan emosi yang terbentuk akibat kebutuhan afeksi yang tidak terpenuhi sejak awal.
Pengakuan Aurelie memang membuat banyak orang merasa sedih dan marah. Banyak orang masih sulit untuk menerima bahwa anak-anak bisa menjadi korban trauma seksual, bukan hanya karena mereka lemah atau kurang percaya diri.
Namun, Joice Manurung juga memberikan kejutan dengan mengatakan bahwa banyak pelaku child grooming yang sangat jeli membaca kekosongan emosional korban. Mereka lalu hadir sebagai sosok yang memberi perhatian, perlindungan, dan rasa aman semu.
Dalam keseluruhan, pengakuan Aurelie Moeremans tentang pengalaman child groomingnya masih menjadi perbincangan hangat di kalangan ahli psikologi. Namun, banyak orang masih belum memiliki kekuatan untuk menyentuh jiwa banyak orang yang terkena dampak trauma tersebut.
Meskipun begitu, dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang child grooming, kita dapat membantu korban-korban tersebut lebih cepat pulih. Kita perlu belajar untuk mendukung mereka dan memberikan mereka bantuan yang lebih baik.