Tetsuya Yamagami, 45 tahun, pembunuh eks Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang terbunuh dalam aksi penembakan pada 2022 lalu, resmi mendapatkan hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan setempat. Bagaimana sosoknya?
Tetsuka Yamagami lahir dari keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi akibat peran ibunya di dalam Gereja Unifikasi, sebuah gereja agama sesat yang awalnya didirikan di Korea Selatan pada 1954. Ibu Yamagami disebut menyumbangkan kekayaan senilai Rp 1 triliun rupiah kepada gereja itu, sehingga ekonomi keluarga Yamagami memburuk.
Menurut jurnalis Eito Suzuki untuk BBC, Tetsuya Yamagami mengaku bersalah ketika sidang kasusnya dimulai pada 2025 lalu. "Semuanya benar. Tidak ada keraguan bahwa saya melakukan ini [pembunuhan]," kata Yamagami dalam sidang pertamanya. Namun hal itu tidak menenangkan banyak orang, karena pembunuh yang melakukannya terlihat seperti pembunuh berdarah dingin.
Pada sidang kasusnya, pengacara Yamagami membela dengan menyebut pria 45 tahun itu sebagai korban praktik agama sesat. Ia mengatakan bahwa Tetsuya Yamagami merupakan salah satu yang terkena dampak dari kebijakan Gereja Unifikasi yang memperkenalkan "dosa asal" bangsa Jepang karena telah menjajah Korea pada masa lalu.
Jurnalis Eito Suzuki mengenang kesaksian adik Yamagami sebagai momen yang sangat emosional. Di tempat itu ia menyatakan bahwa hampir semua orang di galeri umum tampak menangis. Tapi, seperti yang dikatakan Rin Ushiyama, sosiolog Queens's University Belfast, simpati publik Jepang terhadap Yamagami berakar dari antipati mereka terhadap agama kontroversial macam Gereja Unifikasi.
Ia juga menambahkan bahwa "Yamagami tentu saja merupakan korban dari pengabaian orang tua dan kesulitan ekonomi yang disebabkan [Gereja Unifikasi], namun hal itu tidak menjelaskan, apalagi membenarkan [tindakannya]."
Tetsuka Yamagami lahir dari keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi akibat peran ibunya di dalam Gereja Unifikasi, sebuah gereja agama sesat yang awalnya didirikan di Korea Selatan pada 1954. Ibu Yamagami disebut menyumbangkan kekayaan senilai Rp 1 triliun rupiah kepada gereja itu, sehingga ekonomi keluarga Yamagami memburuk.
Menurut jurnalis Eito Suzuki untuk BBC, Tetsuya Yamagami mengaku bersalah ketika sidang kasusnya dimulai pada 2025 lalu. "Semuanya benar. Tidak ada keraguan bahwa saya melakukan ini [pembunuhan]," kata Yamagami dalam sidang pertamanya. Namun hal itu tidak menenangkan banyak orang, karena pembunuh yang melakukannya terlihat seperti pembunuh berdarah dingin.
Pada sidang kasusnya, pengacara Yamagami membela dengan menyebut pria 45 tahun itu sebagai korban praktik agama sesat. Ia mengatakan bahwa Tetsuya Yamagami merupakan salah satu yang terkena dampak dari kebijakan Gereja Unifikasi yang memperkenalkan "dosa asal" bangsa Jepang karena telah menjajah Korea pada masa lalu.
Jurnalis Eito Suzuki mengenang kesaksian adik Yamagami sebagai momen yang sangat emosional. Di tempat itu ia menyatakan bahwa hampir semua orang di galeri umum tampak menangis. Tapi, seperti yang dikatakan Rin Ushiyama, sosiolog Queens's University Belfast, simpati publik Jepang terhadap Yamagami berakar dari antipati mereka terhadap agama kontroversial macam Gereja Unifikasi.
Ia juga menambahkan bahwa "Yamagami tentu saja merupakan korban dari pengabaian orang tua dan kesulitan ekonomi yang disebabkan [Gereja Unifikasi], namun hal itu tidak menjelaskan, apalagi membenarkan [tindakannya]."