Sugianto, seorang nelayan Indonesia yang memanggulkan hati selama kebakaran hutan di Korea Selatan. Ia dikenal sebagai pahlawan tersembunyi setelah menyelamatkan banyak warga desa dari api membakar kehidupan mereka.
Sugianto, berusia 31 tahun, lahir di Indramayu, Jawa Barat, dan bekerja sebagai nelayan di Korea Selatan sejak 2017. Ia memiliki istri yang juga nelayan dan anak laki-laki bersama keluarganya di Indramayu.
Pada malam 25 Maret 2025, kebakaran hutan besar melanda Kabupaten Yeongdeok, Provinsi Gyeongsang Utara, Korea Selatan. Ia yang bekerja sebagai nelayan saat itu mendapat kabar tentang kebakaran tersebut dan memutuskan untuk bantu menyelamatkan warga desa.
Sugianto menggendong sedikitnya tujuh lansia di punggungnya dan membawa mereka ke titik aman di pemecah gelombang pantai. Ia juga melakukan perjalanan berlari bolak-balik sejauh 300 meter untuk membangunkan warga desa yang masih tidur, bahkan mendaki jalur perbukitan yang curam saat api semakin mendekat.
Dengan tindakan tersebut, Sugianto menyelamatkan seluruh penduduk desa tanpa korban jiwa meskipun sejumlah rumah mengalami kerusakan. Aksinya ini membuat ia dikenal sebagai pahlawan tersembunyi dan menarik perhatian luas media Korea Selatan dan Indonesia.
Atas kontribusi kemanusiaannya, Sugianto bersama dengan dua rekannya, Leo dan Vicky, menerima penghargaan resmi dari Pemerintah Korea Selatan, termasuk pemberian visa tinggal jangka panjang kategori F-2. Ia juga dianugerahi medali dan piagam kehormatan yang diserahkan langsung oleh Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di Cheong Wa Dae.
Sugianto kemudian dianugerahi sebagai Duta Pekerja Migran Indonesia, menjadikannya simbol citra positif PMI di luar negeri.
Sugianto, berusia 31 tahun, lahir di Indramayu, Jawa Barat, dan bekerja sebagai nelayan di Korea Selatan sejak 2017. Ia memiliki istri yang juga nelayan dan anak laki-laki bersama keluarganya di Indramayu.
Pada malam 25 Maret 2025, kebakaran hutan besar melanda Kabupaten Yeongdeok, Provinsi Gyeongsang Utara, Korea Selatan. Ia yang bekerja sebagai nelayan saat itu mendapat kabar tentang kebakaran tersebut dan memutuskan untuk bantu menyelamatkan warga desa.
Sugianto menggendong sedikitnya tujuh lansia di punggungnya dan membawa mereka ke titik aman di pemecah gelombang pantai. Ia juga melakukan perjalanan berlari bolak-balik sejauh 300 meter untuk membangunkan warga desa yang masih tidur, bahkan mendaki jalur perbukitan yang curam saat api semakin mendekat.
Dengan tindakan tersebut, Sugianto menyelamatkan seluruh penduduk desa tanpa korban jiwa meskipun sejumlah rumah mengalami kerusakan. Aksinya ini membuat ia dikenal sebagai pahlawan tersembunyi dan menarik perhatian luas media Korea Selatan dan Indonesia.
Atas kontribusi kemanusiaannya, Sugianto bersama dengan dua rekannya, Leo dan Vicky, menerima penghargaan resmi dari Pemerintah Korea Selatan, termasuk pemberian visa tinggal jangka panjang kategori F-2. Ia juga dianugerahi medali dan piagam kehormatan yang diserahkan langsung oleh Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di Cheong Wa Dae.
Sugianto kemudian dianugerahi sebagai Duta Pekerja Migran Indonesia, menjadikannya simbol citra positif PMI di luar negeri.