Henry Saragih, mantan juru kampanye Nicolas Maduro, yang saat ini menjadi Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) memiliki latar belakang yang unik. Ia lahir di Petumbukan, Deli Serdang, Sumatera Utara pada 11 April 1964 dan memiliki peran penting dalam gerakan petani nasional.
Henry banyak terlibat dengan berbagai kegiatan organisasi edukasi hingga gerakan sosial, termasuk bergabung dengan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FISIP USU dan HMI Komisariat USU saat masih berkuliah. Setelah menjadi sarjana, ia sempat menjadi tenaga lapangan pengorganisasian petani di daerah Asahan dan Labuhan Batu di Yayasan Sintesis Medan pada 1988-1991.
Kepeduliannya pada pertanian mengantarkan Henry menjadi Country Representative on Agriculture Development of ACFOD (Asian Cultural Forum on Development) pada 1990-1996. Ia juga bergabung sebagai anggota Majelis Perwakilan Petani (MPP) Serikat Petani Sumatra Utara pada 1994-1998 dan ditunjuk menjadi Ketua Umum Federasi Serikat Petani Indonesia untuk periode 1998-2003.
Di tingkat internasional, Henry memiliki rekam jejak panjang di forum internasional. Ia pernah menjabat Koordinator Umum La Via Campesina yang merupakan gerakan petani dan buruh internasional. La Via Campesina memiliki anggota sebanyak 180 organisasi petani yang berasal dari 81 negara di Afrika, Asia, Eropa sampai Amerika.
Selain itu, Henry juga tercatat aktif sebagai narasumber di berbagai lembaga negara dan perguruan tinggi. Ia kerap diundang dalam seminar dan diskusi terkait pangan, agraria, dan pembangunan pedesaan. Aktivitas ini memperluas pengaruh gagasannya di ranah kebijakan publik.
Atas kiprahnya, Henry menerima sejumlah penghargaan internasional dan liputan media asing. Ia pernah menerima Global Justice Award dari Institute for Global Justice (IGJ) dan dinobatkan sebagai "50 People Who Could Save The Planet" versi The Guardian pada tahun 2007 dan 2008.
Namun, kini saat ini Henry sangat marah terhadap keadaan Nicolas Maduro yang diculik Amerika Serikat dalam operasi militer di Caracas. Ia menilai insiden ini sebagai preseden berbahaya "imperialisme tanpa topeng".
Henry banyak terlibat dengan berbagai kegiatan organisasi edukasi hingga gerakan sosial, termasuk bergabung dengan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FISIP USU dan HMI Komisariat USU saat masih berkuliah. Setelah menjadi sarjana, ia sempat menjadi tenaga lapangan pengorganisasian petani di daerah Asahan dan Labuhan Batu di Yayasan Sintesis Medan pada 1988-1991.
Kepeduliannya pada pertanian mengantarkan Henry menjadi Country Representative on Agriculture Development of ACFOD (Asian Cultural Forum on Development) pada 1990-1996. Ia juga bergabung sebagai anggota Majelis Perwakilan Petani (MPP) Serikat Petani Sumatra Utara pada 1994-1998 dan ditunjuk menjadi Ketua Umum Federasi Serikat Petani Indonesia untuk periode 1998-2003.
Di tingkat internasional, Henry memiliki rekam jejak panjang di forum internasional. Ia pernah menjabat Koordinator Umum La Via Campesina yang merupakan gerakan petani dan buruh internasional. La Via Campesina memiliki anggota sebanyak 180 organisasi petani yang berasal dari 81 negara di Afrika, Asia, Eropa sampai Amerika.
Selain itu, Henry juga tercatat aktif sebagai narasumber di berbagai lembaga negara dan perguruan tinggi. Ia kerap diundang dalam seminar dan diskusi terkait pangan, agraria, dan pembangunan pedesaan. Aktivitas ini memperluas pengaruh gagasannya di ranah kebijakan publik.
Atas kiprahnya, Henry menerima sejumlah penghargaan internasional dan liputan media asing. Ia pernah menerima Global Justice Award dari Institute for Global Justice (IGJ) dan dinobatkan sebagai "50 People Who Could Save The Planet" versi The Guardian pada tahun 2007 dan 2008.
Namun, kini saat ini Henry sangat marah terhadap keadaan Nicolas Maduro yang diculik Amerika Serikat dalam operasi militer di Caracas. Ia menilai insiden ini sebagai preseden berbahaya "imperialisme tanpa topeng".