Nama Henry Saragih yang ikut membantu Nicolas Maduro meraih kursi presiden Venezuela pada 2013 masih mewakili kenangan masa lalu bagi pria asal Deli Serdang, Sumatera Utara. Nama ini dipertimbangkan sebagai salah satu tokoh penting dalam gerakan petani nasional dan menjadi juru kampanye untuk calon presiden tersebut.
Lahir pada 11 April 1964 di Petumbukan, Deli Serdang, Sumatera Utara, Henry Saragih menempatkan dirinya sebagai Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) yang duduk di pintu gerbang berbagai kebijakan terkait pertanahan dan pertanian. Saat ini ia masih menjadi tokoh penting dalam dunia petani dan aktivis sosial.
Henry memiliki latar belakang pendidikan yang cukup panjang, termasuk Jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Sumatera Utara (USU). Ia pernah bergabung dengan organisasi-organisasi seperti Badan Perwakilan Mahasiswa FISIP USU dan HMI Komisariat USU saat masih berkuliah.
Selain itu, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi edukasi hingga gerakan sosial. Kepeduliannya pada pertanian mengantarkan Henry menjadi Country Representative on Agriculture Development of ACFOD dari 1990-1996. Ia juga bergabung sebagai anggota Majelis Perwakilan Petani (MPP) Serikat Petani Sumatra Utara dan menjadi koordinator umum La Via Campesina dua kali.
Ternyata, Henry Saragih adalah narasumber di berbagai lembaga negara dan perguruan tinggi. Aktivitas ini memperluas pengaruh gagasannya di ranah kebijakan publik.
Atas kiprahnya, Henry menerima sejumlah penghargaan internasional seperti Global Justice Award dari Institute for Global Justice (IGJ) dan dinobatkan sebagai "50 People Who Could Save The Planet" versi The Guardian pada tahun 2007-2008.
Lahir pada 11 April 1964 di Petumbukan, Deli Serdang, Sumatera Utara, Henry Saragih menempatkan dirinya sebagai Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) yang duduk di pintu gerbang berbagai kebijakan terkait pertanahan dan pertanian. Saat ini ia masih menjadi tokoh penting dalam dunia petani dan aktivis sosial.
Henry memiliki latar belakang pendidikan yang cukup panjang, termasuk Jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Sumatera Utara (USU). Ia pernah bergabung dengan organisasi-organisasi seperti Badan Perwakilan Mahasiswa FISIP USU dan HMI Komisariat USU saat masih berkuliah.
Selain itu, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi edukasi hingga gerakan sosial. Kepeduliannya pada pertanian mengantarkan Henry menjadi Country Representative on Agriculture Development of ACFOD dari 1990-1996. Ia juga bergabung sebagai anggota Majelis Perwakilan Petani (MPP) Serikat Petani Sumatra Utara dan menjadi koordinator umum La Via Campesina dua kali.
Ternyata, Henry Saragih adalah narasumber di berbagai lembaga negara dan perguruan tinggi. Aktivitas ini memperluas pengaruh gagasannya di ranah kebijakan publik.
Atas kiprahnya, Henry menerima sejumlah penghargaan internasional seperti Global Justice Award dari Institute for Global Justice (IGJ) dan dinobatkan sebagai "50 People Who Could Save The Planet" versi The Guardian pada tahun 2007-2008.