Nama Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono, yang diprediksi akan menjadi calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), menimbulkan perdebatan di kalangan pengamat tentang masuknya orang partai dalam struktur BI. Pengamat ekonomi Nailul Huda mengungkapkan khawatirannya bahwa Thomas, yang merupakan mantan anggota aktif Partai Gerindra, akan membawa buruk terkait dengan independensi BI.
Nailul percaya bahwa BI harus tetap menjadi instansi yang independen dan bebas intervensi dari campur tangan pemerintah pusat atau pihak mana pun. Menurutnya, krisis akan terjadi jika sektor fiskal dan sektor moneter memburuk karena masuknya Thomas dalam sistem BI.
Sementara itu, pengamat pasar uang dan komiditas Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa Thomas memiliki figur milenial yang cukup bagus dalam masalah keuangan. Ia percaya bahwa Thomas kemungkinan besar dipersiapkan untuk menjadi Gubernur BI dalam lima tahun ke depan.
Ibrahim juga menilai bahwa melemahnya rupiah tidak berkaitan langsung dengan masuknya Thomas dalam bursa Deputi Gubernur BI. Ia mengingatkan bahwa pelemahan mata uang rupiah terus terjadi sejak dilantiknya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) hingga saat ini.
"Rupiah melemah memang karena permasalahan yang sudah komplikasi, kontraksi, baik secara eksternal maupun internal," tuturnya. "Sehingga orang yang mengatakan bahwa Thomas Djiwandono yang ini membuat Rupiah melemah, ini menurut saya tidak. Karena Thomas Djiwandono dicalonkan sebagai Deputi maupun tidak, Rupiah masih akan tetap melemah."
Nailul percaya bahwa BI harus tetap menjadi instansi yang independen dan bebas intervensi dari campur tangan pemerintah pusat atau pihak mana pun. Menurutnya, krisis akan terjadi jika sektor fiskal dan sektor moneter memburuk karena masuknya Thomas dalam sistem BI.
Sementara itu, pengamat pasar uang dan komiditas Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa Thomas memiliki figur milenial yang cukup bagus dalam masalah keuangan. Ia percaya bahwa Thomas kemungkinan besar dipersiapkan untuk menjadi Gubernur BI dalam lima tahun ke depan.
Ibrahim juga menilai bahwa melemahnya rupiah tidak berkaitan langsung dengan masuknya Thomas dalam bursa Deputi Gubernur BI. Ia mengingatkan bahwa pelemahan mata uang rupiah terus terjadi sejak dilantiknya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) hingga saat ini.
"Rupiah melemah memang karena permasalahan yang sudah komplikasi, kontraksi, baik secara eksternal maupun internal," tuturnya. "Sehingga orang yang mengatakan bahwa Thomas Djiwandono yang ini membuat Rupiah melemah, ini menurut saya tidak. Karena Thomas Djiwandono dicalonkan sebagai Deputi maupun tidak, Rupiah masih akan tetap melemah."