Presiden Prabowo Subianto mengundang mantan Menteri Luar Negeri, anggota Komisi I DPR RI, dan akademisi untuk berdiskusi di Istana Kepresidenan Jakarta. Pertemuan ini membahas situasi geopolitik global, termasuk rencana keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace (BoP). Wakil Menteri Luar Negeri Armanatha Nasir mengatakan, presiden menerima jajaran Kementerian Luar Negeri, mantan Menlu dan Wakil Menlu, serta perwakilan lembaga pemikir untuk berdiskusi tentang perkembangan geopolitik terkini.
Eks Menlu Alwi Shihab membenarkan bahwa salah satu topik yang dibahas adalah keikutsertaan Indonesia dalam BoP. Ia mengaku secara pribadi mendukung langkah Indonesia bergabung dalam bohpengingat kepentingannya dapat berkontribusi langsung dalam memperbaiki mekanisme kerja dewan tersebut, termasuk mendorong keterlibatan Palestina secara lebih intens.
"Kalau kita tidak ikut, kita tidak bisa ngomong. Tapi kalau kita di dalam kita bisa ngomong, 'jangan gitu dong, ini kan kita mau memperjuangkan Palestina, jangan Israel saja diperhatikan'," ujar Alwi.
Pertemuan ini juga hadir dengan mantan Menlu era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, seperti Retno Marsudi dan Dinno Patti Djalal. Sejumlah akademisi dan peneliti juga hadir, termasuk Ikrar Nusa Bakti dan Philips Vermonte dari CSIS Jusuf Wanandi.
Eks Menlu Alwi Shihab membenarkan bahwa salah satu topik yang dibahas adalah keikutsertaan Indonesia dalam BoP. Ia mengaku secara pribadi mendukung langkah Indonesia bergabung dalam bohpengingat kepentingannya dapat berkontribusi langsung dalam memperbaiki mekanisme kerja dewan tersebut, termasuk mendorong keterlibatan Palestina secara lebih intens.
"Kalau kita tidak ikut, kita tidak bisa ngomong. Tapi kalau kita di dalam kita bisa ngomong, 'jangan gitu dong, ini kan kita mau memperjuangkan Palestina, jangan Israel saja diperhatikan'," ujar Alwi.
Pertemuan ini juga hadir dengan mantan Menlu era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, seperti Retno Marsudi dan Dinno Patti Djalal. Sejumlah akademisi dan peneliti juga hadir, termasuk Ikrar Nusa Bakti dan Philips Vermonte dari CSIS Jusuf Wanandi.