Presiden Prabowo Subianto menanggapi seruan kritik yang mengatakan dirinya hendak memicu kembali militerisme dalam pemerintahan. Ia menyatakan bahwa kritik dan koreksi adalah hal yang baik dan harus dihargai, meski tidak semua orang dengan pendapatannya.
Ia juga meminta para pakar untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang batas-batas kepemimpinannya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Prabowo berjanji bahwa pemerintahnya selalu terbuka dan terunggul dalam menerima kritik konstruktif dari masyarakat.
Tapi, ia juga ingin menekankan agar kritik tidak berubah menjadi fitnah, karena itu dapat memicu kecurigaan, perpecahan, dan kebencian di tengah-tengah masyarakat. Ia mengingatkan bahwa semua agama tidak mengizinkan fitnah.
Selain itu, Prabowo juga menyinggung ajaran agama Nasrani yang menekankan nilai pengampunan sebagai fondasi kehidupan bersama. Ia ingin menjaga persatuan nasional demi menjaga keberagaman di Indonesia.
Panggilan kepemimpinan Prabowo diperdebatkan apakah otoriter atau tidak, namun ia tetap berjanji untuk selalu mencari kebaikan daripada ketidakbaikan dan ingin persatuan dalam masyarakat.
Ia juga meminta para pakar untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang batas-batas kepemimpinannya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Prabowo berjanji bahwa pemerintahnya selalu terbuka dan terunggul dalam menerima kritik konstruktif dari masyarakat.
Tapi, ia juga ingin menekankan agar kritik tidak berubah menjadi fitnah, karena itu dapat memicu kecurigaan, perpecahan, dan kebencian di tengah-tengah masyarakat. Ia mengingatkan bahwa semua agama tidak mengizinkan fitnah.
Selain itu, Prabowo juga menyinggung ajaran agama Nasrani yang menekankan nilai pengampunan sebagai fondasi kehidupan bersama. Ia ingin menjaga persatuan nasional demi menjaga keberagaman di Indonesia.
Panggilan kepemimpinan Prabowo diperdebatkan apakah otoriter atau tidak, namun ia tetap berjanji untuk selalu mencari kebaikan daripada ketidakbaikan dan ingin persatuan dalam masyarakat.