Pemerintah Republik Indonesia, di bawah kepresidenan Prabowo Subianto, menekankan pentingnya disiplin dalam penyelenggaraan dan pelayanan ibadah haji. Menurut sambutan tertulis Presiden yang dibacakan oleh Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, disiplin adalah fondasi utama dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Pemerintah mengajukan beberapa aspek disiplin yang harus dijalankan petugas haji. Pertama, kepatuhan terhadap regulasi dan peraturan yang berlaku. Kedua, pelaksanaan peran dan kewenangan dengan tepat dan efektif. Ketiga, ketepatan waktu dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Keempat, menjaga etika dan integritas dalam melayani jemaah.
Tanpa disiplin, kata Irfan, kualitas pelayanan haji tidak akan terjaga. Sistem yang baik tidak akan bisa berjalan tanpa disiplin. Petugas haji di Tanah Suci menghadapi tantangan fisik dan emosional, sehingga dituntut tetap tenang, sigap, dan bertanggung jawab.
Ia juga menekankan bahwa tugas petugas haji tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga integritas dan kesadaran bahwa setiap tindakan berdampak langsung pada keselamatan dan kenyamanan jemaah. Pembekalan menjadi bagian penting untuk menyatukan langkah dan memperkuat koordinasi petugas.
Selain disiplin, pidato Prabowo juga menekankan etika dalam melayani jemaah sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Etika melayani harus menjadi pegangan saudara. Pemerintah mengajak seluruh peserta menjadikan pembekalan sebagai ruang belajar dan penguatan komitmen, serta mengukuhkan mereka sebagai Petugas Haji Indonesia 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Dengan demikian, pemerintah berharap bahwa petugas haji dapat memenuhi tugas dengan sepenuh hati, baik dari segi kemampuan teknis maupun integritas dan kesadaran.
Pemerintah mengajukan beberapa aspek disiplin yang harus dijalankan petugas haji. Pertama, kepatuhan terhadap regulasi dan peraturan yang berlaku. Kedua, pelaksanaan peran dan kewenangan dengan tepat dan efektif. Ketiga, ketepatan waktu dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Keempat, menjaga etika dan integritas dalam melayani jemaah.
Tanpa disiplin, kata Irfan, kualitas pelayanan haji tidak akan terjaga. Sistem yang baik tidak akan bisa berjalan tanpa disiplin. Petugas haji di Tanah Suci menghadapi tantangan fisik dan emosional, sehingga dituntut tetap tenang, sigap, dan bertanggung jawab.
Ia juga menekankan bahwa tugas petugas haji tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga integritas dan kesadaran bahwa setiap tindakan berdampak langsung pada keselamatan dan kenyamanan jemaah. Pembekalan menjadi bagian penting untuk menyatukan langkah dan memperkuat koordinasi petugas.
Selain disiplin, pidato Prabowo juga menekankan etika dalam melayani jemaah sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Etika melayani harus menjadi pegangan saudara. Pemerintah mengajak seluruh peserta menjadikan pembekalan sebagai ruang belajar dan penguatan komitmen, serta mengukuhkan mereka sebagai Petugas Haji Indonesia 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Dengan demikian, pemerintah berharap bahwa petugas haji dapat memenuhi tugas dengan sepenuh hati, baik dari segi kemampuan teknis maupun integritas dan kesadaran.