Presiden Prabowo Subianto kembali memperkuat hubungan antara Indonesia dan Australia, kali ini melalui bentuk kerja sama bisnis. Pada pertemuan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dengan Presiden RI, Prabowo mengundang para pengusaha Australia untuk terlibat dalam pembuatan perusahaan patungan (joint venture) di sektor pertanian Indonesia.
Menurut Prabowo, upaya ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional ke depan. "Saya mengundang pihak Australia untuk mengembangkan joint venture di sektor pertanian di kedua negara, guna mendukung upaya Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan kita," kata Prabowo.
Selain itu, Presiden juga mengajak para pengusaha Australia untuk berinvestasi di sektor hilirisasi mineral kritis seperti pengolahan nikel, tembaga, bauksit, dan emas. Namun, terbaliknya, ia mendorong perusahaan Indonesia untuk turut berinvestasi di sektor pertambangan mineral kritis di Australia.
Untuk mendukung tujuan tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah siap menjalin kerja sama dengan mitra di Australia. BPI Danantara bekerja sama dengan para mitranya untuk menjajaki peluang co-investment dan dalam berbagai bentuk kemitraan lainnya.
Selain itu, Prabowo juga mengundang para pendidik Indonesia untuk berperan dalam memperkuat sistem pendidikan nasional melalui program pelatihan dan peningkatan kapasitas. Pada saat yang sama, kedua negara membahas peluang kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan tenaga kerja terampil.
Prabowo juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Australia melalui Austalia Awards-Garuda Scholarship untuk mendukung upaya tersebut. Selain itu, ia menilai Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan mampu membantu memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di Australia.
Dalam kesimpulan, Prabowo Subianto kembali menunjukkan minat Indonesia dalam berbagi kerja sama bisnis dengan negara-negara lain untuk meningkatkan perekonomian dan kemakmuran rakyat.
Menurut Prabowo, upaya ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional ke depan. "Saya mengundang pihak Australia untuk mengembangkan joint venture di sektor pertanian di kedua negara, guna mendukung upaya Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan kita," kata Prabowo.
Selain itu, Presiden juga mengajak para pengusaha Australia untuk berinvestasi di sektor hilirisasi mineral kritis seperti pengolahan nikel, tembaga, bauksit, dan emas. Namun, terbaliknya, ia mendorong perusahaan Indonesia untuk turut berinvestasi di sektor pertambangan mineral kritis di Australia.
Untuk mendukung tujuan tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah siap menjalin kerja sama dengan mitra di Australia. BPI Danantara bekerja sama dengan para mitranya untuk menjajaki peluang co-investment dan dalam berbagai bentuk kemitraan lainnya.
Selain itu, Prabowo juga mengundang para pendidik Indonesia untuk berperan dalam memperkuat sistem pendidikan nasional melalui program pelatihan dan peningkatan kapasitas. Pada saat yang sama, kedua negara membahas peluang kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan tenaga kerja terampil.
Prabowo juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Australia melalui Austalia Awards-Garuda Scholarship untuk mendukung upaya tersebut. Selain itu, ia menilai Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan mampu membantu memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di Australia.
Dalam kesimpulan, Prabowo Subianto kembali menunjukkan minat Indonesia dalam berbagi kerja sama bisnis dengan negara-negara lain untuk meningkatkan perekonomian dan kemakmuran rakyat.