Rupiah Terapresiasi Rp16,754 Per Dolar AS, Ini Apa yang Menjadi Faktor?
Dalam perdagangan hari ini, rupiah terus menguat dan menutup di level Rp16.754 per dolar Amerika Serikat (AS). Penutupan nilai rupiah tersebut meningkat sebesar 44 poin atau 0,26 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.798. Kenaikan ini merupakan hasil dari persepsi investor terhadap kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menyampaikan bahwa Iran tengah membuka pembicaraan dengan Washington terkait proyek nuklir.
Trump juga memperingatkan bahwa kapal perang besar AS yang tengah menuju Iran dapat menyebabkan hal-hal buruk, jika kesepakatan tidak tercapai. Selain itu, pengumuman Trump atas kesepakatan tarif resiprokal terhadap barang-barang India menjadi 18 persen dari 50 persen, serta persetujuan India untuk membeli minyak dari AS dan Venezuela juga berdampak pada penguasan rupiah.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa penguasaan rupiah ini dipengaruhi oleh posisi Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang masih berada di level ekspansi. PMI Manufaktur Indonesia naik dari level 51,2 pada Desember 2025 menjadi 52,6 pada Januari 2026. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan berkelanjutan pada output dan permintaan baru.
Data survei yang dilakukan pada 12-23 Januari 2026 juga memberikan informasi bahwa perusahaan sering mengaitkan kenaikan dengan permintaan pasar atas barang yang meningkat. Kondisi permintaan terlihat didorong oleh perekonomian domestik lantaran permintaan internasional menurun selama lima bulan terakhir.
Dalam perdagangan hari ini, rupiah terus menguat dan menutup di level Rp16.754 per dolar Amerika Serikat (AS). Penutupan nilai rupiah tersebut meningkat sebesar 44 poin atau 0,26 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.798. Kenaikan ini merupakan hasil dari persepsi investor terhadap kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menyampaikan bahwa Iran tengah membuka pembicaraan dengan Washington terkait proyek nuklir.
Trump juga memperingatkan bahwa kapal perang besar AS yang tengah menuju Iran dapat menyebabkan hal-hal buruk, jika kesepakatan tidak tercapai. Selain itu, pengumuman Trump atas kesepakatan tarif resiprokal terhadap barang-barang India menjadi 18 persen dari 50 persen, serta persetujuan India untuk membeli minyak dari AS dan Venezuela juga berdampak pada penguasan rupiah.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa penguasaan rupiah ini dipengaruhi oleh posisi Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang masih berada di level ekspansi. PMI Manufaktur Indonesia naik dari level 51,2 pada Desember 2025 menjadi 52,6 pada Januari 2026. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan berkelanjutan pada output dan permintaan baru.
Data survei yang dilakukan pada 12-23 Januari 2026 juga memberikan informasi bahwa perusahaan sering mengaitkan kenaikan dengan permintaan pasar atas barang yang meningkat. Kondisi permintaan terlihat didorong oleh perekonomian domestik lantaran permintaan internasional menurun selama lima bulan terakhir.