Petugas Haji Harus Miliki Mental Tangguh saat Melayani Jemaah

Petugas PPIH Arab Saudi 2026 harus memiliki mental kuat dan rohani yang tegas untuk bisa melayani jemaah dengan optimal. Kolonel (Purn) Kurniawan Muftiono, Wakil Komandan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PPIH Arab Saudi 2026, menyatakan bahwa mental tangguh itu tidak mudah menyerah.

Untuk mewujudkannya, harus diikuti dengan empat komponen yang beririsan menjadi satu. Pertama, memiliki ideologi bangsa yang teguh pada Pancasila dan cinta tanah air. Kedua, semangat kejuangan dan kejiwaan yang baik. Ketiga, daya juang yang tinggi untuk tidak mudah menyerah, rela berkorban, tahan uji, disiplin, solid, loyal, menepati janji dan memiliki etos kerja yang baik kepada jemaah haji.

"Petugas haji harus mengutamakan kepentingan jemaah dibandingkan kepentingan sendiri," kata Muftiono. Rangkaian diklat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, digelar secara offline mulai 10 Januari hingga 30 Januari, sementara dilanjutkan secara daring dari tanggal 1 sampai dengan 8 Februari.
 
Gak bisa dibayangkan kalau pihak yang dipercaya itu gak punya mental kuat banget untuk melayani jemaah haji. Mereka harus memiliki semangat dan daya juang yang tinggi, bukan cuma sekedar ngerjain aja. Kalau udah punya ideologi bangsa yang tepat dan cinta tanah air, tentu bakalan bisa menyelesaikan tugas dengan optimal.
 
Maksudnya kita harus punya mental yang kuat, tapi gak cuma soal mental aja, kita juga harus punya tubuh yang sehat ya! Jadi, kolonel Kurniawan Muftiono jujur banget kalau mental tangguh itu penting, tapi kita juga harusnya siap bergerak dan ngurus diri kita sendiri, apa lagi kalau kita akan melayani banyak orang lain. Saya rasa dia sudah benar-benar tepat kalau katanya kita harus punya ideologi bangsa yang kuat, nangka tanah airnya kita cintai banget!
 
ini penting ya, untuk jemaah haji kita harus bisa berbagi dan saling mengerti, tapi juga kita harus bisa menentukan batas kita sendiri. karena jika kita terlalu dekat dengan jemaah kita akan kehilangan identitas kita sendiri 🀝🏻. kita harus bisa mencari keseimbangan antara soliditas kita sebagai petugas haji dan kemampuan kita untuk berbagi dan membantu jemaah πŸ™.
 
Koloni ngedakin bakat jemaah yang harus dihormati πŸ™. Makasih buat pihak PPIH Arab Saudi, tapi apa salahnya ya kalau mereka jadi penjajahan lagi? πŸ€” Mereka ada mental kuat, tapi juga ada yang bisa dibilang punya mental lemah. Kalau sekarang kita di Indonesia sudah banyak gini. Saya rasa pihak PPIH harus siap-siapin bakat bukan hanya mental kuat, tapi juga kemampuan luar biasa untuk beradaptasi dengan situasi yang tidak terduga ya? 🀝
 
OH IYAAHKKK! πŸ‘ KASIH SAYANGNYA PALEHA PETUGAS PPIH ARAB SAUDI 2026 YA! πŸ™ MEREKA BIASANYA DILAKUKAN UNTUK TIDAK MUDAH MENyerah, LUAR JANGAN KEJAWANNYA, DAN SEMANGATNYA! πŸ’ͺ PERLU YA, KEMBALIAN PETUGAS NYA PASTI HARGA DI HARGA! 🀝
 
Gue pikir komponen mental yang kuat itu kayak banjir pasaran 🀯! Kalau empat komponen itu ada, jadi mental tangguh aja kalah siapa? πŸ˜‚ Juga seru banget kalau mereka bisa menepati janji dan memiliki etos kerja yang baik. Maksudnya, kita bisa percaya bahwa mereka tidak akan menyerah πŸ™…β€β™‚οΈ. Tapi, jangan lupa, mental kuat itu bukan hanya tentang mental sendiri, tapi juga tentang bagaimana mereka bisa melayani jemaah dengan optimal! πŸ’ͺ. Gue rasa penting banget kalau kita memperhatikan hal ini, karena mental haji pasti akan dipertanyakan πŸ€”.
 
Gue pikir mental kuat itu bukan hanya tentang tidak menyerah, tapi juga tentang bagaimana caranya kita bisa tetap sabar dan tenang ketika situasi menjadi sulit, tapi masih punya jodoh di dalam diri sendiri yang bisa menggali inspirasi dari Pancasila dan cinta tanah air kita. Rencananya, gue akan ikut diklat ini karena saya sendiri pernah menempuh pengalaman yang sedikit sulit ketika gue masih menantu, tapi dengan kerja sama dan dukungan keluarga gue bisa mengatasi masalahnya πŸ™πŸŒΏ
 
Kalau nggak siap, mau ke Saudi bareng jemaah, kan? πŸ€” Masih keren banget asrama haji pondok gede, tapi aku pikir pengajarannya harus diaduk-adukan aja, kalau cuma diklat offline dan daring kayaknya nggak cukup.
 
Gue pikir ini sangat penting banget buat jemaah haji. Petugas PPIH Arab Saudi harus punya mental yang kuat dan bisa menanggung tekanan, karena kita jangan nggak tahu apa yang akan terjadi di sana. Empat komponen itu pasti harus dipraktikkan sih, gue bayangkan kalau petugas haji ini bawa semangat kejuangan dan kejiwaan yang baik, tentu gue percaya bahwa mereka bisa melayani jemaah dengan optimal. Tapi, apa keberanian kita nggak mengejar komponen lainnya juga? Gue rasa perlu kita buat strategi lebih gede sih, seperti latihan mental dan fisik yang kuat sebelum pergi, atau bahkan konsultasi dengan psikiater sih...
 
Hebat banget sih pembicaraan tentang mental kuat dan rohani yang tegas untuk jemaah haji... tapi apa sih dengan perubahan kalender ya? Kalender haji tahun ini mulai 3 Syawal, bukan lagi tanggal 1 Maret seperti sebelumnya. Aku rasa perlu ada klarifikasi dulu kan?
 
Bener, Kolonel Kurniawan Muftiono itu benar-benar sabar dan tekun, tapi gak boleh salah ejaan 'mentral' di antara kita! πŸ™ƒ Mentral yang tegas sih penting deh, tapi harus ada keseimbangan juga, kalau mental terlalu kuat bisa jadi tidak sabar dengan situasi di lapangan.
 
Dipikirnya gini, kalau kita harus melayani jemaah dengan optimal, maka kita harus punya mental yang kuat juga. Tapi, sebenarnya bagaimana kalau kita tidak bisa menyerah? πŸ€” Apa yang membuat kita bisa tetap fokus dan solid? Saya pikir ada beberapa hal penting yang perlu kita pertimbangkan, seperti kekuatan kerja yang baik, disiplin, dan etos kerja. Kita harus bisa mengutamakan kepentingan jemaah di atas diri sendiri juga, tapi bagaimana kalau kita tidak bisa melakukan itu? πŸ€·β€β™‚οΈ Saya harap diklat ini bisa membantu kita meningkatkan mental kuat dan rohani kita, agar kita bisa melayani jemaah dengan optimal. πŸ‘
 
Gue pikir mental kuat itu bukan hanya tentang tidak menyerah, tapi juga tentang memiliki kekuatan dalam mengelola emosi. Gue percaya bahwa penting untuk belajar mengatur diri sendiri sebelum bisa membantu orang lain. Misalnya, gue suka meditasi dan yoga untuk menenangkan pikiran sebelum bekerja. Kalau kita sudah memiliki mental yang kuat, tentu kita bisa melayani jemaah dengan lebih baik πŸ™πŸ’†β€β™€οΈ
 
Gue pikir mereka udah lupa, kalau gue tidak percaya sama sekali... mental kuat itu nggak mudah diperoleh, gue rasa mereka hanya ingin bawa kita ke marada. Mereka bilang apa? Petugas haji harus mengutamakan kepentingan jemaah? Gimana sih? Apa mereka pikir kalau jemaah udah bisa membantu sendiri semuanya? Itu nggak realistis, ya... dan empat komponen itu? Gue rasa itu hanya kata-kata. Gue butuh lihat nyata, bukan hanya bicara-bicara.
 
Gue pikir aja banget kayaknya kalau petugas PPIH harus punya mental kuat dan rohani ya... gimana sih kalau mereka gak punya semangat kejuangan dan tidak bisa menyerah? Jadi, apa yang penting lagi? Gue rasa ada salah capaian dari pengaturan ini. Kalau kita punya ideologi bangsa yang kuat pada Pancasila dan cinta tanah air, tapi mentalnya masih lemah, gimana? Perlu diingatkan juga untuk tidak hanya fokus pada petugas haji, tapi juga jemaah itu sendiri, seperti bagaimana mereka mempersiapkan diri sebelumnya dan memiliki akses ke fasilitas yang baik.
 
gak sabar banget dengar news ini 🀩. saya pikir mental yang kuat itu juga harus diisi dengan cinta dan kasih sayang ya? misalnya saya akan terus mendukung keluarga saya yang masih sibuk bekerja sampai 10 malam, tapi saya tahu mereka juga pernah seperti saya saat ini, kayaknya kita bisa membantu satu sama lain. dan tidak lupa juga kita harus tetap sabar dan mengerti bahwa petugas haji itu memiliki banyak tanggung jawab, misalnya harus menghadapi cuaca yang keras dan masih harus memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah. saya rasa itu semua memang bisa dicapai dengan kerja sama dan saling mendukung, hebat ya! πŸ’–
 
Kalau aku pikir, mental kuat buat petugas PPIH itu wajar, tapi harus jelas apa yang dimaksud "mental kuat". Aku ragu kalau hanya tentang daya juang dan kejiwaan saja tidak cukup, ada lagi faktor lain yang perlu dipertimbangkan seperti kemampuan teknis dan komunikasi yang baik. Juga harus ada penjagaan mental yang baik untuk menghadapi tekanan dan stres yang mungkin dihadapi saat menangani jemaah haji. Aku ingin melihat bagaimana diklat ini akan memberikan latihan yang lebih komprehensif untuk petugas PPIH itu πŸ€”
 
Gue pikir mental yang kuat itu gak cuma tentang banting kantung aja, tapi juga tentang bagaimana kita bisa bertahan dalam situasi ketepungan atau stress. Karena, sih kalau kita gak punya mental yang kuat, kita pasti akan lelah dan gak bisa melayani jemaah dengan optimal. Jadi, diikuti empat komponen itu sumbernya dari apa? Gue pikir itu tentang mengutamakan kepentingan jemaah itu sendiri, bukan hanya tentang bagaimana kita bisa bertahan dalam situasi itu. Kita harus fokus pada apa yang kita lakukan, yaitu melayani jemaah dengan baik. 🀝
 
Mungkin nih, mental kuat seperti itu nggak mudah diperoleh. Perlu ada pelatihan yang serius dan berkelanjutan sih, bukan hanya sekedar diskusi. Dan apa dengan keterlibatan spiritual? Apakah harusnya memiliki iman yang kuat sebelum bergabung dengan program haji? Saya rasa perlu informasi lebih lanjut tentang bagaimana pelatihan ini akan dilakukan agar hasilnya optimal.
 
kembali
Top