Warga Palestina Selalu Menunggu Di Dibuka Perbatasan Gaza-Mesir Baru-baru ini, perbatasan Gaza-Mesir kembali dibuka setelah dua tahun ditutup Israel. Namun, sayangnya hanya sejumlah kecil warga Palestina yang dimungkinkan keluar masuk melalui perbatasan tersebut.
Menurut sumber yang dikutip dari CNN, pembukaan perbatasan ini merupakan bagian dari kesepakatan perdamaian Israel-Hamas yang dimediasi AS pada Oktober 2025 lalu. Namun, warga Palestina masih banyak yang menunggu dengan sabar di depan pintu perbatasan tersebut.
Penyeberangan Rafah sekarang dioperasikan oleh Uni Eropa, Mesir, dan sejumlah pihak lain. Pada hari pertama pembukaan, hanya 50 orang per hari yang diizinkan untuk menyeberangi kawasan perbatasan ini. Ini merupakan kejutan bagi warga Palestina yang telah menunggu dengan sabar selama berpuluh-puluh bulan.
Perlu diingat bahwa sebelum diblokade Israel, penyeberangan Rafah adalah salah satu jalur utama bagi warga Palestina untuk keluar masuk dari Gaza. Namun, setelah Israel memblokade perbatasan tersebut pada Mei 2024 lalu, rakyat Palestina kesulitan mengakses perawatan yang dibutuhkan.
Sekarang, hanya 50 orang yang diperkenankan masuk ke Gaza, sedangkan sebanyak 150 rakyata yang dimungkinkan meninggalkan Gaza setiap harinya. Ini merupakan kesenjangan besar bagi warga Palestina yang masih membutuhkan perawatan dan bantuan.
Salah satu pasien Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Gaza, Ibrahim Al-Batran, menjadi warga yang menunggu pembukaan kawasan perbatasan. Ia pasien penyakit ginjal dan hanya mendapatkan perawatan minimal selama Gaza diblokade Israel.
"Banyak orang telah meninggal saat menunggu perawatan, dan saya mungkin meninggal hari ini, besok, atau lusa selagi menunggu perawatan," kata Al-Batran. "Sampai sekarang, belum ada satu pun pasien yang diizinkan pergi."
Kementerian Kesehatan Palestina menyebut ada lebih dari 20.000 pasien di Gaza yang tengah menunggu izin mengakses perawatan di luar negeri. Sebanyak 440 kasus di antaranya dilaporkan merupakan pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa.
Akibat pembatasan itu pula, hampir 1.300 pasien telah meninggal karena tak bisa mengakses perawatan yang dibutuhkan. Warga Palestina perlu merogoh biaya yang mahal untuk melewati perbatasan dan melalui proses birokrasi yang teramat panjang.
Ketika masih dibuka, rakyat Palestina melaporkan bahwa biaya untuk melewati perbatasan Gaza-Mesir dapat mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah setiap orang. Di tengah genosida yang melenyapkan mata pencaharian banyak warga sipil, biaya tersebut jadi makin tak terjangkau.
Perlu diingat bahwa pembukaan kembali perbatasan Gaza-Mesir merupakan langkah penting bagi warga Palestina untuk mendapatkan perawatan dan bantuan yang dibutuhkan. Namun, masih banyak tugas yang harus dilakukan agar warga Palestina dapat hidup dengan nyaman dan aman.
Menurut sumber yang dikutip dari CNN, pembukaan perbatasan ini merupakan bagian dari kesepakatan perdamaian Israel-Hamas yang dimediasi AS pada Oktober 2025 lalu. Namun, warga Palestina masih banyak yang menunggu dengan sabar di depan pintu perbatasan tersebut.
Penyeberangan Rafah sekarang dioperasikan oleh Uni Eropa, Mesir, dan sejumlah pihak lain. Pada hari pertama pembukaan, hanya 50 orang per hari yang diizinkan untuk menyeberangi kawasan perbatasan ini. Ini merupakan kejutan bagi warga Palestina yang telah menunggu dengan sabar selama berpuluh-puluh bulan.
Perlu diingat bahwa sebelum diblokade Israel, penyeberangan Rafah adalah salah satu jalur utama bagi warga Palestina untuk keluar masuk dari Gaza. Namun, setelah Israel memblokade perbatasan tersebut pada Mei 2024 lalu, rakyat Palestina kesulitan mengakses perawatan yang dibutuhkan.
Sekarang, hanya 50 orang yang diperkenankan masuk ke Gaza, sedangkan sebanyak 150 rakyata yang dimungkinkan meninggalkan Gaza setiap harinya. Ini merupakan kesenjangan besar bagi warga Palestina yang masih membutuhkan perawatan dan bantuan.
Salah satu pasien Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Gaza, Ibrahim Al-Batran, menjadi warga yang menunggu pembukaan kawasan perbatasan. Ia pasien penyakit ginjal dan hanya mendapatkan perawatan minimal selama Gaza diblokade Israel.
"Banyak orang telah meninggal saat menunggu perawatan, dan saya mungkin meninggal hari ini, besok, atau lusa selagi menunggu perawatan," kata Al-Batran. "Sampai sekarang, belum ada satu pun pasien yang diizinkan pergi."
Kementerian Kesehatan Palestina menyebut ada lebih dari 20.000 pasien di Gaza yang tengah menunggu izin mengakses perawatan di luar negeri. Sebanyak 440 kasus di antaranya dilaporkan merupakan pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa.
Akibat pembatasan itu pula, hampir 1.300 pasien telah meninggal karena tak bisa mengakses perawatan yang dibutuhkan. Warga Palestina perlu merogoh biaya yang mahal untuk melewati perbatasan dan melalui proses birokrasi yang teramat panjang.
Ketika masih dibuka, rakyat Palestina melaporkan bahwa biaya untuk melewati perbatasan Gaza-Mesir dapat mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah setiap orang. Di tengah genosida yang melenyapkan mata pencaharian banyak warga sipil, biaya tersebut jadi makin tak terjangkau.
Perlu diingat bahwa pembukaan kembali perbatasan Gaza-Mesir merupakan langkah penting bagi warga Palestina untuk mendapatkan perawatan dan bantuan yang dibutuhkan. Namun, masih banyak tugas yang harus dilakukan agar warga Palestina dapat hidup dengan nyaman dan aman.