Perbatasan Gaza-Mesir Dibuka, Warga Palestina Bisa Menyeberang

Rakyat Palestina Akhirnya Bisa Menyeberang ke Mesir Setelah Perbatasan Gaza Diluncurkan Kembali

Pembukaan perbatasan Gaza-Mesir kembali dibuka pada Senin (2/2/2026) pagi, setelah dua tahun ditutup oleh Israel. Namun, hanya sejumlah kecil rakyat Palestina yang dimungkinkan keluar masuk melalui perbatasan tersebut.

Menurut CNN, pembukaan perbatasan ini merupakan bagian dari kesepakatan perdamaian Israel-Hamas yang dimediasi AS pada Oktober 2025 lalu. Penyeberangan Rafah dioperasikan oleh Uni Eropa, Mesir, dan sejumlah pihak lain.

Pada hari pertama pembukaan, hanya 50 orang per hari yang diizinkan untuk menyeberangi kawasan perbatasan ini, seturut media afiliasi pemerintah Mesir Al Qahera News. Semula, pembukaan akses perbatasan ini akan mengizinkan sebanyak 150 rakyat Palestina meninggalkan Gaza setiap harinya, tetapi hanya 50 orang yang diperkenankan masuk ke Gaza.

Penutupan kawasan perbatasan Gaza-Mesir sebelumnya menjadi kekhawatiran dunia di tengah banyaknya pasien dari berbagai rumah sakit Palestina yang memerlukan pengobatan intensif. Di tengah operasi genosida Israel di Gaza, para pasien tak memiliki akses ke perawatan yang dibutuhkan.

Salah satu pasien Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Gaza, Ibrahim Al-Batran, menjadi warga yang menunggu pembukaan kawasan perbatasan. Ia pasien penyakit ginjal dan hanya mendapatkan perawatan minimal selama Gaza diblokade Israel.

"Banyak orang telah meninggal saat menunggu perawatan, dan saya mungkin meninggal hari ini, besok, atau lusa selagi menunggu perawatan," kata Al-Batran. Sampai sekarang, belum ada satu pun pasien yang diizinkan pergi.

Kementerian Kesehatan Palestina menyebut ada lebih dari 20.000 pasien di Gaza yang tengah menunggu izin mengakses perawatan di luar negeri. Sebanyak 440 kasus di antaranya dilaporkan merupakan pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa.

Akibat pembatasan itu, hampir 1.300 pasien telah meninggal karena tak bisa mengakses perawatan yang dibutuhkan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap bersikeras melarang wilayah itu sebagai jalur pengiriman bantuan kemanusiaan atau barang komersial ke Gaza.
 
Aku pikir ini jadi penipuan luas yang dibuat oleh Amerika dan Eropa untuk mempercepat genosida Israel di Gaza. Apa yang dimaksudkan dengan kesepakatan perdamaian itu, siapa yang benar-benar mengurus hal ini? Aku rasa ini jauh dari asli. Kalau benar, mengapa hanya 50 orang Palestina yang bisa menyeberang ke Mesir, sementara ribuan pasien masih menunggu perawatan? Apakah ada yang dibungkoki di balik kesepakatan ini? Aku akan tetap waspada dan tidak percaya apa pun yang dikatakan oleh lembaga-lembaga internasional. πŸ€”πŸš¨
 
ini juga terjadi di Palestina kan, kalau perbatasan ditutup aja siapa tahu siapa yang bisa keluar masuk? mungkin karena masih ada urusan-urusan yang jadi konflik sama Israel. tapi apa yang bisa dilakukan ya? kan pasien-pasien itu masih banyak dan memang butuh perawatan yang cepat banget! moga-moga gini kabar baiknya, dan semoga semua pasien di Gaza bisa mendapatkan perawatan yang dibutuhkan nanti.
 
ini kabar badak! Palestina akhirnya bisa keluar masuk ke Mesir 🀯 apa kabar dari pasien-pasien yang sudah menunggu perawatan? masih banyak orang yang belum bisa keluar masuk, dan hampir 1.300 orang sudah meninggal karena tak bisa mendapatkan perawatan yang dibutuhkan πŸ˜” memang perlu ada kesepakatan perdamaian yang jujur dan benar-benar membantu rakyat Palestina 🀝

dengan pembukaan kembali perbatasan, kami harap ini bisa menjadi langkah awal untuk meringankan beban pasien-pasien di Gaza dan memberikan mereka kesempatan untuk mendapatkan perawatan yang dibutuhkan πŸ’Š selain itu, saya harap pihak Israel bisa menyesuaikan kebijakan-kebijaksannya dan tidak memblokir akses bantuan kemanusiaan atau barang komersial ke Gaza 🀝 ini adalah momen penting untuk menunjukkan perhatian dan solidaritas dari dunia terhadap rakyat Palestina πŸ’–
 
Pembatasan perbatasan Gaza-Mesir yang baru dibuka itu memang benar-benar salah satu contoh bagaimana sistem pembatasan bisa menjadi sangat membantu bagi orang-orang di Gaza, tapi juga membuat kita khawatir apa yang akan terjadi kalau situasi ini tidak berubah. Rasanya sangat mengerikan jika harus banyak orang Palestina yang harus menunggu lama untuk mendapatkan perawatan yang dibutuhkan, padahal sudah ada banyak pasien yang meninggal karena tidak bisa mendapatnya. Itu memang bukti dari bagaimana pembatasan tersebut benar-benar mengancam nyawa banyak orang Palestina πŸ€•πŸŒŸ
 
Gue penasaran yah, kenapa perbatasan Gaza-Mesir udah dibuka lagi tapi hanya 50 orang Palestina yang bisa keluar masuk? Gimana caranya bisa dibatasi begitu keras? Gue pikir itu tidak adil sama sekali. Pasien-pasien yang membutuhkan perawatan di luar negeri sudah menunggu selama berbulan-bulan, dan apa hasilnya? Hanya 50 orang yang bisa masuk ke Gaza aja. Gimana caranya bisa lebih banyak lagi pasien yang bisa keluar masuk? πŸ€”πŸ˜•
 
Cara ini jadi bikin saya frustrasi banget, 20.000 pasien lagi menunggu izn, tapi hanya 50 orang yang bisa keluar masuk. Itu tidak adil, apalagi kalau kita lihat kondisi pasien-pasien itu, koma mereka yang harus mengharapkan perawatan yang tepat, tapi malah cuma 50 orang yang bisa menikmati kebebasan itu πŸ€¦β€β™‚οΈ. Dan apa itu? Pasien-pasien ini harus menunggu hari-hari panjang lagi, sampai kapan aja pasien ini tidak bisa mendapatkan perawatan yang seharusnya? Semua ini bikin saya marah, jangan sabar-sabar gitu, kan kita ingin lihat pasien-pasien itu mendapatkan perawatan yang tepat πŸ™„.
 
😊 Wah, makanya pasien Palestina itu kayaknya sangat beruntung bisa menyeberang ke Mesir. Tapi, 50 orang per hari still terlalu sedikit kan? πŸ˜• Harus ada jalan keluar agar semuanya bisa mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Semoga perubahan ini bisa membawa harapan bagi pasien-pasien Palestina yang masih menunggu di Gaza 🀞
 
Saya penasaran sih, kenapa perlu jadi begitu sulit aja para korban di Gaza? Saya pikir 50 orang yang bisa keluar masuk itu lumayan sedikit untuk jutaan warga Palestina yang sedang butuh bantuan. Saya harap aja bisa ada solusi yang lebih baik dari itulah, jadi para pasien bisa langsung mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan πŸ€•πŸ’‰.
 
Pernahkah kita pikirkan apa yang terjadi saat kawan kita harus menunggu sampai hari-hari berikutnya untuk mendapatkan bantuan yang penting? Kita jadi tidak sabar dan rasanya. Tapi, perlu diingat bahwa kebahagiaan kita seringkali bergantung pada orang lain. Jika kita merasa sedang menunggu, sebaiknya kita fokus pada apa yang kita bisa lakukan sekarang untuk membantu kawan kita. Misalnya, kita bisa berdoa dan berharap agar bantuan tiba-tiba datang, atau kita bisa mencoba membuat jaringan dengan orang lain untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang situasi tersebut. Kita harus ingat bahwa kita tidak sendirian menemani kawan kita saat sedang dalam kesulitan. πŸ€πŸ’•
 
Aku pikir ini kayaknya salah strategi, perlu kita pertimbangkan lebih baik lagi cara mengatur pasien yang banyak yang ada di Gaza. 20.000 pasien kan itu banyak sekali ! Mungkin harus mempertimbangkan agar perbatasan tersebut dibuka secara teratur dan tidak hanya untuk pas-pas khusus, seperti halnya yang dilakukan pada hari pertama. Kita juga harus ingat, ada banyak orang Palestina lainnya yang belum memiliki kesempatan untuk keluar masuk ke luar Gaza. Apalagi kalau ada warga Palestina yang membutuhkan perawatan khusus di Mesir atau tempat lainnya...
 
ini aja, apa yang terjadi sih? perbatasan gaza-mesir dibuka lagi tapi hanya 50 orang Palestina yang bisa masuk ke gaza, sementara pasien-pasien di rumah sakit juga masih menunggu pengobatan intensif... itu seperti mainan politik, gak? asusila, apa yang asusila dari kesepakatan perdamaian itu? siapa yang benar-benar memikirkan kesejahteraan rakyat Palestina? πŸ€”
 
Gue rasa ni kalau Israel lagi sering ngegagah Palestina, tapi ternyata ada kesepakatan perdamaian yang jadi sorotan. Tapi siapa tau aja Israel justru sengaja nyebutkan hal ini untuk membenarkan diri sendiri, bukan utuh mau lakukan sesuatu yang baik. 50 orangPalestina aja yang bisa keluar masuk, tapi bagaimana kalau ada lagi? Apalagi pasien-pasien yang sudah kalah di sini, gue rasa mereka udah tidak perlu lagi menunggu. Dan Israel masih bersikeras melarang wilayah itu, jadi apa aja yang gak adil sih.
 
ini kayaknya gini, Israel malah memperlambatkan peristiwanya nih, 2 tahun sebelumnya aja di tutup perbatasan, dan kemarin kembali dibuka, tapi masih banyak yang tidak bisa keluar masuk... kalau sih itu aja satu hal, tapi apa dengan pasien-pasien yang harus pergi luar negeri? gimana caranya mereka bisa nggak langsung aja diizinkan? sepertinya Israel malah mau mengeksploitasi keadaan ini...
 
Apa mau dengerin kabar ini sih? Jadi, Palestina akhirnya bisa menyeberang ke Mesir, tapi hanya 50 orang per hari yang diizinkan keluar masuk aja, kayak ngerasa ada batas waktu untuk keluar rumah juga πŸ˜‚. Dan siapapun yang mau keluar, pasti harus menunggu dan menunggu, kayak di penjara. Lalu apa tujuannya kalau gak bisa keluar? πŸ€”

Dan aku sambut baik aja, tapi mungkin perlu diperhatikan juga pasien-pasien yang ada di Gaza, di mana lagi mereka harus menunggu perawatan, kayak tidak ada esok harinya? 😨. Dan gini juga, siapa nanti akan bertanggung jawab kalau ada yang meninggal karena tidak bisa mendapatkan perawatan yang dibutuhkan? πŸ€”

Aku rasa gini saja nih, kita harus selalu berbicara tentang hal-hal yang penting, tapi mungkin kita lupa sih tentang orang-orang yang benar-benar membutuhkannya. πŸ™
 
aku kayaknya penasaran apa rencana nanti kalau pasien-pasien yang menunggu perawatan di luar negeri bisa keluar masuk gaza? rasanya tidak adil banget kalau hanya 50 orang aja yang bisa keluar masuk, tapi ada ratusan pasien lain yang masih menunggu. aku pikir harus ada jalan solusi yang lebih baik dari ini...
 
Pernah kenapa gini ya? Kita lihat aja, perbatasan Gaza-Mesir dibuka kembali, tapi siapa yang bisa ngerjain masuknya? Hanya 50 orang per hari, itu kayak pengajuan surat tanda kelangsungan hidup aja! Siap-siap kawan, banyak pasien di Gaza yang tunggu perawatan intensif, tapi apa yang terjadi? Tidak ada satu pun pasien yang bisa ngerjain masuk ke luar!

Dan kamu coba bayangkan, ada lebih dari 20.000 pasien di Gaza yang menunggu izin mengakses perawatan di luar negeri! Itu kayak benang-benang hati yang tergantung pada keringat orang lain! Dan apa hasilnya? Hampir 1.300 pasien gede-gede, walaupun hanya sebagian kecil yang bisa ngerjain masuk.

Pernah ada kesan bahwa kita lihat di TV aja, tapi di balik layar itu apa yang terjadi dengan nyawa manusia? Perlu diingat juga, perbatasan yang dibuka itu masih dikelilingi oleh konflik dan politik. Jadi, siapa yang bisa ngerjain masuknya? Siapa yang bisa mengatur masalah ini? Kita harus ingat bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi keseluruhan masalah ini πŸ€”
 
Saya rasa ini sama aja ya,Israel terus membatasi Gaza sehingga pasien yang butuh perawatan di luar negeri harus menunggu sampai kapan? Saya pikir mereka sudah bosan lupa bahwa manusia masih ada di sini... πŸ€¦β€β™‚οΈπŸš‘ Kondisi yang ada sekarang ini sama aja, pasien-pasien yang butuh perawatan tetap menunggu dan meninggal karena tidak bisa mendapatkan perawatan yang tepat. Tapi apakah Indonesia akan memaafkannya? πŸ€”
 
iya, aku paham kan siapa yang harus masuk ke gaza, tapi kenapa lagi perbatasan dioperasikan dengan begitu lambat? mungkin karena semua pihak yang terlibat punya kepentingan sendiri. apa salahnya kalau kita buat jadwal yang lebih seragam dan pastikan pasien-pasien itu mendapatkan perawatan yang tepat waktu. saya pikir 50 orang per hari kurang dari jumlah yang benar, tapi mungkin itu bisa diatur nanti setelah ada pengalaman.
 
ini sangat sedih sekali pembukaan perbatasan Gaza-Mesir terlambat sekali, lalu juga hanya 50 orang Palestina yang bisa keluar masuk, tapi pasien-pasien di Gaza masih banyak yang menunggu perawatan yang dibutuhkan, padahal sudah banyak yang meninggal karena tak bisa langsung ke rumah sakit.

apa yang membuat Israel tidak mau membuka kembali perbatasan itu? mereka udah sangat berat sekali pembatasan itu. dan benar-benar memikirkan kemanusiaan ya?
 
kembali
Top