Bom Menembus Desa Pengungsian, 21 Orang Tewas di Bhamo, Myanmar
Serangan udara militer Myanmar yang diluncurkan pada Kamis terhadap sebuah desa di wilayah Kachin, Myanmar, telah menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai puluhan lainnya. Desa Hteelin yang menjadi tempat perlindungan warga pengungsi ini merupakan salah satu lokasi pengungsian bagi ratusan warga yang terdampak konflik bersenjata di Myanmar.
Menurut juru bicara KIA, Kolonel Naw Bu, sebuah jet tempur militer menjatuhkan bom ke sebuah kompleks tempat warga berkumpul untuk berdoa bagi orang-orang yang telah meninggal, yang juga berfungsi sebagai kamp pengungsi. Kompleks tersebut juga berupa sekolah dan pasar desa.
"Jet tempur mengebom sebuah kompleks tempat para pelayat berkumpul untuk doa bagi orang yang meninggal, sebuah kamp bagi pengungsi, juga sebuah sekolah dan pasar desa," kata Naw Bu.
Saat serangan terjadi, sekitar 500 orang, termasuk warga yang mengungsi dari daerah lain, berada di desa tersebut. Selain 21 orang tewas, sebanyak 28 orang lainnya dilaporkan terluka, termasuk seorang bayi. Beberapa korban berada dalam kondisi kritis.
Serangan ini terjadi menjelang putaran ketiga dan terakhir dari pemilu tiga tahap yang direncanakan oleh pemerintah militer Myanmar. Bhamo merupakan salah satu dari tiga wilayah di Kachin yang dijadwalkan menggelar pemungutan suara.
Pemilu ini hanya akan berlangsung di 61 dari total 330 wilayah administratif di Myanmar. Namun, Naw Bu menegaskan bahwa pelaksanaan pemilu di Bhamo kemungkinan besar tidak dapat dilakukan karena pusat kota berada di bawah kendali KIA dan pasukan sekutu.
Pemilu di Myanmar telah menjadi isu kontroversial setelah militer merebut kekuasaan dari pemerintahan terpilih pimpinan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021. Kudeta tersebut memicu gelombang protes besar-besaran di seluruh negeri.
Setelah aksi demonstrasi damai dibubarkan dengan kekerasan mematikan, banyak penentang pemerintahan militer kemudian mengangkat senjata. Sejak itu, sebagian besar wilayah Myanmar terjerumus dalam konflik bersenjata.
Menurut data yang dikompilasi oleh sejumlah organisasi non-pemerintah, lebih dari 7.700 orang diperkirakan telah tewas akibat tindakan aparat keamanan sejak kudeta.
Pemerintah militer juga disebut telah meningkatkan intensitas serangan udara terhadap kelompok bersenjata pro-demokrasi, termasuk People's Defense Force (PDF), serta kelompok-kelompok pemberontak etnis yang selama puluhan tahun menuntut otonomi lebih besar dari pemerintah pusat.
KIA merupakan salah satu kelompok pemberontak etnis paling berpengaruh di Myanmar. Kelompok ini diketahui memproduksi sebagian senjatanya sendiri dan memiliki hubungan aliansi longgar dengan milisi pro-demokrasi yang melawan pemerintahan militer.
Pada akhirnya, serangan bom menembus desa pengungsian di Bhamo, Myanmar, menandakan bagaimana kekerasan dan konflik bersenjata terus memicu kerusakan dan kematian di negara yang sudah lama mengalami kesulitan politik dan ekonomi.
Serangan udara militer Myanmar yang diluncurkan pada Kamis terhadap sebuah desa di wilayah Kachin, Myanmar, telah menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai puluhan lainnya. Desa Hteelin yang menjadi tempat perlindungan warga pengungsi ini merupakan salah satu lokasi pengungsian bagi ratusan warga yang terdampak konflik bersenjata di Myanmar.
Menurut juru bicara KIA, Kolonel Naw Bu, sebuah jet tempur militer menjatuhkan bom ke sebuah kompleks tempat warga berkumpul untuk berdoa bagi orang-orang yang telah meninggal, yang juga berfungsi sebagai kamp pengungsi. Kompleks tersebut juga berupa sekolah dan pasar desa.
"Jet tempur mengebom sebuah kompleks tempat para pelayat berkumpul untuk doa bagi orang yang meninggal, sebuah kamp bagi pengungsi, juga sebuah sekolah dan pasar desa," kata Naw Bu.
Saat serangan terjadi, sekitar 500 orang, termasuk warga yang mengungsi dari daerah lain, berada di desa tersebut. Selain 21 orang tewas, sebanyak 28 orang lainnya dilaporkan terluka, termasuk seorang bayi. Beberapa korban berada dalam kondisi kritis.
Serangan ini terjadi menjelang putaran ketiga dan terakhir dari pemilu tiga tahap yang direncanakan oleh pemerintah militer Myanmar. Bhamo merupakan salah satu dari tiga wilayah di Kachin yang dijadwalkan menggelar pemungutan suara.
Pemilu ini hanya akan berlangsung di 61 dari total 330 wilayah administratif di Myanmar. Namun, Naw Bu menegaskan bahwa pelaksanaan pemilu di Bhamo kemungkinan besar tidak dapat dilakukan karena pusat kota berada di bawah kendali KIA dan pasukan sekutu.
Pemilu di Myanmar telah menjadi isu kontroversial setelah militer merebut kekuasaan dari pemerintahan terpilih pimpinan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021. Kudeta tersebut memicu gelombang protes besar-besaran di seluruh negeri.
Setelah aksi demonstrasi damai dibubarkan dengan kekerasan mematikan, banyak penentang pemerintahan militer kemudian mengangkat senjata. Sejak itu, sebagian besar wilayah Myanmar terjerumus dalam konflik bersenjata.
Menurut data yang dikompilasi oleh sejumlah organisasi non-pemerintah, lebih dari 7.700 orang diperkirakan telah tewas akibat tindakan aparat keamanan sejak kudeta.
Pemerintah militer juga disebut telah meningkatkan intensitas serangan udara terhadap kelompok bersenjata pro-demokrasi, termasuk People's Defense Force (PDF), serta kelompok-kelompok pemberontak etnis yang selama puluhan tahun menuntut otonomi lebih besar dari pemerintah pusat.
KIA merupakan salah satu kelompok pemberontak etnis paling berpengaruh di Myanmar. Kelompok ini diketahui memproduksi sebagian senjatanya sendiri dan memiliki hubungan aliansi longgar dengan milisi pro-demokrasi yang melawan pemerintahan militer.
Pada akhirnya, serangan bom menembus desa pengungsian di Bhamo, Myanmar, menandakan bagaimana kekerasan dan konflik bersenjata terus memicu kerusakan dan kematian di negara yang sudah lama mengalami kesulitan politik dan ekonomi.