Perang di Teluk Mulai Berpotensi, Trump Minta Iran Menyelesaikan Kesepakatan Nuklir
Presiden AS Donald Trump kembali mengancam Iran, menuntut mereka agar segera mencapai kesepakatan energi nuklir dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini dilakukan dalam media sosialnya, di mana Trump menyebutkan bahwa waktu perundingan sudah hampir habis.
Presiden AS berbicara menyerukan Iran agar "duduk di meja perundingan" dan melakukan negosiasi yang adil serta setara tanpa senjata nuklir. Pernyataan ini juga ditambahkan dengan ancaman armada perang AS, yang saat ini telah tiba di Teluk.
Berdasarkan pantauan citra satelit, minimal 15 jet tempur AS telah tiba di Pangkalan Udara Muwaffaq Yordania. Peningkatan jumlah pesawat AS juga terjadi di Qatar dan pangkalan militer Diego Garcia di Samudera Hindia.
Iran menegaskan bahwa mereka terbuka untuk dialog terkait nuklir dengan AS, namun hanya jika dilakukan dengan cara yang benar. Menurut Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, dialog itu bukanlah "jenis pembicaraan yang diinginkan Presiden AS; ia hanya ingin memaksakan [kehendaknya]".
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyuarakan sikap terbuka akan dialog. Namun, menekankan bahwa kesepakatan itu harus dilandasi asas kesetaraan dan bebas dari paksaan, ancaman, dan intimidasi.
"Sedangkan yang menjamin hak Iran atas teknologi nuklir damai, dan menjamin tidak ada senjata nuklir," tulis Araghchi.
Presiden AS Donald Trump kembali mengancam Iran, menuntut mereka agar segera mencapai kesepakatan energi nuklir dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini dilakukan dalam media sosialnya, di mana Trump menyebutkan bahwa waktu perundingan sudah hampir habis.
Presiden AS berbicara menyerukan Iran agar "duduk di meja perundingan" dan melakukan negosiasi yang adil serta setara tanpa senjata nuklir. Pernyataan ini juga ditambahkan dengan ancaman armada perang AS, yang saat ini telah tiba di Teluk.
Berdasarkan pantauan citra satelit, minimal 15 jet tempur AS telah tiba di Pangkalan Udara Muwaffaq Yordania. Peningkatan jumlah pesawat AS juga terjadi di Qatar dan pangkalan militer Diego Garcia di Samudera Hindia.
Iran menegaskan bahwa mereka terbuka untuk dialog terkait nuklir dengan AS, namun hanya jika dilakukan dengan cara yang benar. Menurut Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, dialog itu bukanlah "jenis pembicaraan yang diinginkan Presiden AS; ia hanya ingin memaksakan [kehendaknya]".
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyuarakan sikap terbuka akan dialog. Namun, menekankan bahwa kesepakatan itu harus dilandasi asas kesetaraan dan bebas dari paksaan, ancaman, dan intimidasi.
"Sedangkan yang menjamin hak Iran atas teknologi nuklir damai, dan menjamin tidak ada senjata nuklir," tulis Araghchi.