Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memanah kembali tarif impor Korsel dengan besarnya 25 persen. Penyebab utama dari kenaikan tarif ini adalah karena negara itu tidak meratifikasi perjanjian perdagangan yang telah disepakati oleh Washington dan Seoul.
Menurut Trump, badan legislatif Korea Selatan tidak memenuhi kesepakatan dengan Amerika Serikat. Perjanjian perdagangan tersebut telah diajukan ke Majelis Nasional Korsel pada 26 November 2025 lalu dan masih ditinjau.
Perekonomian Korea Selatan akan menjadi lesu jika kenaikan tarif impor tetap diberlakukan dan tidak ada kesepakatan baru dalam negosiasi lanjutan. Pada tahun 2025, perekonomian Korsel tumbuh sebesar 1 persen usai kontraksi 0,3 persen pada kuartal terakhir.
Industri mobil dan mesin Korea Selatan sangat mengandalkan AS sebagai salah satu negara tujuan ekspor utama setelah Cina. Pada tahun 2025 lalu, ekspor Korsel ke AS mencapai USD122,9 miliar.
Sementara itu, pemerintah Korea Selatan telah menunjukkan kesadaran untuk berinvestasi lebih banyak di AS. Namun, keterlambatan dalam proses legislasi masih menjadi hambatan utama dalam usaha meningkatkan hubungan ekonomi antara kedua negara ini.
Pertemuan antara Direktur Kebijakan Nasional Kantor Kepresidenan Korsel Kim Yong Beom dan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dijadwalkan untuk membahas pengumuman kenaikan tarif impor.
Menurut Trump, badan legislatif Korea Selatan tidak memenuhi kesepakatan dengan Amerika Serikat. Perjanjian perdagangan tersebut telah diajukan ke Majelis Nasional Korsel pada 26 November 2025 lalu dan masih ditinjau.
Perekonomian Korea Selatan akan menjadi lesu jika kenaikan tarif impor tetap diberlakukan dan tidak ada kesepakatan baru dalam negosiasi lanjutan. Pada tahun 2025, perekonomian Korsel tumbuh sebesar 1 persen usai kontraksi 0,3 persen pada kuartal terakhir.
Industri mobil dan mesin Korea Selatan sangat mengandalkan AS sebagai salah satu negara tujuan ekspor utama setelah Cina. Pada tahun 2025 lalu, ekspor Korsel ke AS mencapai USD122,9 miliar.
Sementara itu, pemerintah Korea Selatan telah menunjukkan kesadaran untuk berinvestasi lebih banyak di AS. Namun, keterlambatan dalam proses legislasi masih menjadi hambatan utama dalam usaha meningkatkan hubungan ekonomi antara kedua negara ini.
Pertemuan antara Direktur Kebijakan Nasional Kantor Kepresidenan Korsel Kim Yong Beom dan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dijadwalkan untuk membahas pengumuman kenaikan tarif impor.