Honda Prelude 2026, kembali ke panggung! Setelah lama absen, coupe legendaris ini hadir dengan desain modern dan teknologi hybrid yang menekankan efisiensi dan kenyamanan. Tetapi, angka penjualannya di Amerika Serikat masih jauh dari yang diharapkan.
Total penjualan Prelude 2026 di AS hanya mencapai 204 unit, dengan 174 unit di antaranya terjual pada Desember lalu. Ini bisa disebut sebagai penjualan rendah jika dibandingkan dengan ekspektasi pasar. Maka, apa penyebabnya? Ada beberapa alasan yang perlu dikaji lebih dekat.
Pertama, harga awal Prelude 2026 sekitar USD 42.000 atau Rp 702 juta ini memang agak tinggi dibandingkan dengan rival lain seperti Toyota GR86, Subaru BRZ, dan Mazda MX-5 Miata. Harga yang lebih terjangkau bisa membuat konsumen lebih tertarik. Kedua, pendekatan hybrid ini mungkin membuat sebagian penggemar mobil sport merasa Prelude kurang agresif dibanding dengan coupe sport konvensional yang fokus pada performa dan sensasi berkendara.
Terakhir, Honda tidak memproduksi Prelude dalam volume besar. Ini membuat angka penjualan awal tampak kecil, meskipun sebagian konsumen harus menunggu jadwal pengiriman yang cukup lama. Strategi ini benar-benar membuat Prelude harus bersaing di segmen yang sempit.
Meskipun demikian, performa Prelude 2026 di Jepang dan Indonesia memang masih menarik. Maka, apakah Prelude 2026 bisa meningkatkan penjualannya dengan strategi yang tepat? Akan tetap dipantau!
Total penjualan Prelude 2026 di AS hanya mencapai 204 unit, dengan 174 unit di antaranya terjual pada Desember lalu. Ini bisa disebut sebagai penjualan rendah jika dibandingkan dengan ekspektasi pasar. Maka, apa penyebabnya? Ada beberapa alasan yang perlu dikaji lebih dekat.
Pertama, harga awal Prelude 2026 sekitar USD 42.000 atau Rp 702 juta ini memang agak tinggi dibandingkan dengan rival lain seperti Toyota GR86, Subaru BRZ, dan Mazda MX-5 Miata. Harga yang lebih terjangkau bisa membuat konsumen lebih tertarik. Kedua, pendekatan hybrid ini mungkin membuat sebagian penggemar mobil sport merasa Prelude kurang agresif dibanding dengan coupe sport konvensional yang fokus pada performa dan sensasi berkendara.
Terakhir, Honda tidak memproduksi Prelude dalam volume besar. Ini membuat angka penjualan awal tampak kecil, meskipun sebagian konsumen harus menunggu jadwal pengiriman yang cukup lama. Strategi ini benar-benar membuat Prelude harus bersaing di segmen yang sempit.
Meskipun demikian, performa Prelude 2026 di Jepang dan Indonesia memang masih menarik. Maka, apakah Prelude 2026 bisa meningkatkan penjualannya dengan strategi yang tepat? Akan tetap dipantau!