Penipuan QR Code Semakin Ramai, FBI Bawa Dampak Keselamatan Online
Pelaku penipu yang menggunakan kode QR sebagai alat serangan semakin ramai seiring dengan munculnya teknologi yang lebih canggih. Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan lembaga keamanan internasional seperti FBI telah mengingatkan warga tentang bahaya penipuan QR code.
Menurut laporan, Kimsuky, kelompok ancaman yang dilaporkan berafiliasi dengan Biro Intelijen Umum (RGB) Korea Utara, telah menargetkan berbagai lembaga penting pemerintahan dan think tank AS sepanjang tahun 2025. Mereka menggunakan serangan spear-phishing yang melibatkan kode QR berbahaya untuk mengakses kuesioner dalam email.
Korban yang terjebak dalam penipuan ini akan beralih dari mesin yang lebih aman ke perangkat seluler dengan tidak perlindungan yang serupa, sehingga pelaku dapat melewati celah keamanan yang terbuka. Penipu juga menggunakan peniruan identitas karyawan lembaga pemerintahan dan think tank untuk mengirimkan email ke firma penasihat strategis.
Pemerintah AS telah mengecam Kimsuky pada Mei 2024, ketika kelompok peretas diklaim telah mengeksploitasi kebijakan DMARC yang dikonfigurasi secara tidak benar. Eksploitasi itu membuat email palsu yang dikirimkan seperti berasal dari domain yang sah.
FBI juga telah mengingatkan warga tentang bahaya penipuan QR code dan meminta mereka untuk hati-hati dalam memindai kode QR. Mereka juga disarankan untuk tidak memindai kode QR dari email yang tidak dikenal, serta menggunakan perangkat yang lebih aman untuk mengakses informasi online.
Dalam keselamatan online, penting untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam menghadapi penipuan seperti ini. Dengan menggunakan teknologi yang canggih dan memahami bahaya penipuan QR code, kita dapat menjaga keselamatan online dan mencegah diri dari serangan seperti ini.
Pelaku penipu yang menggunakan kode QR sebagai alat serangan semakin ramai seiring dengan munculnya teknologi yang lebih canggih. Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan lembaga keamanan internasional seperti FBI telah mengingatkan warga tentang bahaya penipuan QR code.
Menurut laporan, Kimsuky, kelompok ancaman yang dilaporkan berafiliasi dengan Biro Intelijen Umum (RGB) Korea Utara, telah menargetkan berbagai lembaga penting pemerintahan dan think tank AS sepanjang tahun 2025. Mereka menggunakan serangan spear-phishing yang melibatkan kode QR berbahaya untuk mengakses kuesioner dalam email.
Korban yang terjebak dalam penipuan ini akan beralih dari mesin yang lebih aman ke perangkat seluler dengan tidak perlindungan yang serupa, sehingga pelaku dapat melewati celah keamanan yang terbuka. Penipu juga menggunakan peniruan identitas karyawan lembaga pemerintahan dan think tank untuk mengirimkan email ke firma penasihat strategis.
Pemerintah AS telah mengecam Kimsuky pada Mei 2024, ketika kelompok peretas diklaim telah mengeksploitasi kebijakan DMARC yang dikonfigurasi secara tidak benar. Eksploitasi itu membuat email palsu yang dikirimkan seperti berasal dari domain yang sah.
FBI juga telah mengingatkan warga tentang bahaya penipuan QR code dan meminta mereka untuk hati-hati dalam memindai kode QR. Mereka juga disarankan untuk tidak memindai kode QR dari email yang tidak dikenal, serta menggunakan perangkat yang lebih aman untuk mengakses informasi online.
Dalam keselamatan online, penting untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam menghadapi penipuan seperti ini. Dengan menggunakan teknologi yang canggih dan memahami bahaya penipuan QR code, kita dapat menjaga keselamatan online dan mencegah diri dari serangan seperti ini.