Pemprov Riau Beri Tenggat 3 Bulan Tumbangkan Sawit di Tesso Nilo

Pemprov Riau Beri Tenggat 3 Bulan Tumbangkan Sawit di Kawasan Tesso Nilo

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau telah memberikan tenggat waktu tiga bulan kepada pihak-pihak yang menguasai lahan di Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, untuk menumbangkan tanaman kelapa sawit secara mandiri. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, pihaknya telah memberikan teguran kepada mereka yang menguasai lahan tersebut dan menyarankan untuk menumbangkan sawit dengan pola memberi racun.

"Kami sudah beri teguran pada 15 orang itu untuk segera memusnahkan. Kami memberikan waktu tiga bulan untuk menumbangkan dengan pola mengasih racun," kata Hariyanto di Pekanbaru, Kamis (22/1/2026).

Pemprov Riau telah menyiapkan lahan pengganti seluas 630 hektare tahun 2026 di Kabupaten Kuantan Singingi dan Pelalawan. Harapannya ini bisa segera dilakukan dengan pendekatan yang humanis pada warga yang direlokasi maupun sekitar lahan pengganti.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menyampaikan bahwa Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI tengah menyiapkan lahan pengganti dengan pola skema perhutanan sosial atau hutan kemasyarakatan untuk relokasi warga dari kawasan TNTN.
 
Hmm, ternyata Pemprov Riau jadi sini lagi πŸ™„... Aku pikir sudah selesai deh kasus sawit di Tesso Nilo, tapi jadi tidak πŸ˜…. Aku punya kesan bahwa ini cuma cerita yang sama setiap kali, yaitu pemerintah memberikan teguran dan waktu untuk menumbangkan sawit, tapi masih banyak lagi yang menguasai lahan tersebut πŸ€”.

Aku rasa Pemprov Riau harus lebih sabar dan tidak terburu-buru, karena ini kasus yang sulit πŸ™ƒ. Lahan pengganti yang disiapkan 630 hektare itu bagus, tapi aku masih ragu apakah ini cukup untuk mengganti lahan sawit yang rusak πŸ€·β€β™‚οΈ.

Aku ingat kembali saat ini berbeda dengan saat sebelumnya, waktu Pemprov Riau memberikan teguran kepada pengusaha sawit dan meminta mereka menumbangkan sawit secara mandiri. Aku rasa ini sama-sama cerita yang tidak pernah berakhir πŸ“š...
 
πŸŒ΄πŸ‘Ž Bayangkan aja kalau 3 bulan saja, semua sawit di Tesso Nilo itu sudah habis, tapi sayangnya gak ada tanaman lain yang bisa dipertahankan, cuma kelapa sawit aja πŸŒ³πŸ’”. Dan kalau mereka bilang harus memberi racun, euy, itu gak enak banget untuk lingkungan dan warga sekitar ya, apa lagi jika kita gak tahu apa racun itu? 🀯 Mungkin baik-baik saja, tapi aku pikir lebih baik biarkan sawit itu dibuat jadi hutan yang asri dan hijau, jadi warga bisa jalan-jalan di sana dan menikmati alam sekitar 😊.
 
Gue sibuknya sama hari ini, luar rumah gue aja ngobrol sama temen-temen di grup Facebook gue, kayaknya kita bisa jadi pihak yang menentukan apakah sawit di Tesso Nilo bisa ditumbangkan atau tidak, hehe πŸ˜‚. Gue lihat Plt Gubernur Riau aja memberikan teguran ke 15 orang itu, tapi gue pikir ini hanya cari cara buat mengalihkan perhatian dari gue dan temen-temen kita yang lebih peduli dengar kabar tentang sawit di sana 🀣. Gue sendiri aja udah ngebawa sawit di rumah gue 5 tahun yang lalu, kayaknya gue juga bisa jadi salah satu yang ditentukan apakah harus ditumbangkan atau tidak 😜.
 
Mana nih, pertanyaan saya lagi πŸ€”! Apakah benar-benar baik kalau pemerintah Riau memaksa sawit di Tesso Nilo itu? Aku pikir biarkan warga Riau itu sendiri yang menentukan apa yang harus dilakukan dengan lahan mereka. Bagaimana kalau kita cari cara lain, seperti bisa menggunakan teknologi untuk mengendalikan penanaman kelapa sawit? Atau misalnya, bagaimana kalau kita cari cara membuat sistem perhutanan yang lebih baik dan berkelanjutan? Aku rasa tapi pemerintah Riau itu ada tujuan yang tidak terbuka di balik keputusan ini... πŸ€”πŸŒ³
 
Pemprov Riau gini, aku pikir cara ini kurang tepat. Mereka yang punya lahan harus pindah dulu, tapi mereka justru mau menanam sawit lagi. Tapi, aku setuju dengan keputusan ini. Kawasan TNTN itu penting banget untuk konservasi. Aku harap pihak-pihak yang terlibat bisa melakukan perubahan dengan cara yang benar dan tidak mempengaruhi lingkungan. 😊
 
Aku pikir itu penyelesaian yang bagus banget, tapi aku masih ragu tentang cara mereka bakal lakukan. Tapi kalau mau nyembur racun, itu pasti bisa mengguncang lingkungan sekitar. Aku harap pihak yang berwenang bisa bantu warga yang akan direlokasi dengan cara yang lebih humanis, misalnya bantu mereka belajar keterampilan baru atau memberikan sumber daya pendidikan yang baik.
 
Gue rasa ini penting banget. Proses tumbangan sawit di Tesso Nilo harus diatur dengan baik nih, agar tidak ada yang merusak lingkungan 🌿. Pemerintah Riau harus berhati-hati dalam penyiapan lahan pengganti, jadi pastikan sudah siap dan tidak akan merosakkan warga atau lingkungan sekitar. Gue harap pihaknya juga harus memastikan bahwa proses tumbangan sawit dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan, agar Tesso Nilo tetap hijau dan indah 🌸.
 
aku penasaran apa yang terjadi di Tesso Nilo, kalau sawit itu berburu habitat asli seperti harimau sumatera dan gajah ya... tapi aku lihat ada pemerintah Riau yang ingin banjirin sawit di sana, tapi ini salah arah, apa yang mereka lakukan sih?
 
Gue pikir ini gampang banget nih! Masih banyak pekerja sawit yang gak mau ngeresiko, kenapa? Lahan pengganti 630 hektare itu nggak cukup bisa dilindungi dari gempa bumi atau banjir? Gue lihat statistik di website Kemenhut RI, sawit di Riau ini udah 5 juta hektare! Jika tidak diintervensi, biaya perawatan dan pemeliharaan sudah mencapai Rp 13 triliun pada tahun 2025! 🀯🌳
 
Pagi aja sih, kabar gembira banget kalau Pemprov Riau mau ambil tindakan serius menghadapi isu sawit di Tesso Nilo πŸ’š. Setidaknya ada 3 bulan waktu untuk pihak-pihak yang menguasai lahan tersebut untuk menumbangkan tanaman kelapa sawit secara mandiri. Mereka harus jelas-jelas, bukan sekedar memberi racun, tapi benar-benar mengusir sawit itu dari wilayah TNTN.

Mengutak-atik sawit di Tesso Nilo yang dilakukan oleh beberapa pihak sebelumnya, memang sudah terlambat, kalau tidak mau ada konsekuensi. Jangan sabarnya juga, 3 bulan itu cukup lama untuk menyiapkan lahan pengganti dan relokasi warga yang akan dipindah-pindahkan dari TNTN ke daerah lain.
Lahan pengganti yang disiapkan di Kuantan Singingi dan Pelalawan, itu masih terlalu jarang sekali. Mungkin harus lebih banyak lagi tempat yang disiapkan agar semua warga yang akan dipindah-pindahkan bisa ditempatkan dengan nyaman dan aman.
 
oh iya banget sih ya... 3 bulan itu sangat singkat lah biar mau gak masuk akal aja. gimana kalau pihak yang menguasai lahan tersebut ga mau? kayaknya perlu ada tindakan lebih lanjut dari pemprov riau, seperti diadopsi konsep perda yang lebih berwenang agar semua pihak tidak bisa melakukan hal sama lagi... sementara itu, warga yang direlokasi harus mendapatkan kompensasi yang lebih baik dan proses transisi ini juga harus dilakukan dengan lebih efisien.
 
Saya rasa ini benar-benar bikin kita kewidlian ya? Kalau mau menumbangkan sawit, tapi lama-lange dan bukan dengan cara yang bijak. Mereka harus memikirkan tentang lingkungan dan warga sekitar. Tapi, kalau ada lahan pengganti yang tersedia seperti itu, itu pasti bisa dijadikan solusi yang baik. Yang penting adalah harus dikelola dengan bijak dan tidak membuat masalah lagi. 🌿
 
ini masalah di Riau yang terus terjadi banget, sawit itu kaya akan minyak dan kayu, tapi kalau tidak ditangani dengan baik bisa jadi menjadi masalah besar lagi. pemerintah punya tanggung jawab untuk menyelesaikan ini, tapi juga harus mempertimbangkan kehidupan warga sekitar ya. 630 hektare lahan pengganti itu lumayan luas, tapi kalau tidak bisa dilakukan dengan baik, toh malah jadi masalah lagi. harapannya pihak yang berwenang bisa menyelesaikan ini dengan cepat dan humanis, sehingga warga tidak merasa terburu-buru atau kesulitan.
 
Kalau ternyata gak ada yang mau tolong sawit di Tesso Nilo, mungkin harus pemerintah sendiri yang ambil tindakan lebih keras. Kenapa pemerintah harus ribut kalau warganya nggak mau ngedebugin sawit? Saya pikir ini bagus banget kalau pemerintah menyiapkan lahan pengganti untuk warga yang direlokasi, tapi ternyata ada Sekda Provinsi Riau yang bilang bahwa Kemenhut RI tengah menyiapkan lahan pengganti dengan pola skema perhutanan sosial... kira-kira bagaimana caranya aja? 😐
 
Aku pikir pemerintah Riau udah ngambil langkah yang tepat banget, memberikan 3 bulan waktu buat orang-orang yang menguasai sawit di TNTN! Sepertinya ini solusi yang lebih baik daripada jadi pasif dan nanti sawit itu bakal jadi masalah lagi. Lahan pengganti yang disiapin juga gak kalah luas, kayaknya ini bisa membantu warga yang direlokasi dan lingkungan sekitar. Nah, aku rasa ini udah waktu yang tepat buat pemerintah Riau menunjukkan komitmen mereka terhadap pelestarian lingkungan! πŸ’šπŸŒ³
 
Hampir aja sama aja kalau pemerintahan ini kayaknya mau melindungi lingkungan juga, tapi ternyata ada keterlibatan Kemenhut yang jadi penjaga utama sawit di Riau. Saya pikir ini sudah jelas aja, kita semua tahu sawit itu jadi masalah besar di Indonesia, tapi pemerintah tetap mau memberi tenggat waktu lagi. Aku rasa pihak Kemenhut yang baik ini bisa buat contoh bagus berkat sengaja diumbar-umbar untuk memberikan lahan pengganti kepada warga yang direlokasi.
 
kembali
Top