Pemerintah Ungkap RI Dilirik Masuk Ekosistem AI Dunia, Energi yang Digunakan Banyak
Kecerdasan buatan (AI) menjadi kiblat perkembangan teknologi dunia. Hal ini memiliki konsekuensi terhadap permintaan energi yang besar untuk mendukung ekosistem AI, seperti komputer dan pusat data. Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi target perusahaan raksasa AI karena potensi energinya.
Deputi Promosi Penanaman Modal dan Hilirisasi Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan mengungkapkan bahwa perusahaan AI tertarik dengan potensi energi di Indonesia untuk menopang pusat data. Meskipun demikian, ia masih menjaga rahasia tentang perusahaan mana yang memiliki ketertarikan berinvestasi di Indonesia.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), konsumsi listrik untuk pusat data diperkirakan mencapai sekitar 415 terawatt jam (TWh) pada 2024, atau sekitar 1,5% dari konsumsi listrik global. Konsumsi tersebut telah tumbuh sebesar 12% per tahun selama lima tahun terakhir.
IEA juga menyebut kebutuhan listrik tersebut akan berlipat ganda pada 2030, mencapai sekitar 945 TWh, yang mewakili kurang dari 3% dari total konsumsi listrik global. "Dari tahun 2024 hingga 2030, konsumsi listrik pusat data tumbuh sekitar 15% per tahun, lebih dari empat kali lebih cepat daripada pertumbuhan total konsumsi listrik dari semua sektor lainnya," ujar IEA.
Kecerdasan buatan (AI) menjadi kiblat perkembangan teknologi dunia. Hal ini memiliki konsekuensi terhadap permintaan energi yang besar untuk mendukung ekosistem AI, seperti komputer dan pusat data. Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi target perusahaan raksasa AI karena potensi energinya.
Deputi Promosi Penanaman Modal dan Hilirisasi Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan mengungkapkan bahwa perusahaan AI tertarik dengan potensi energi di Indonesia untuk menopang pusat data. Meskipun demikian, ia masih menjaga rahasia tentang perusahaan mana yang memiliki ketertarikan berinvestasi di Indonesia.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), konsumsi listrik untuk pusat data diperkirakan mencapai sekitar 415 terawatt jam (TWh) pada 2024, atau sekitar 1,5% dari konsumsi listrik global. Konsumsi tersebut telah tumbuh sebesar 12% per tahun selama lima tahun terakhir.
IEA juga menyebut kebutuhan listrik tersebut akan berlipat ganda pada 2030, mencapai sekitar 945 TWh, yang mewakili kurang dari 3% dari total konsumsi listrik global. "Dari tahun 2024 hingga 2030, konsumsi listrik pusat data tumbuh sekitar 15% per tahun, lebih dari empat kali lebih cepat daripada pertumbuhan total konsumsi listrik dari semua sektor lainnya," ujar IEA.