Kebocoran Data: Kekurangan Sumber Daya Manusia dan Pengelolaan Teknologi Menjadi Akar Masalahnya
Banyak insiden kebocoran data di Indonesia masih dipicu oleh masalah klasik dalam pengelolaan teknologi dan sumber daya manusia. Direktur Jenderal Komdigi, Alexander Sabar, mengungkapkan bahwa sistem elektronik yang sudah ketinggalan zaman justru menjadi titik lemah bagi serangan pihak tidak bertanggung jawab.
Arsitektur lama yang tidak mendapat pembaruan keamanan rutin membuat sistem mudah dieksploitasi. Selain itu, pengelolaan kata sandi yang tidak disiplin dan konfigurasi sistem salah juga menjadi faktor utama penyebab kebocoran data. Faktor manusia justru sering diabaikan dalam penanganan keamanan digital.
Solusi keamanan digital sebenarnya sudah tersedia, namun efektivitasnya sering terhambat oleh penerapan dan pengelolaan yang belum optimal. Membedakan antara human error dan serangan murni peretas bukan perkara mudah. Banyak kebocoran data justru diawali kelalaian internal yang membuka celah bagi serangan dari luar, seperti phishing atau salah pengaturan akses.
Kompleksitas ekosistem digital di instansi besar menjadi tantangan tersendiri. Besarnya anggaran teknologi informasi tidak otomatis berbanding lurus dengan tingkat keamanan jika tata kelola dan integrasi sistem tidak kuat. Lemahnya pengawasan akses internal sering kali memperparah dampak kebocoran data, karena praktik pemberian hak akses berlebihan dan minimnya audit log membuat penyalahgunaan data sulit terdeteksi sejak awal.
Dalam hal ini, perlu ada upaya lebih keras dalam meningkatkan kesadaran dan keterampilan sumber daya manusia di bidang keamanan digital. Selain itu, pemerintah juga harus meningkatkan investasi untuk pengelolaan teknologi yang lebih baik dan efektif.
Banyak insiden kebocoran data di Indonesia masih dipicu oleh masalah klasik dalam pengelolaan teknologi dan sumber daya manusia. Direktur Jenderal Komdigi, Alexander Sabar, mengungkapkan bahwa sistem elektronik yang sudah ketinggalan zaman justru menjadi titik lemah bagi serangan pihak tidak bertanggung jawab.
Arsitektur lama yang tidak mendapat pembaruan keamanan rutin membuat sistem mudah dieksploitasi. Selain itu, pengelolaan kata sandi yang tidak disiplin dan konfigurasi sistem salah juga menjadi faktor utama penyebab kebocoran data. Faktor manusia justru sering diabaikan dalam penanganan keamanan digital.
Solusi keamanan digital sebenarnya sudah tersedia, namun efektivitasnya sering terhambat oleh penerapan dan pengelolaan yang belum optimal. Membedakan antara human error dan serangan murni peretas bukan perkara mudah. Banyak kebocoran data justru diawali kelalaian internal yang membuka celah bagi serangan dari luar, seperti phishing atau salah pengaturan akses.
Kompleksitas ekosistem digital di instansi besar menjadi tantangan tersendiri. Besarnya anggaran teknologi informasi tidak otomatis berbanding lurus dengan tingkat keamanan jika tata kelola dan integrasi sistem tidak kuat. Lemahnya pengawasan akses internal sering kali memperparah dampak kebocoran data, karena praktik pemberian hak akses berlebihan dan minimnya audit log membuat penyalahgunaan data sulit terdeteksi sejak awal.
Dalam hal ini, perlu ada upaya lebih keras dalam meningkatkan kesadaran dan keterampilan sumber daya manusia di bidang keamanan digital. Selain itu, pemerintah juga harus meningkatkan investasi untuk pengelolaan teknologi yang lebih baik dan efektif.