Pemerintah Iran baru-baru ini mengakui 3.117 orang tewas selama aksi demo dan kerusuhan yang terjadi di Iran pada akhir tahun lalu, meskipun banyak pengamat internasional yang berpendapat bahwa angka korban tewas tersebut dipadukan oleh pemerintah untuk menghindari penangguhan tindak tegas dari komunitas dunia. Sementara itu, Organisasi Iran Human Rights (IHR) mengklaim telah memverifikasi kematian sebanyak 3.428 demonstran, yang disertai peringatan bahwa angka tersebut hanya sebagian kecil dari jumlah korban sebenarnya.
Menurut saksi mata yang mengakui melihat penembakan terhadap para demonstran di Tehranpars, Teheran, para polisi menembakkan peluru kosong awalnya, tetapi kemudian beralih ke peluru tajam yang diparoh ke kepala para demonstran. Pasukan khusus antiteror (NOPO) dan Divisi Fatemiyoun juga tiba dan menembaki massa secara membabi buta dengan senjata otomatis tanpa membedakan usia maupun jenis kelamin.
"Pemandangan yang mengerikan," kata saksi tersebut mengenai aksi penembakan yang menyebabkan kematian ratusan demonstran. Pasukan tersebut menghujani para demonstran dengan tembakan, serta menembakkan peluru Uzi dan AK-47 tanpa membedakan usia maupun jenis kelamin.
Pemerintah Iran berpendapat bahwa aksi protes tersebut bukanlah gerakan rakyat, melainkan aksi teror dan kerusuhan yang didorong oleh campur tangan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut saksi mata yang mengakui melihat penembakan terhadap para demonstran di Tehranpars, Teheran, para polisi menembakkan peluru kosong awalnya, tetapi kemudian beralih ke peluru tajam yang diparoh ke kepala para demonstran. Pasukan khusus antiteror (NOPO) dan Divisi Fatemiyoun juga tiba dan menembaki massa secara membabi buta dengan senjata otomatis tanpa membedakan usia maupun jenis kelamin.
"Pemandangan yang mengerikan," kata saksi tersebut mengenai aksi penembakan yang menyebabkan kematian ratusan demonstran. Pasukan tersebut menghujani para demonstran dengan tembakan, serta menembakkan peluru Uzi dan AK-47 tanpa membedakan usia maupun jenis kelamin.
Pemerintah Iran berpendapat bahwa aksi protes tersebut bukanlah gerakan rakyat, melainkan aksi teror dan kerusuhan yang didorong oleh campur tangan Amerika Serikat dan Israel.