Pemerintah mengincar teknologi Waste-to-Energy (WtE) sebagai alternatif energi terbarukan di Indonesia. Pemimpin nasional berkeinginan untuk menyelesaikan masalah sampah yang melanda negara ini dengan cepat dan efektif. Dengan demikian, proyek WtE dianggap menjadi solusi jangka panjang yang dapat menopang lingkungan, meningkatkan ekonomi sirkular serta ketahanan energi.
Namun, terlepas dari kemajuan teknologi pembakaran dan peningkatan produksi energi dari sampah, faktor keberhasilan proyek WtE tidak hanya bergantung pada teknologi. Selain itu, kesiapan sistem penanganan dan pergerakan limbah juga menjadi fondasi operasional fasilitas tersebut.
Perusahaan alat berat PT Multicrane Perkasa (MCP) memposisikan diri sebagai Integrated Waste Movement Partner untuk proyek WtE di Indonesia. Proses penanganan sampah mulai dari pre-processing hingga keberlanjutan operasional fasilitas ini menggunakan pendekatan yang terintegrasi.
Pengembangan utama yang dilakukan adalah proyek WtE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta, serta inisiatif RDF (Refuse-Derived Fuel) yang sudah berjalan sejak Juli 2025. Di tingkat regional, pengalaman implementasi RDF untuk kebutuhan industri semen di Thailand juga menunjukkan bahwa keberhasilan proyek berbasis pengolahan limbah menjadi energi sangat ditentukan oleh kesiapan sistem operasional di lapangan.
Dalam konteks penataan feeding limbah, MCP menghadirkan solusi dengan menawarkan crane Hiab 19000 sebagai electric waste feeder yang dirancang untuk memastikan aliran limbah ke lini WtE atau RDF berlangsung stabil dan terkontrol. Dengan demikian, sistem ini memungkinkan operasi yang lebih stabil, mengurangi biaya operasional harian serta mengurangi risiko gangguan teknis yang dapat memicu downtime.
Selain itu, untuk kebutuhan transfer dan handling limbah berskala menengah hingga besar, MCP juga menghadirkan Liebherr material handler LH 40 yang dirancang khusus untuk operasi waste duty. Unit ini memungkinkan penanganan limbah curah secara kontinu serta mengurangi jumlah alat yang dibutuhkan dalam satu fasilitas.
"Sebagai bagian dari komitmen kami mendukung agenda pemerintah dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, kami melihat bahwa keberhasilan proyek WtE tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga dari kesiapan sistem operasional di lapangan," kata Adrianus Hadiwinata, Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa.
Namun, terlepas dari kemajuan teknologi pembakaran dan peningkatan produksi energi dari sampah, faktor keberhasilan proyek WtE tidak hanya bergantung pada teknologi. Selain itu, kesiapan sistem penanganan dan pergerakan limbah juga menjadi fondasi operasional fasilitas tersebut.
Perusahaan alat berat PT Multicrane Perkasa (MCP) memposisikan diri sebagai Integrated Waste Movement Partner untuk proyek WtE di Indonesia. Proses penanganan sampah mulai dari pre-processing hingga keberlanjutan operasional fasilitas ini menggunakan pendekatan yang terintegrasi.
Pengembangan utama yang dilakukan adalah proyek WtE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta, serta inisiatif RDF (Refuse-Derived Fuel) yang sudah berjalan sejak Juli 2025. Di tingkat regional, pengalaman implementasi RDF untuk kebutuhan industri semen di Thailand juga menunjukkan bahwa keberhasilan proyek berbasis pengolahan limbah menjadi energi sangat ditentukan oleh kesiapan sistem operasional di lapangan.
Dalam konteks penataan feeding limbah, MCP menghadirkan solusi dengan menawarkan crane Hiab 19000 sebagai electric waste feeder yang dirancang untuk memastikan aliran limbah ke lini WtE atau RDF berlangsung stabil dan terkontrol. Dengan demikian, sistem ini memungkinkan operasi yang lebih stabil, mengurangi biaya operasional harian serta mengurangi risiko gangguan teknis yang dapat memicu downtime.
Selain itu, untuk kebutuhan transfer dan handling limbah berskala menengah hingga besar, MCP juga menghadirkan Liebherr material handler LH 40 yang dirancang khusus untuk operasi waste duty. Unit ini memungkinkan penanganan limbah curah secara kontinu serta mengurangi jumlah alat yang dibutuhkan dalam satu fasilitas.
"Sebagai bagian dari komitmen kami mendukung agenda pemerintah dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, kami melihat bahwa keberhasilan proyek WtE tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga dari kesiapan sistem operasional di lapangan," kata Adrianus Hadiwinata, Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa.