Diketahui, pemerintah Indonesia terus memperkuat pengembangan Waste-to-Energy (WtE) sebagai bagian dari strategi nasional dalam mengatasi persoalan sampah. Menurut data di lapangan, timbunan sampah nasional saat ini mencapai 189.000 ton per hari. Hal ini menunjukkan kebutuhan besar akan teknologi pembangkit WtE untuk mengatasi isu lingkungan dan ekonomi.
Dalam konteks proyek WtE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta, PT Multicrane Perkasa (MCP) menjadi Integrated Waste Movement Partner. Dengan pendirian dua unit Hiab 19000 sebagai electric waste feeder, MCP dapat memastikan aliran limbah ke lini WtE atau RDF berlangsung stabil dan terkontrol. Selain itu, MCP juga menghadirkan Liebherr material handler LH 40 untuk operasi transfer dan handling limbah berskala menengah hingga besar.
Menurut Adrianus Hadiwinata, Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa, keberhasilan proyek WtE tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga dari kesiapan sistem operasional di lapangan. Dengan mendukung penguatan sistem feeding yang lebih konsisten dibanding metode konvensional berbasis excavator diesel, MCP dapat meningkatkan efisiensi dan stabilitas operasi.
Pendekatan ini oleh perusahaan alat berat tidak hanya sebagai pemasok unit, tetapi juga penyedia sistem operasional terintegrasi. Dengan demikian, keberadaan mitra industri yang memahami karakter limbah Indonesia menjadi faktor penentu agar proyek WtE layak secara operasional dan ekonomi dalam jangka panjang.
Dalam perjalanan menuju pengelolaan sampah berkelanjutan, pemerintah Indonesia dan industri peralatan alat berat harus bekerja sama untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas sistem operasional.
Dalam konteks proyek WtE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta, PT Multicrane Perkasa (MCP) menjadi Integrated Waste Movement Partner. Dengan pendirian dua unit Hiab 19000 sebagai electric waste feeder, MCP dapat memastikan aliran limbah ke lini WtE atau RDF berlangsung stabil dan terkontrol. Selain itu, MCP juga menghadirkan Liebherr material handler LH 40 untuk operasi transfer dan handling limbah berskala menengah hingga besar.
Menurut Adrianus Hadiwinata, Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa, keberhasilan proyek WtE tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga dari kesiapan sistem operasional di lapangan. Dengan mendukung penguatan sistem feeding yang lebih konsisten dibanding metode konvensional berbasis excavator diesel, MCP dapat meningkatkan efisiensi dan stabilitas operasi.
Pendekatan ini oleh perusahaan alat berat tidak hanya sebagai pemasok unit, tetapi juga penyedia sistem operasional terintegrasi. Dengan demikian, keberadaan mitra industri yang memahami karakter limbah Indonesia menjadi faktor penentu agar proyek WtE layak secara operasional dan ekonomi dalam jangka panjang.
Dalam perjalanan menuju pengelolaan sampah berkelanjutan, pemerintah Indonesia dan industri peralatan alat berat harus bekerja sama untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas sistem operasional.