Pekerja Curhat Suka-Duka Musim Hujan, Berhadapi Banjir hingga Motor Mogok
Musim hujan di Jakarta memang selalu membuat pekerja di wilayah Jabodetabek merasa sulit. Selain curah hujan yang tinggi, perjalanan menuju tempat kerja juga menjadi lebih sulit karena layanan transportasi yang membutuhkan waktu tunggu lebih lama dari biasanya.
Tata, seorang pekerja di daerah Jakarta Pusat, mengungkapkan beberapa kendala yang dialaminya selama musim hujan. Ia menceritakan bahwa kadang-kadang perlu menunggu di kereta karena cuacanya masih sangat hujan, sehingga membuatnya merasa sedikit telat.
Tata juga menyebut bahwa banjir menjadi salah satu kendala yang dialaminya. Bahkan, banjir sempat merendam area sekitar rumah dan kantornya. Ia mengatakan bahwa banjir tidak hanya terjadi di tempat kerja, tetapi juga di rumahnya.
"Kayak dari rumah sampai kerja tuh sama kayak awet (hujannya). Terus di kerjaan aku banjir cuma nggak terlalu tinggi banget sih. Cuma kalau di daerah rumah aku lumayan tinggi, hampir sebetis. Jadi itu yang menurut aku tuh negatifnya tuh kayak gitu, yang bikin kita jadi kayak kerja dua kali kalau adanya banjir gitu," ujar Tata.
Pekerja lainnya, Saikin, juga bercerita tentang kendala banjir yang dialaminya. Dia menyebut bahwa kadang-kadang harus membawa motor ke bengkel karena terpapar banjir.
"Saya kan dari rumah ke stasiunnya jauh ya, saya pakai motor. Cuma kalau kondisi banjir ya kadang-kadang ada perlintasan yang ada genangan air yang nggak bisa dilalui motor itu pernah," tutur Saikin.
Meski harus menerjang hujan hampir setiap hari karena tidak memiliki jatah work from home (WFH), Saikin mengaku tetap semangat bekerja. Ia menyebut hanya perlu menyiapkan 'peralatan tempur' dalam tasnya.
"Waduh kalau WFH kayaknya enggak sih, karena saya di pelayanan publik, nggak mungkin WFH. Cuaca apapun ya kita harus tetap berangkat," ucapnya.
"Jadi ya sudah biasa, yang penting antisipasinya ada. Ya persiapannya paling bawa-bawa jas hujan sama payung," imbuh dia.
Dengan demikian, pekerja di Jakarta Pusat dan sekitarnya harus tetap siap untuk menghadapi musim hujan yang berdampak pada mobilitas mereka.
Musim hujan di Jakarta memang selalu membuat pekerja di wilayah Jabodetabek merasa sulit. Selain curah hujan yang tinggi, perjalanan menuju tempat kerja juga menjadi lebih sulit karena layanan transportasi yang membutuhkan waktu tunggu lebih lama dari biasanya.
Tata, seorang pekerja di daerah Jakarta Pusat, mengungkapkan beberapa kendala yang dialaminya selama musim hujan. Ia menceritakan bahwa kadang-kadang perlu menunggu di kereta karena cuacanya masih sangat hujan, sehingga membuatnya merasa sedikit telat.
Tata juga menyebut bahwa banjir menjadi salah satu kendala yang dialaminya. Bahkan, banjir sempat merendam area sekitar rumah dan kantornya. Ia mengatakan bahwa banjir tidak hanya terjadi di tempat kerja, tetapi juga di rumahnya.
"Kayak dari rumah sampai kerja tuh sama kayak awet (hujannya). Terus di kerjaan aku banjir cuma nggak terlalu tinggi banget sih. Cuma kalau di daerah rumah aku lumayan tinggi, hampir sebetis. Jadi itu yang menurut aku tuh negatifnya tuh kayak gitu, yang bikin kita jadi kayak kerja dua kali kalau adanya banjir gitu," ujar Tata.
Pekerja lainnya, Saikin, juga bercerita tentang kendala banjir yang dialaminya. Dia menyebut bahwa kadang-kadang harus membawa motor ke bengkel karena terpapar banjir.
"Saya kan dari rumah ke stasiunnya jauh ya, saya pakai motor. Cuma kalau kondisi banjir ya kadang-kadang ada perlintasan yang ada genangan air yang nggak bisa dilalui motor itu pernah," tutur Saikin.
Meski harus menerjang hujan hampir setiap hari karena tidak memiliki jatah work from home (WFH), Saikin mengaku tetap semangat bekerja. Ia menyebut hanya perlu menyiapkan 'peralatan tempur' dalam tasnya.
"Waduh kalau WFH kayaknya enggak sih, karena saya di pelayanan publik, nggak mungkin WFH. Cuaca apapun ya kita harus tetap berangkat," ucapnya.
"Jadi ya sudah biasa, yang penting antisipasinya ada. Ya persiapannya paling bawa-bawa jas hujan sama payung," imbuh dia.
Dengan demikian, pekerja di Jakarta Pusat dan sekitarnya harus tetap siap untuk menghadapi musim hujan yang berdampak pada mobilitas mereka.