Tirto.id meliput nasib Indonesia sebagai "hotspot" utama penipuan lowongan kerja. Laporan dari perusahaan induk platform Jobstreet dan Jobsdb, SEEK, mengungkapkan bahwa Indonesia menyumbang 38 persen dari total upaya penipuan di Asia Pasifik. Selain itu, kasus ini juga menimpa pengangguran putus asa yang mencari pekerjaan dalam kondisi pasar kerja yang tidak stabil.
"Kasus-kasus seperti ini bukan semata penipuan individual atau migrasi ilegal, tetapi bagian dari rantai pasar kerja global yang eksploitatif. Banyak korban direkrut melalui janji kerja legal dan kontrak samar," kata Arif Novianto, peneliti ketenagakerjaan sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tidar.
Kasus "job scam" di Indonesia cenderung terkonsentrasi pada usia muda, lulusan baru, pencari kerja entry-level, dan pekerja informal/pekerja lepas. Pelajaran utama dari kasus-kasus ini adalah pentingnya perlindungan yang kuat bagi pencari kerja dan transisi sekolah–kerja yang memadai.
Selain itu, Arif juga menekankan kegagalan sistem transisi dari pendidikan ke dunia kerja sebagai penyebab utama kasus "job scam" ini.
"Kasus-kasus seperti ini bukan semata penipuan individual atau migrasi ilegal, tetapi bagian dari rantai pasar kerja global yang eksploitatif. Banyak korban direkrut melalui janji kerja legal dan kontrak samar," kata Arif Novianto, peneliti ketenagakerjaan sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tidar.
Kasus "job scam" di Indonesia cenderung terkonsentrasi pada usia muda, lulusan baru, pencari kerja entry-level, dan pekerja informal/pekerja lepas. Pelajaran utama dari kasus-kasus ini adalah pentingnya perlindungan yang kuat bagi pencari kerja dan transisi sekolah–kerja yang memadai.
Selain itu, Arif juga menekankan kegagalan sistem transisi dari pendidikan ke dunia kerja sebagai penyebab utama kasus "job scam" ini.