Pakar Usul Hindari Sistem e-Voting Karena Rawan Peretasan

Sistem e-voting rawan peretasan, pakar usul menghindarinya
Komisi II DPR RI telah menggelar rapat dengar pendapat umum dengan sejumlah pakar untuk membahas revisi RUU Pemilu. Dalam rapat itu, Pakar politik bernama George Towar Ikbal Tawakkal menyatakan bahwa Indonesia masih belum siap untuk memanfaatkan sistem e-voting dalam pemilihan umum. Menurutnya, kerawanan untuk diretas dan ancaman keamanan siber masih mengantui dari berbagai sisi.

"E-voting sebenarnya adalah salah satu pokok bahasan dalam sistem kepemiluan kita," kata George. "Namun, persoalan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik terhadap hasil pemilu."

George menyoroti ancaman peretasan yang sulit dideteksi dan berpotensi merusak integritas pemilu. Menurutnya, persoalan ini sangat parah karena orang tidak percaya dengan hasil e-voting.

"Hindari penerapan e-voting. Ini saya cenderung tidak sepakat dengan penggunaan e-voting," ujar George dalam rapat.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyatakan bahwa lembaganya akan mengkaji kemungkinan penerapan sistem pemungutan suara berbasis elektronik atau e-voting. Namun, dia juga menekankan bahwa praktik e-voting bukan hal baru dan telah diterapkan di beberapa negara.

"E-voting sebenarnya setiap tahapan pembahasan sistem kepemiluan kita itu selalu menjadi salah satu pokok bahasan," kata Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara.
 
😐 e-voting ini masih terlalu berisiko banget sih... aku pikir lebih baik dengan cara lama ya... πŸ€” kadang aku lihat orang-orang yang tertarik dengan teknologi ini tapi aku rasa gak harus dibuang ke cacing ya... πŸ™ƒ banyak permasalahan yang terjadi di negara-negara lain yang menggunakan e-voting, dan aku rasa kita harus mempertimbangkan hal ini sebelum memutuskan untuk mengadopsinya. 🀝
 
aku punya pertanyaan aja, kenapa Indonesia masih belum bisa banget mengatasi permasalahan ini? gue lihat di luar negeri mereka udah lama menggunakan sistem e-voting dan tidak ada masalah yang besar. apakah kita kebanyakan nggak percaya dengan hasil e-voting?

atau aku bayangin, jika Indonesia udah punya sistem e-voting yang terjamin, apa aja yang bisa kita gunakan sebagai contoh bagi negara-negara lain?
 
Mengenai keberadaan peretasan dalam sistem e-voting, aku pikir ini yang jelas-jangkauannya kita di Indonesia masih belum selesai. Aku sendiri punya pendapat bahwa teknologi ini bisa menjadi alat yang bagus untuk mempercepat proses pemilu, tapi karenanya kita gak siap untuk menggunakannya, maka hasilnya bakal sama dengan yang sudah ada sekarang 😐. Mereka bilang bahwa kerawanan peretasan itu parah banget, tapi aku rasa kita juga harus menekankan tentang bagaimana kita akan melindungi integritas pemilu dari berbagai aspek. Kita gak bisa hanya mengatakan bahwa e-voting jadi hal yang baik tanpa ada strategi untuk memastikan keamanannya πŸ€”.
 
Aku pikir kalau lagi-lagi e-voting dijadwalkan nanti siapa yang akan jadinya nanti? Kenapa lagi ada permasalahan teknis dan kepercayaan publik? Gampang aja digagalkan oleh orang-orang yang nggak punya ide. Tapi aku pikir, kalau kita mau serius dengan e-voting, kita harus mulai dari sisi siber, cari cara untuk meningkatkan keamanatanya. Jangan hanya sekedar memikirkan efeknya aja, tapi bagaimana kita bisa mencegah peretasan dan ancaman keamanan siber. Kita harus serius dan tekun dalam hal ini, nggak bisa cuma-cuma aja.
 
gak bisa percaya aja kalau e-voting di Indonesia masih rawan peretasan sih 😱. kenapa? karena keamanan siber lagi-lagi jadi masalahnya. tapi apa yang bisa dilakukan ya? kalau ingin akses ke server e-voting bisa dienkripsi lebih baik lagi, dan juga harus ada sistem keamanan tambahan seperti IP blocking dan firewall yang kuat πŸš«πŸ’». toh tidak apa-apa jika pengguna harus mengisi formulir yang panjang dan rumit sebelum suka bisa voting online, kan? karena itu akan membuat orang lebih berhati-hati dan tidak akan terjebak dalam skema peretasan πŸ˜….
 
Sistem e-voting ini kayak gampang dibakar πŸ€¦β€β™‚οΈ. Siapa nanti yang nggak percaya dengannya? Mereka bilang e-voting aman, tapi siapa aja bisa yakin? πŸ˜’. Kalau tidak sengaja ada kerugian, semua orang akan terkejut dan cangkir air di wajahnya 🀯. Seringkali di diskusikan itu, tapi tidak pernah diikuti oleh pembuat e-voting, kan? πŸ™„.
 
Sistem e-voting ini kan jadi masalah besar banget! πŸ€” Peretasan dan kerawanan keamanan siber yang parah, memang tidak siap untuk digunakan sekarang... Kalau nanti terjadi kesalahan, apa yang akan dilakukan? πŸ€·β€β™‚οΈ Justru jangan asing lagi dengan konsep ini... Membuat sistem ini bisa jadi berujung salah, kan? 😐
 
Gue rasa e-voting ini nanti jadi masalah besar deh. Pakar politiknya jelas2 ada yang tidak percaya dengannya, tapi apa kalau ada kecurangan dalam pemilu? E-voting ini sih cenderung lebih mudah terkena peretasan, karena teknologi yang digunakan masih belum terlalu matang, ya? Kita harus hati-hati aja deh, e-voting ini jadi opsi yang tidak dapat dibayangkan.
 
πŸ€” e-voting aja nggak ada jaminan keamanatnyaa 😬. Sipil nangkatin sistem ini kembali 1-2 kali lagi, apa sih tujuan ya? πŸ™„. E-voting aja caranya berasa nyaman banget, tapi sebenarnya masih banyak risiko yang muncul 🀯. Kalau kita lupa jadikan e-voting itu sebagai opsi terakhir aja, nggak masalah loh πŸ˜…. Kita harus lebih teliti dan waspada dalam memilih sistem ini πŸ•΅οΈβ€β™‚οΈ.
 
Pak, e-voting ini seringkali dianggap penting banget untuk kemudahan pemilih, tapi siapa yang bilang teknologi itu tidak bisa terjamah? πŸ€” Selalu ada ancaman keamanan siber dan peretasan. Saya pikir, sebelum kita mulai penerapan e-voting, kita harus memastikan sistem ini benar-benar aman dan tidak akan dipalsukan. Apalagi kalau hasil pemilu itu bisa dipengaruhi oleh orang-orang yang jujur atau tidak? 😟
 
Saya rasa sih e-voting belum jadi opsi yang tepat untuk Indonesia kayaknya... banyak masalah keamanan siber aja... siapa bilang sih kita sudah siap untuk pake e-voting? peretasan bisa datang dari mana-mana, nggak ada yang bisa mencegahnya... dan ancaman keamanan itu bukan hanya tentang peretasan, tapi juga tentang integritas pemilu... orang Indonesia belum percaya dengan hasil e-voting, jadi apakah e-voting itu nyaman? saya ragu-ragu banget...
 
Aku pikir e-voting benar-benar perlu diimplementasikan di Indonesia, tapi aku juga khawatir dengan keamanan siber dan kemungkinan peretasan. Aku ingat kapan aku masih ngomong sama temanku tentang bagaimana pemilu 1998 itu ada banyak kasus pilu palsu. Aku rasa e-voting bisa membantu menghindari hal ini, tapi kita harus benar-benar yakin bahwa sistemnya aman dan tidak bisa diretas. Saya juga ingat ketika aku masih kecil, aku ngomong sama ibuku tentang bagaimana e-voting itu sering diutamakan di TV, tapi aku pikir itu cuma sekedar teka-teki saja. Sekarang aku melihat e-voting adalah hal yang sangat penting untuk Indonesia, tapi kita harus benar-benar siap dan memiliki sistem yang tepat. πŸ€”πŸ“Š
 
Pokoknya e-voting masih rawan peretasan 🚨, tapi gak bisa disangkal lagi bahwa teknologi ini sedang nge-boost dalam berbagai aspek ya 😊. Masih banyak keterbatasan dan ancaman keamanan siber yang perlu diatasi sebelum bisa dipercaya. Saya pikir kita harus lebih teliti dan rajin menguji keamanan sistem e-voting sebelum ngerusakkan integritas pemilu πŸ€”.
 
E-voting kayaknya perlu diwaspadai. Kalau tidak benar-benar aman, bisa jadi hasil pemilu pun akan dicuri. Saya pikir lebih baik kita coba metode lain seperti e-pemilu yang menggunakan sistem lain, misalnya dengan menggunakan kode QR untuk memilih calon. Jadi, perlu ada kerjasama antara pemerintah dan lembaga-lembaga teknologi untuk membuat e-voting lebih aman.
 
Pak, aku pikir e-voting harus dilakukan tapi harus diatur dengan benar. Tapi aja, perlu dipertimbangkan apakah kita siap untuk menerapkannya dulu. Saya lihat beberapa pakar yang masih ragu-ragu tentang kualitas sistem e-voting kita. Mungkin kita harus memperbaiki keraguan tersebut sebelum mulai.

Saya rasa apa yang diusulkan oleh Pak George, yaitu meningkatkan keamanan dan integritas pemilu kita, itu penting banget. Tapi, kita juga tidak boleh lupa bahwa e-voting dapat membawa manfaat lain seperti memudahkan proses pengadaan suara. Aku pikir kita harus mencari keseimbangan antara keamanan dan kemudahan.

Dan, aku rasa Pak Sufmi benar-benar berusaha untuk mengkaji kemungkinan penerapan e-voting. Mungkin dengan demikian kita dapat menilai apakah itu baik atau tidak bagi kita.
 
oh yah, permasalahan ini memang serius banget! saya paham apa yang dikatakan pakar tersebut, kerawanan dan ancaman keamanan siber memang sangat parah. kita harus lebih berhati-hati dalam mengimplementasikan sistem e-voting di Indonesia.

saya rasa kita perlu berdiskusi lebih lanjut tentang bagaimana cara mencegah peretasan dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap hasil pemilu. mungkin kita bisa mencari solusi bersama-sama, seperti membuat sistem e-voting yang lebih aman dan transparan.

saya juga paham bahwa penggunaan e-voting bukan hal baru, tapi itu tidak berarti kita harus menyerah. kita bisa belajar dari kegagalan di negara-negara lain dan mencoba kembali dengan cara yang lebih baik. mari kita bekerja sama untuk membuat pemilu yang lebih adil dan transparan! πŸ˜ŠπŸ‘
 
E-voting kayaknya masih jauh dari siap untuk digunakan di Indonesia 😬. Peretasan yang bisa dilakukan itu terlalu berisiko, makanya harus hati-hati dulu sebelum memutuskan untuk menggunakannya. Kalau kita sudah siap, saya rasa baik-baik aja. Tapi kalau masih jauh dari siap, mending jangan langsung digunakan ya? πŸ€”
 
Gampangnya penerapan e-voting di Indonesia, aku pikir sih. Belum ada masalah apa-apa kalau kita coba aja, dan kalau ada kebocoran data bisa diatasi aja dengan baik πŸ˜…. Aku nggak percaya kalau sistem e-voting itu mau rusak tanpa ada yang tahu. Dan kalau orang ga percaya hasilnya, itu masalahnya bukan sistem e-voting sendiri, tapi orang yang tidak sabar ingin penerima hasil.
 
E-voting apa lagi kegunaannya kalau kualitasnya belum bisa dipercaya? Mereka ingin lakukan e-voting tetapi belum bisa memastikan bahwa proses ini aman dari peretasan. Sama-sama kan, kita harus memiliki integritas pemilu yang benar-benar benar. Jangan terburu-buru untuk mengadopsi teknologi yang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat kita πŸ€”πŸ‘€
 
kembali
Top