Pakar geologi longsoran di ITB, Imam Achmad Sadisun menyatakan bahwa longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, merupakan hasil dari interaksi kompleks faktor alamiah dan manusia. Menurutnya, peristiwa ini tidak dapat diartikan hanya sebagai dampak alih fungsi lahan.
"Kejadian ini merupakan hasil dari interaksi kompleks faktor alamiah dan manusia," kata Imam Achmad Sadisun. "Faktor alamiah yang berinteraksi dengan berbagai faktor manusia menyebabkan terjadinya mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang dipicu oleh kejadian longsoran di bagian hulu sistem alirannya."
Wilayah Cisarua termasuk dalam lingkungan geologi yang berada pada produk-produk vulkanik tua, yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan yang relatif tebal. Hal ini membuat wilayah tersebut rentan terhadap longsor.
"Ketika pori-pori tanah sudah jenuh oleh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis," kata Imam Achmad Sadisun. "Pada kondisi inilah lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri."
Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif lebih kedap air, kerap menjadi bidang gelincirnya. Kondisi ini semakin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang, yang menyebabkan air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga menjadi jenuh.
"Hujan dengan intensitas sedang, tetapi berlangsung lama dapat sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam durasi yang singkat," kata Imam Achmad Sadisun.
Terdapat indikasi longsor di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang, yang menutup alur sungai tersebut dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).
"Ketika bendungan alam ini tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, kata Imam, bendungan jebol dan memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir," kata Imam Achmad Sadisun.
Akhirnya, terdapat potensi bahaya susulan dari kejadian ini. Hal ini terbukti dengan ditemukannya indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai.
"Kejadian ini merupakan hasil dari interaksi kompleks faktor alamiah dan manusia," kata Imam Achmad Sadisun. "Faktor alamiah yang berinteraksi dengan berbagai faktor manusia menyebabkan terjadinya mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang dipicu oleh kejadian longsoran di bagian hulu sistem alirannya."
Wilayah Cisarua termasuk dalam lingkungan geologi yang berada pada produk-produk vulkanik tua, yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan yang relatif tebal. Hal ini membuat wilayah tersebut rentan terhadap longsor.
"Ketika pori-pori tanah sudah jenuh oleh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis," kata Imam Achmad Sadisun. "Pada kondisi inilah lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri."
Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif lebih kedap air, kerap menjadi bidang gelincirnya. Kondisi ini semakin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang, yang menyebabkan air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga menjadi jenuh.
"Hujan dengan intensitas sedang, tetapi berlangsung lama dapat sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam durasi yang singkat," kata Imam Achmad Sadisun.
Terdapat indikasi longsor di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang, yang menutup alur sungai tersebut dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).
"Ketika bendungan alam ini tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, kata Imam, bendungan jebol dan memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir," kata Imam Achmad Sadisun.
Akhirnya, terdapat potensi bahaya susulan dari kejadian ini. Hal ini terbukti dengan ditemukannya indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai.