Pria Kelahiran Keluarga Pemimpin, Memilih Hidup Sederhana
Sosok Soesalit Djojoadhiningrat, yang lahir dari keluarga pejabat dan memiliki ayah yang bertugas sebagai Bupati Rembang, memang memiliki potensi untuk menikmati kesuksesan di dunia politik. Namun, dia memilih untuk tidak melakukannya. Meski memiliki nama besar ibunya, R.A Kartini, Soesalit tetap menjaga privasi keluarganya dan memilih hidup sederhana, meski harus menghadapi keterbatasan ekonomi.
Menurut Wardiman Djojonegoro dalam buku "Kartini" (2024), Soesalit sebenarnya memiliki kesempatan untuk menggantikan ayahnya sebagai bupati, namun dia menolaknya. Alasannya tidak diketahui secara spesifik, tetapi kemungkinan besar adalah karena Soesalit ingin menjaga privasi keluarganya dan memilih hidup sederhana.
Sebaliknya, Soesalit memutuskan untuk masuk ke tentara pada 1943 dan bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Dia dilatih oleh tentara Jepang dan kemudian menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyat Republik Indonesia. Dari sini, kariernya mulai moncer.
Soesalit selalu terlibat dalam beberapa pertempuran melawan Belanda, yang kemudian membuatnya naik pangkat. Dia juga pernah memegang jabatan sipil, seperti penasehat Menteri Pertahanan di Kabinet Ali Sastro pada 1953.
Saat ini, jarang orang mengetahui bahwa Soesalit adalah anak dari tokoh besar RI bernama R.A Kartini. Namun, dia tetap memegang prinsip yang ditanamkan dari awal: tidak mau mengutarakan bahwa dirinya keturunan Kartini.
Prinsip ini membawanya untuk hidup melarat sampai tutup usia pada 17 Maret 1962. Meski memiliki kesempatan untuk menikmati kesuksesan di dunia politik, Soesalit memilih untuk menjaga privasi keluarganya dan memilih hidup sederhana. Ini menunjukkan bahwa dia memiliki prinsip yang kuat dan tidak ingin terpengaruh oleh kemewahan yang mungkin akan dihadapkan pada dirinya jika dia terus maju dalam karirnya.
Sosok Soesalit Djojoadhiningrat, yang lahir dari keluarga pejabat dan memiliki ayah yang bertugas sebagai Bupati Rembang, memang memiliki potensi untuk menikmati kesuksesan di dunia politik. Namun, dia memilih untuk tidak melakukannya. Meski memiliki nama besar ibunya, R.A Kartini, Soesalit tetap menjaga privasi keluarganya dan memilih hidup sederhana, meski harus menghadapi keterbatasan ekonomi.
Menurut Wardiman Djojonegoro dalam buku "Kartini" (2024), Soesalit sebenarnya memiliki kesempatan untuk menggantikan ayahnya sebagai bupati, namun dia menolaknya. Alasannya tidak diketahui secara spesifik, tetapi kemungkinan besar adalah karena Soesalit ingin menjaga privasi keluarganya dan memilih hidup sederhana.
Sebaliknya, Soesalit memutuskan untuk masuk ke tentara pada 1943 dan bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Dia dilatih oleh tentara Jepang dan kemudian menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyat Republik Indonesia. Dari sini, kariernya mulai moncer.
Soesalit selalu terlibat dalam beberapa pertempuran melawan Belanda, yang kemudian membuatnya naik pangkat. Dia juga pernah memegang jabatan sipil, seperti penasehat Menteri Pertahanan di Kabinet Ali Sastro pada 1953.
Saat ini, jarang orang mengetahui bahwa Soesalit adalah anak dari tokoh besar RI bernama R.A Kartini. Namun, dia tetap memegang prinsip yang ditanamkan dari awal: tidak mau mengutarakan bahwa dirinya keturunan Kartini.
Prinsip ini membawanya untuk hidup melarat sampai tutup usia pada 17 Maret 1962. Meski memiliki kesempatan untuk menikmati kesuksesan di dunia politik, Soesalit memilih untuk menjaga privasi keluarganya dan memilih hidup sederhana. Ini menunjukkan bahwa dia memiliki prinsip yang kuat dan tidak ingin terpengaruh oleh kemewahan yang mungkin akan dihadapkan pada dirinya jika dia terus maju dalam karirnya.