Nvidia memilih Malaysia sebagai tempat untuk mengembangkan pusat data, bukan Indonesia. Meskipun Indonesia telah mengembangkan kawasan digital seperti Nongsa Digital Park di Batam, namun pilihan Nvidia tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai kesiapan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.
Dikutip dari deputi bidang promosi penanaman modal Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan, Nvidia memilih Malaysia sebagai pilihan karena memiliki jumlah lulusan master dan PhD di bidang teknologi informasi yang lebih banyak dan lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan teknologi seperti Nvidia.
Nurul menekankan bahwa kondisi ini adalah pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi untuk menciptakan SDM unggul di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Ia juga menekankan pentingnya strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas SDM di Indonesia agar dapat sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Selain itu, pembangunan pusat data di Johor Bahru Malaysia merupakan hasil kemitraan antara perusahaan listrik Malaysia, YTL Power International, dengan produsen GPU global, Nvidia. Nilai investasi pembangunan pusat data ini mencapai 10 miliar ringgit Malaysia atau setara Rp39,7 triliun.
Kegagalan Indonesia untuk menarik perusahaan teknologi besar seperti Nvidia menjadi pertanyaan bagi banyak orang. Menurut Nurul, SDM di Indonesia harus lebih fokus pada meningkatkan kualitas dan relevansi kompetensi dengan kebutuhan industri teknologi.
Dikutip dari deputi bidang promosi penanaman modal Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan, Nvidia memilih Malaysia sebagai pilihan karena memiliki jumlah lulusan master dan PhD di bidang teknologi informasi yang lebih banyak dan lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan teknologi seperti Nvidia.
Nurul menekankan bahwa kondisi ini adalah pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi untuk menciptakan SDM unggul di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Ia juga menekankan pentingnya strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas SDM di Indonesia agar dapat sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Selain itu, pembangunan pusat data di Johor Bahru Malaysia merupakan hasil kemitraan antara perusahaan listrik Malaysia, YTL Power International, dengan produsen GPU global, Nvidia. Nilai investasi pembangunan pusat data ini mencapai 10 miliar ringgit Malaysia atau setara Rp39,7 triliun.
Kegagalan Indonesia untuk menarik perusahaan teknologi besar seperti Nvidia menjadi pertanyaan bagi banyak orang. Menurut Nurul, SDM di Indonesia harus lebih fokus pada meningkatkan kualitas dan relevansi kompetensi dengan kebutuhan industri teknologi.