Proses pengerjaan TKA (tes kemampuan akademik) di Indonesia menyebabkan kerumunan, karena beberapa guru dan siswa mengalami kesulitan dalam menghadapi pelaksanaannya. Menurut data dari Kemendikdasmen, hanya 84,02 persen siswa kelas XII SMA dan sederajat yang berhasil menyelesaikan ujian ini. Selain itu, banyak sekolah juga memasuki tahap susulan karena sistem jaringan internet tidak stabil dan listrik padam saat mengerjakan soal, sehingga mereka harus mengikuti TKA susulan.
Kesulitan teknis ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, seperti NTT, Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah. Sementara itu, pemerintah menyiapkan metode pembelajaran yang lebih menarik untuk siswa SMA dan sederajat agar dapat meningkatkan kemampuan numerasi mereka.
Dalam pelaksanaan TKA perdana ini juga terdapat kesenjangan dalam kualitas pembelajaran antara daerah-daerah dan sekolah-sekolah. Menurut Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, ada permasalahan terkait kompetensi guru yang belum mengimplementasikan pola pengajaran yang benar secara nyata.
Namun, pihak Kemendikdasmen berharap TKA perdana ini dapat menjadi momen tepat untuk memperbaiki kualitas pembelajaran siswa di Indonesia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyatakan bahwa nilai matematika siswa SMA dan sederajat dalam TKA 2025 tergolong rendah, tetapi bukan hanya disebabkan kemampuan numerasi murid yang rendah.
Kesulitan teknis ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, seperti NTT, Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah. Sementara itu, pemerintah menyiapkan metode pembelajaran yang lebih menarik untuk siswa SMA dan sederajat agar dapat meningkatkan kemampuan numerasi mereka.
Dalam pelaksanaan TKA perdana ini juga terdapat kesenjangan dalam kualitas pembelajaran antara daerah-daerah dan sekolah-sekolah. Menurut Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, ada permasalahan terkait kompetensi guru yang belum mengimplementasikan pola pengajaran yang benar secara nyata.
Namun, pihak Kemendikdasmen berharap TKA perdana ini dapat menjadi momen tepat untuk memperbaiki kualitas pembelajaran siswa di Indonesia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyatakan bahwa nilai matematika siswa SMA dan sederajat dalam TKA 2025 tergolong rendah, tetapi bukan hanya disebabkan kemampuan numerasi murid yang rendah.