Nilai TKA Rendah: Potret Kesenjangan Mutu Pendidikan Indonesia

Tekanan Kemampuan Akademik (TKA) SMA dan sederajat 2025 ini digelar secara serentak di seluruh Indonesia pada bulan November 2025. Namun, pelaksanaannya mengalami beberapa kesulitan, seperti masalah teknis dan kurangnya persiapan dari para siswa dan guru.

Menurut salah satu peserta TKA di NTT, Osi Noyan Estri Inul, dia tidak memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri sebelum pelaksanaan TKA. "Kami tunggu listrik menyala sejak itu," katanya.

Kendala lain yang dihadapi peserta adalah masalah teknis terkait sistem jaringan internet dan listrik yang ada saat mengerjakan soal. Beberapa siswa dipaksa mengikuti TKA susulan karena tidak dapat mengerjakan soal dalam waktu tertentu.

Guru juga mengeluh tentang kurangnya persiapan untuk pelaksanaan TKA ini. "Kami di sekolah sendiri tidak ada persiapan untuk TKA. Siswa kami sedang PKL, kebetulan kemarin siswa PKL-nya ada di Jember," kata Wilfridus Kado, guru honorer SMKN 7 Ende.

Terkait hasil keseluruhan nilai mata pelajaran wajib TKA yang rendah, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, mengakui bahwa masih ada kesenjangan kualitas pembelajaran antar daerah dan sekolah di Indonesia. "Ini dipengaruhi sumber daya, dukungan, dan tata kelola," katanya.

Meski demikian, pemerintah menyiapkan metode pembelajaran yang lebih menarik agar siswa lebih menyukai bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).
 
Aku rasa TKA ini kayak gini juga terjadi di masa lalu. Kamu coba ambil contoh SMA/Sederajat di daerah pesisir, ya? Mereka seringkali harus menghadapi kesulitan listrik dan akses internet. Sekarang kalau di era digital seperti ini, mereka dipaksa mengikuti TKA susulan karena tidak bisa mengerjakan soal waktu. Aku rasa pemerintah harus memperhatikan daerah-daerah terpencil dulu, bukan hanya sekedar menyiapkan metode pembelajaran yang lebih menarik.
 
aku paham kalau pelaksanaan TKA 2025 ini masih ada masalah teknis & kurangnya persiapan dari para siswa & guru... kayaknya perlu diatur waktu & sumber daya yang lebih baik agar semua siswa bisa siap sebelum pelaksanaannya... dan memang benar kalau ada kesenjangan kualitas pembelajaran antara daerah & sekolah, pemerintah harus segera menyelesaikan masalah ini...
 
Aku pikir TKA ini kayak giliran sekolah belajar di kelas anak-anak. Tapi aku rasa pemerintah Indonesia udah buat strategi yang benar-benar cerdas untuk meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya STEM. Misalnya, kamu harus mengikuti program pengembangan teknologi di sekolah dan bisa juga bikin aplikasi sendiri 🤖. Aku rasa itu kayak caranya membuat sistem pendidikan kita lebih seragam dan kompetitif dengan negara lain. Akan jadi keren banget Indonesia nanti! 😊
 
Maksudnya apa sih dengan TKA 2025? Sebelumnya saya sudah lama tunggu nanti TKA ini bisa dimulai karena gak ada yang ngehabiskan waktu ya. Padahal di tahun-tahun sebelumnya kita udah pernah ngikuti TKA, tapi tiba-tiba tidak ada lagi 😩

Saya pikir pemerintah harus lebih teliti dalam membuat program ini. Tidak hanya masalah teknis aja, tapi juga kesenjangan kualitas pembelajaran di daerah-daerah. Saya harap pemerintah bisa meningkatkan standar pendidikan kita di Indonesia agar semua siswa memiliki kesempatan yang sama 🤞

Gak percaya kalau ada guru yang harus ke sekolah lain karena mahasiswa PKL-nya ada di Jember 😂. Siapa tahu di masa depan pemerintah bisa membuat program pembelajaran yang lebih menarik dan bermanfaat untuk siswa kita 🎉
 
Gue pikir TKA di tahun ini agak bingung, bikin anak SMA banyak masalah teknis, jaringan internet lemot, listrik mati-mati, dan gus eto di sekolah. Gue bayangkan kalau kamu harus mengerjakan soal di tengah-tengah semuanya itu... 🤦‍♂️

Gue juga setuju dengan BSKAP, ada kesenjangan kualitas pembelajaran di Indonesia, karena masih banyak sekolah yang kurang persiapan. Gue harap pemerintah bisa menyelesaikannya, agar semua siswa dapat berpartisipasi dengan adanya TKA yang sama-sama. 🤞

Dan gue rasa pemerintah harus juga memperhatikan metode pembelajaran yang menarik, bukan hanya fokus pada STEM aja, tapi juga bidang lainnya seperti Bahasa dan IPS... 😊
 
Gampang aja masalahnya. Semua orang nggak siap, kayaknya. Mereka punya sumber daya yang kurang, dan guru juga tidak terpersiapkan. Tapi apa yang diharapkan, ya? Kita harus menunggu pemerintah untuk mengatasi kesenjangan itu dulu. Saya pikir ada solusi lain, kayaknya. Jangan hanya nggak siap, tapi coba ngatur keseimbangan antara pendidikan formal dan informal. Dengan demikian, siswa bisa lebih nyaman dalam menerima teknologi yang baru. Dan kalau sudah ada kesulitan, kita harus bantu satu sama lain, bukan menunggu pemerintah. 😊💻
 
kembali
Top