Neo Nazi dan Pergeseran Fenomena Terorisme

Pemerintah Indonesia menghadapi ancaman baru dari Neo Nazi dan White Supremacy yang semakin seragam. Menurut Densus 88 Antiteror Polri, total ada 70 anak di 19 Provinsi yang teridentifikasi menganut paham tersebut. Jakarta menjadi Provinsi tertinggi dengan total 15 anak, disusul oleh Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Penyebaran ideologi kekerasan ekstrem ini semakin menyebar melalui media sosial. Banyak pelajar yang terafiliasi ke dalam 27 grup atau saluran di platform media sosial seperti WhatsApp, Telegram, dan Facebook. Kelompok-kelompok ini tidak memiliki struktur atau organisasi secara nyata, tetapi serangan justru lebih banyak dilakukan oleh lone wolf (pelaku tunggal) yang menggunakan teknologi modern.

Pengamat intelijen dan Terorisme Universitas Indonesia, Stanlius Riyanta, menyebut peningkatan ideologi kekerasan ekstrem ini sejalan dengan meredupnya aksi teror dengan dasar paham radikal agama. Gelombang terorisme ini muncul seiring memudarnya pengaruh motif agama yang ditandai oleh 'Tribalisme Baru' dan kebangkitan Sayap Kanan Ekstrem.

Kelompok-kelompok ini cenderung ingin memisahkan diri dari sistem global atau menyerang mereka yang dianggap sebagai ancaman terhadap kemurnian identitas mereka, seperti kaum imigran atau minoritas. Penyebaran ideologi kekerasan ekstrem ini sangat terbantu oleh radikalisasi digital di internet.

Di sisi lain, Densus 88 menyatakan bahwa dari hasil pemeriksaan kepada 70 anak yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem, tidak semuanya mengerti dan memahami gagasan itu sendiri. Tidak sedikit yang hanya meniru atau terinspirasi dari kasus-kasus kekerasan di lingkungan sekolah dengan sasaran guru, teman atau pelaku perundungan (bully).
 
Saya penasaran apa sebenarnya membuat anak muda Indonesia begitu mudah terjebak dalam ideologi kekerasan ekstrem. Mereka sendiri yang menjadi korban bullying di sekolah kemudian terinspirasi untuk membalas dendam dengan cara yang sangat berbahaya.

Saya pikir penting bagi orang tua, guru, dan masyarakat untuk lebih terlibat dalam mengajarkan anak-anak tentang nilai-nilai kebaikan, empati, dan toleransi. Kita harus membuat lingkungan di sekolah menjadi tempat yang aman dan mendukung, bukan tempat yang memicu konflik.

Saya juga berharap pemerintah bisa bekerja sama dengan organisasi-organisasi non-pemerintah dan lembaga pendidikan untuk membantu mengurangi penyebaran ideologi kekerasan ekstrem di kalangan anak muda. Kita harus bekerja bersama untuk membuat Indonesia menjadi negara yang lebih harmonis dan sejahtera bagi semua orang 🤝💖
 
Paham aja, kalau tidak salah ada 70 anak aneh ini yang ngikut ideologi Neo Nazi dan White Supremacy. Jakarta jadi provinsi dengan banyaknya, aku bayak penasaran kenapa gitu. Mungkin karena Jokowi lagi-lagi jangan punya giliran di kantor, kalau nggak ada yang terpapar arogansi itu, kalau punya anak-anak Indonesia lainnya, jadi sih mereka langsung mengikuti ide-ide aneh ini.
 
Gue jujur aja, aneh banget kalau anak-anak muda Indonesia mulai menganut paham Neo Nazi dan White Supremacy ya 😂. Gue pikir mereka lebih sibuk nggak urus hidup di sekolah, bukan fokusin banget pada ideologi kekerasan ekstrem. Dan apa sih dengan 'Tribalisme Baru' yang bikin mereka ingin memisahkan diri dari sistem global? Ngerasa gue dituduh bengkel-bengkel aja 🙄. Yang paling aneh lagi, banyak yang hanya meniru atau terinspirasi dari kasus-kasus kekerasan di lingkungan sekolah... nanggung banget sih 😒. Gue rasa gini kalau kita harus jujur, anak-anak muda Indonesia masih belum ngerti apa-apa tentang hidup ya 🤦‍♂️.
 
Aku pikir ancaman ini memang serius, tapi aku rasa masih banyak yang tidak jelas. Tapi apa salahnya kalau kita fokus buat mencegahnya? Mereka yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem itu, gimana caranya kita bisa membantu mereka agar tidak masuk ke dalam jalur yang salah? Aku pikir kita perlu membuat program pendidikan yang lebih baik lagi, agar mereka tahu apa yang benar dan salah. Dan juga, kita harus membuat komunitas yang positif di media sosial, buat orang-orang bisa berbagi hal-hal positif aja. Kita tidak harus membela atau mempromosikan yang salah, tapi kita bisa memberikan contoh yang baik. 🤔
 
Kalau kalian lihat, ideologi Neo Nazi dan White Supremacy memang semakin populer di kalangan anak muda Indonesia. Saya rasa ini karena banyak sekali konten yang bervariasi di media sosial, membuat anak-anak tergoda dengan hal itu 🤔. Tapi, gampangnya cara memahami siapa itu Neo Nazi dan White Supremacy, sih, kalau kita lihat dari definisi yang sebenarnya, itu bukan tentang ras atau agama, tapi tentang ideologi yang berbahaya dan tidak bisa diakui 😒. Saya khawatir jika kita tidak sengaja membiarkan anak-anak terpopuler dengan hal ini, nanti apa yang akan terjadi 🤷‍♂️?
 
Gue rasa ini bikin aku sangat kesal! 🤯 Aku pikir kita sudah cukup banyak menghadapi isu-isu seperti korupsi dan kemacetan lalu lintas di Jakarta, tapi sayangnya ada kalanya juga ada permasalahan yang lebih serius seperti ini. 👎 Neo Nazi dan White Supremacy, itu tidak bisa dibenarkan! 🚫 Aku rasa kita harus lebih teliti dalam memilih informasi di media sosial, karena kadang-kadang kita salah membaca atau salah mengerti.

Aku juga rasa ini perlu dibicarakan oleh orang-orang yang lebih bijak dan berpengalaman, seperti Stanlius Riyanta. 🙏 Aku harap pemerintah bisa memberikan solusi yang tepat untuk menghadapi masalah ini dan mencegah agar tidak ada anak-anak muda Indonesia terjebak dalam ideologi kekerasan ekstrem. 💡
 
"Anak-anak muda Indonesia ini jangan dibebaskan dari pandangan orang dewasa ya! Paham kekerasan ekstrem itu gila banget, tapi kalau kita jujur, masih banyak yang nggak paham apa artinya itu sendiri. Mereka hanya nggak suka dengan orang lain karena berbeda. Tapi kita harus waspada, karena penyebaran ideologi kekerasan ekstrem ini bisa cepat menyebar melalui media sosial. Kita harus jadi pengawas dan pendidik untuk mereka. Kalau kita tidak, nanti gila itu akan semakin beredar dan bisa menjadi bencana" 🚨
 
Makanya kayaknya kita harus teliti banget kalo anak-anak kita nontrol di media sosial. Aku rasa kalau mereka terkena kekerasan ekstrem itu, aku akan panik kan? Nanti siapa tahu kasusnya udah begitu parah... Saya bayangkan kalau sahabat sekolamaku yang sering ngobrol dengan anak-anak online ini, nanti mau dianggap ancaman oleh mereka apa? Aku rasa kita harus ada cara untuk mengawasi dan memantau aktivitas anak-anak kita di media sosial, supaya gak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
 
Gue pikir kalau penyebaran ideologi kekerasan ekstrem di sekolah ini bukan cuma isu kelompok-kelompok netral yang bikin propaganda, tapi juga ada hal lainnya... Gue rasa kita perlu fokus pada bagaimana cara kita bisa membuat lingkungan sekolah yang lebih positif dan aman bagi semua murid. Mungkin kita bisa membuat program-program yang bermanfaat seperti "Bantuan Hati" atau "Mediation" di sekolah, jadi siapa pun yang mengalami masalah bisa berbicara tentang hal itu tanpa takut disangkutute.
 
kembali
Top