NasDem Usul Ambang Batas Parlemen Jadi 5-7 Persen di RUU Pemilu
Partai NasDem punya usulan ambang batas parlemen, yaitu kenaikan dari 4 persen menjadi 5 hingga 7 persen. Menurut Rifqy, ambang batas ini menjadi jalan tengah yang pas dari ambang batas saat ini yakni 4 persen. Ia bilang, "Di atas 4 persen, angka moderatnya mungkin di atas 5 persen, (sekitar) 6 atau 7 persen."
Menurut partai politik itu, ambang batas parlemen adalah keniscayaan dalam sistem demokrasi perwakilan. NasDem percaya bahwa partai politik yang sehat adalah partai yang terlembaga, memiliki basis suara yang jelas, serta ideologi yang kuat.
Dengan adanya ambang batas, maka parpol dipaksa untuk membenahi dirinya agar mereka memperkuat strukturnya dan mendapatkan suara yang cukup signifikan di dalam setiap pemilu. Selain itu, kenaikan ambang batas juga dianggap penting untuk menghadirkan pemerintahan yang efektif.
Rifqi bilang bahwa jika terlalu banyak partai di parlemen, berpotensi melemahkan efektivitas pengambilan keputusan serta menghadirkan mekanisme check and balances yang kurang sehat. Ia juga mengakui bahwa ada kerugian dari ambang batas, yaitu suara-suara yang tidak masuk ambang batas itu tidak bisa terkonversi ke dalam kursi.
Tapi, itu adalah konsekuensi dari sebuah keinginan kita untuk lebih mematangkan demokrasi keterwakilan kita di parlemen.
Partai NasDem punya usulan ambang batas parlemen, yaitu kenaikan dari 4 persen menjadi 5 hingga 7 persen. Menurut Rifqy, ambang batas ini menjadi jalan tengah yang pas dari ambang batas saat ini yakni 4 persen. Ia bilang, "Di atas 4 persen, angka moderatnya mungkin di atas 5 persen, (sekitar) 6 atau 7 persen."
Menurut partai politik itu, ambang batas parlemen adalah keniscayaan dalam sistem demokrasi perwakilan. NasDem percaya bahwa partai politik yang sehat adalah partai yang terlembaga, memiliki basis suara yang jelas, serta ideologi yang kuat.
Dengan adanya ambang batas, maka parpol dipaksa untuk membenahi dirinya agar mereka memperkuat strukturnya dan mendapatkan suara yang cukup signifikan di dalam setiap pemilu. Selain itu, kenaikan ambang batas juga dianggap penting untuk menghadirkan pemerintahan yang efektif.
Rifqi bilang bahwa jika terlalu banyak partai di parlemen, berpotensi melemahkan efektivitas pengambilan keputusan serta menghadirkan mekanisme check and balances yang kurang sehat. Ia juga mengakui bahwa ada kerugian dari ambang batas, yaitu suara-suara yang tidak masuk ambang batas itu tidak bisa terkonversi ke dalam kursi.
Tapi, itu adalah konsekuensi dari sebuah keinginan kita untuk lebih mematangkan demokrasi keterwakilan kita di parlemen.