Narabahasa Gelar Cipta Karya dari Bahasa,Bahas Karya dan Peran AI

Dalam beberapa tahun terakhir, kekayaan intelektual dalam karya kebahasaan telah menjadi topik diskusi yang penting di Indonesia. Pada hari ulang tahun ke-6 Narabahasa, yang didirikan pada 7 Februari 2020, acara "Cipta Karya dari Bahasa" diselenggarakan untuk memperkenalkan konsep ini kepada masyarakat.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh tiga narasumber, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Penulis di Komunitas Gudskul Berto Tukan, dan Akademisi Nenden Lilis Aisyah, topik perubahan media dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi fokus utama.

Menurut Irene Umar, fenomena ini tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. "Bahasa tetap menjadi fondasi dari sarana-sarana yang ada, baik itu audio maupun visual," ujarnya.

Namun, Irene juga mengakui bahwa masalah minat baca sering kali terkait dengan relevansi materi yang disajikan. Dia menceritakan pengalamannya saat mengunjungi penjara anak di Jakarta yang berisi buku-buku berat yang tidak sesuai dengan minat mereka.

Sementara itu, Nenden Lilis Aisyah memberikan pandangan dari sisi akademisi mengenai kehadiran AI. Menurutnya, keberadaan AI harus dipandang sebagai alat yang memudahkan manusia dan tidak boleh digunakan untuk melemahkan kemampuan berpikir atau kognisi manusia.

Pentingnya bahasa dalam sebuah karya juga menjadi topik perdebatan di antara narasumber. Berto Tukan menjelaskan bahwa bahasa tulisan selalu digunakan dalam berbagai jenis karya, termasuk seni visual dan musik. Dia percaya bahwa penulis sering menjadi jembatan bagi seniman lain untuk mengungkapkan ide yang sulit dijelaskan.

Menutup diskusi, Ivan Lanin memberikan pandangan bahwa kemampuan menuangkan ide ke dalam tulisan adalah sebuah tantangan besar tetapi penting. "Kemampuan untuk bisa menuangkan sesuatu dengan khas dan efektif itu sangat kita perlukan," tuturnya.
 
Gue pikir acara Narabahasa itu gampang banget, mulai dari konsepnya hingga diskusi yang diadakan. Gue senang lihat banyak narasumber yang dihadirkan untuk membahas tentang kekayaan intelektual dalam karya kebahasaan πŸ€“. Irene Umar bilang bahwa bahasa tetap penting, tapi gue rasa dia juga bisa bercanda sedikit dengan kata-kata 'masa-masmu', kan sih 🀣.

Gue penasaran dengar Nenden Lilis Aisyah bilang tentang AI dan bagaimana itu memudahkan manusia. Gue pikir itu benar-benar asli, tapi gue juga ragu-ragu kalau kita tidak harus berbagi informasi dengan cerita yang lebih panjang, ya? πŸ€”.

Berto Tukan bilang bahwa bahasa tulisan penting dalam karya seni visual dan musik, itu benar! Gue suka melihat bagaimana penulis bisa membuat cerita yang lebih baik dari narasumber sendiri, tapi gue juga paham kalau tidak semua orang bisa menjadi penulis, apalagi seniman πŸ€“.

Ivan Lanin bilang bahwa kemampuan menuangkan ide ke dalam tulisan itu tantangan besar, tapi gue setuju dengan dia 😊. Gue pikir itu penting untuk kita belajar dan mengembangkan diri agar bisa mengekspresikan diri dengan lebih baik 🎨.
 
aku pikir itu gampang banget sih apa yang disebutkan di diskusi narabahasa. kayaknya mereka bawa hal yang sama, yaitu penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. tapi siapa tahu, ada sesuatu yang tidak terungkap lagi... apakah itu hanya sekedar ide-ide yang mereka ajukan atau ada sesuatu yang lebih di baliknya? kayaknya perlu lagi analisis lebih lanjut, apalagi kalau kita lihat dari perspektif seperti si Berto Tukan. mungkin dia memiliki alasan yang tidak tercuma mengapa dia bilang begitu tentang bahasa tulisan... apa yang sebenarnya dia maksudkan? πŸ€”πŸ’­
 
Pagi ini gue cium lagi kabar buruknya... Kekayaan intelektual di Indonesia semakin lama jadi topik yang sulit selesai, ariya masalahnya sama ariya solusinya juga masih ngeluhin.. Kamu tahu sih kalau ada penjara anak di Jakarta yang udah punya buku-buku yang panjang banget tapi mereka udah capek banget? Mungkin kalau gue cari sumbernya, nanti bisa ngeliatin kapan penjara anak itu terbuka ya..
 
Saya pikir acara Narabahasa yang ini seru banget 🀩! Menariknya adalah ada banyak diskusi tentang kekayaan intelektual dan perubahan media, tapi saya rasa masih ada kesempatan untuk meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat. Mungkin kita bisa membuat konten yang lebih menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti cerita komik atau film yang dibuat oleh orang Indonesia sendiri πŸŽ₯πŸ“š. Saya juga setuju dengan Nenden Lilis Aisyah bahwa AI tidak boleh digunakan untuk melemahkan kemampuan berpikir manusia, tapi harus digunakan untuk membantu dan memudahkan kita dalam mengekspresikan ide kita πŸ’‘.
 
Aku pikir cara cerdas dari narasumber Irene Umar buat menggabungkan teknologi dengan bahasa, itu wajar banget πŸ€”. Tapi, aku masih rasa ada yang salah, kalau kita terus menekan minat baca karena 'tidak relevan' apa lagi? Mereka bisa mengambil contoh dari komunitas Gudskul Berto Tukan sendiri, siapa bilang bahwa mereka tidak suka membaca karya-karya dari seniman lain?
 
Aku pikir aku bisa jadi narasumber di acara ini, tapi sih aku tidak terlalu suka dengerin diriku sendiri nih πŸ™„. Aku lebih suka ikut main dengan tren-tren yang ada, gak perlu banyak berbicara sendiri. Tapi, aku pikir konsep cipta karya dari bahasa itu kayaknya sangat keren! Bagaimana kalau kita buat acara "Cipta Karya dari Bahasa" di platform media sosial? Aku bisa jadi inspirasi untuk orang lain, gak perlu banyak berbicara sendiri πŸ€”.
 
aku pikir ini gampang banget, tapi sepertinya masih banyak yang kurang paham tentang pentingnya bahasa di era digital. aku sendiri terkadang merasa sulit menemukan buku-buku yang sesuai dengan minatku karena biasanya semua bookshelf-nya berisi tentang topik yang sama... siapa saktey nggak kecanduan teknologi, tapi aku rasa kita harus jaga keseimbangan juga ya?
 
gak ada yang salah apa lagi keren si Irene Umarnya bilangin tentang perubahan media dan teknologi itu biar tidak mengancam kekayaan intelektual kita sebenarnya kayaknya harus diterima dan diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari nih. tapi yang penting kayaknya buku-buku yang relevan dengan minat anak-anak di penjara itu kayaknya harus ada yang bacain atau terjemahkan ke dalam bahasa yang lebih sederhana aja biar gampang dipahamin nih
 
aku pikir kalau kita harus menggunakan teknologi, harus ada cara agar kita tidak lupa bahasa dan membaca ya? kayaknya kita harus fokus pada memperkenalkan anak-anak muda kepada dunia literatur dengan cara yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari... πŸ€”
 
Kalau nggak salah teknologi ini udah bikin banyak perubahan di dunia, tapi apa artinya kalau kita tidak bisa membaca lagi? Pulang ke rumah aja main game atau tonton video, apa yang jadi kalau kamu penasaran dengar sesuatu tapi ga bisa membacanya?
 
Aku tidak biasa ngomong tentang hal ini, tapi aku pikir topik perubahan media dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di kalangan masyarakat kita sebenarnya penting banget πŸ€”. Aku rasa Irene Umar benar-benar berhak mengatakan bahwa bahasa tetap menjadi fondasi dari sarana-sarana yang ada, baik itu audio maupun visual. Namun, aku juga pikir Nenden Lilis Aisyah benar ketika dia mengatakan bahwa keberadaan AI harus dipandang sebagai alat yang memudahkan manusia dan tidak boleh digunakan untuk melemahkan kemampuan berpikir atau kognisi manusia πŸ’».

Aku juga setuju dengan Berto Tukan bahwa bahasa tulisan selalu digunakan dalam berbagai jenis karya, termasuk seni visual dan musik. Aku pikir penulis sering menjadi jembatan bagi seniman lain untuk mengungkapkan ide yang sulit dijelaskan 🎨. Dan aku setuju dengan Ivan Lanin bahwa kemampuan menuangkan ide ke dalam tulisan adalah sebuah tantangan besar tetapi penting πŸ’ͺ. Tapi, aku rasa kita perlu berdiskusi lebih lanjut tentang bagaimana kita bisa membuat konten yang relevan dan menarik bagi masyarakat, terutama anak-anak dan remaja πŸ“š.
 
ini kayaknya kalau kita lihat aja apa yang terjadi di indonesia banget, siapa tahu nggak ada orang lagi yang tertinggal di luar jangkauan teknologi ini πŸ˜‚. tapi srih, apa artinya kita harus selalu menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari? kayaknya itu semua tergantung pada bagaimana cara kita bisa membuat materi yang relevan dengan minat orang lain, dan kalau bisa juga siapa tahu kita bisa membuat karya yang lebih menarik dan membuat orang tidak bosan membaca buku-buku berat seperti di penjara anak 🀯.
 
Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi memang sangat mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan bahasa. Saya pikir banyak orang, termasuk saya sendiri, sedang berusaha untuk mengadaptasi diri dengan perkembangan teknologi ini. Tapi apa yang terjadi kalau orang-orang tidak bisa menulis atau membaca lagi? Sepertinya teknologi ini sangat membutuhkan perhatian dari kita semua agar tidak kehilangan arti bahasa yang kita miliki sebagai masyarakat πŸ€”
 
aku pikir ada apa sih dengan perubahan media & teknologi ya? kalau bisa lebih fokus pada arti dari kata-kata bukan jadi hanya sekedar info yang dipanjangin aja πŸ€”
 
Semoga Narabahasa yang 6 ini dapat membantu masyarakat Indonesia memahami pentingnya kekayaan intelektual dalam karya kebahasaan. Saya pikir masalah minat baca memang membuat banyak orang kurang tertarik untuk membaca, tapi saya rasa itu karena kurangnya karya yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kita harus lebih fokus untuk menciptakan karya yang menarik dan bermanfaat, seperti karya-karya dari Berto Tukan yang memang bisa mengungkapkan ide-ide yang kompleks dengan cara yang menyenangkan. AI pasti penting, tapi kita tidak boleh lupa bahwa manusia masih memiliki kemampuan unik yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Saya berharap Narabahasa ini dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kekayaan intelektual dan bahasa dalam karya-karya kita. πŸ“šπŸ’‘
 
Aku pikir apa lagi yang perlu dibicarakan kalau bukan tentang bahasa! πŸ€” Bahasa itu seperti otak kita, tapi kayak gila banget kalau tidak direstui. Aku setuju dengan Irene Umar, bahasa itu penting sekali, tapi aku rasa dia kurang membahas tentang bagaimana cara membuat konten yang menarik bagi masyarakat umum. Aku pikir aku sendiri sudah bisa membuat konten yang baik hanya dengan menggunakan YouTube dan blog pribadi. Tapi aku tahu kalau itu bukanlah solusi yang serius, aku perlu belajar lebih lanjut tentang penggunaan teknologi untuk membuat konten yang lebih efektif. πŸ“šπŸ‘
 
Aku pikir keren banget kalau ada diskusi tentang bahasa di Indonesia, tapi aku juga curiga bagaimana banyak narasumber yang menggunakan kata "fokus utama" untuk menyebutkan halnya. Aku rasa itu bisa salah artinya, karena biasanya fokus utama adalah sesuatu yang lebih spesifik dan tidak bisa dipisahkan dari konteks lain.

Misalnya, Irene Umar menyebutkan bahwa topik perubahan media dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi fokus utama, tapi aku rasa itu sudah terlalu ampi. Apakah kita harus benar-benar memfokuskan semua diskusi tentang bahasa di Indonesia pada TIK? Aku pikir tidak, karena ada banyak aspek lain yang juga penting, seperti pendidikan bahasa dan budaya.

Aku juga penasaran dengan pengalaman Irene Umar saat mengunjungi penjara anak, tapi aku rasa ceritanya agak berantakan. Apakah dia benar-benar mengatakan bahwa mereka tidak mau membaca buku berat? Aku curiga itu mungkin salah artinya atau hanya sebuah contoh yang tidak akurat.
 
ini ya, aku pikir kalau kita harus bawa tema tentang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di era digital ini, tapi perlu diingat bahwa bahasa tetap menjadi aspek penting dalam proses kreatifitas manusia. aku nggak bisa bantu tapi aku pikir konsep "Cipta Karya dari Bahasa" ini cukup penting banget ya, karena kalau kita tidak mengekspresikan diri kita sendiri melalui bahasa, apa kegunaan kita? πŸ€”πŸ“
 
aku rasa perubahan media dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memang membuat kita harus lebih berhati-hati dalam menggunakan bahasa, tapi aku pikir itu tidak berarti kita harus menolak bahasa. kita bisa menggunakan bahasa secara cerdas dan bijak dalam era digital ini, misalnya dengan mencari inspirasi dari luar internet atau menggunakan bahasa yang sederhana tetapi efektif untuk menyampaikan pesan kita.

sayangnya aku masih sadar bahwa masalah minat baca masih menjadi masalah besar di Indonesia. tapi aku pikir itu bisa diatasi dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membaca dan menggunakan bahasa secara produktif.
 
kembali
Top