Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) era Muhadjir Effendy, yang menjabat dari tahun 2016-2019, mengelola pengadaan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) di era tersebut. Nadiem Anwar Makarim, yang terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook, mengungkit perbedaan besar antara pengelolaan TIK di era Muhadjir dengan era-eranya sendiri.
Menurut Nadiem, anggaran untuk pengadaan Chromebook berkurang secara signifikan selama masa pemerintahannya. Pada tahun 2019, anggaran untuk TIK mencapai Rp1,68 triliun, tetapi saat Nadiem menjabat sebagai menteri dari tahun 2020-2024, anggaran tersebut turun menjadi Rp763 miliar pada tahun 2020, Rp1,3 triliun pada tahun 2021, dan Rp1,567 triliun pada tahun 2022.
Nadiem mengungkit bahwa perubahan besar dalam anggaran TIK ini berarti program digitalisasi pendidikan di era Muhadjir tidak efektif dalam mencapai tujuannya. Ia juga menunjukkan kesamaan antara pengadaan Chromebook dan Android, yaitu keduanya diproduksi oleh Google.
Pernyataan Nadiem ini menimbulkan pertanyaan mengenai keaslian program digitalisasi pendidikan di era Muhadjir. Apakah program tersebut hanya sebuah pemicu untuk memperoleh dana, atau apakah sebenarnya memiliki tujuan yang lebih baik?
Menurut Nadiem, anggaran untuk pengadaan Chromebook berkurang secara signifikan selama masa pemerintahannya. Pada tahun 2019, anggaran untuk TIK mencapai Rp1,68 triliun, tetapi saat Nadiem menjabat sebagai menteri dari tahun 2020-2024, anggaran tersebut turun menjadi Rp763 miliar pada tahun 2020, Rp1,3 triliun pada tahun 2021, dan Rp1,567 triliun pada tahun 2022.
Nadiem mengungkit bahwa perubahan besar dalam anggaran TIK ini berarti program digitalisasi pendidikan di era Muhadjir tidak efektif dalam mencapai tujuannya. Ia juga menunjukkan kesamaan antara pengadaan Chromebook dan Android, yaitu keduanya diproduksi oleh Google.
Pernyataan Nadiem ini menimbulkan pertanyaan mengenai keaslian program digitalisasi pendidikan di era Muhadjir. Apakah program tersebut hanya sebuah pemicu untuk memperoleh dana, atau apakah sebenarnya memiliki tujuan yang lebih baik?