Dakwaan Nadiem Makarim sebagai pengambil keputusan utama dalam peralihan sistem operasi laptop bantuan sekolah dari Windows ke Chrome OS ternyata tidak berdasar, kata eksepsi pribadi menteri.
Nadiem menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak cermat karena mengabaikan pembagian kewenangan di internal kementerian. Ia juga membeberkan bahwa selama lima tahun menjabat sebagai menteri, ia hanya pernah menghadiri satu kali rapat mengenai kebijakan perbandingan Chrome OS dengan Windows pada 6 Mei 2020.
Dalam rapat tersebut, ia hanya mendengarkan paparan rekomendasi dari tim teknis yang sudah mengerucut pada penggunaan Chrome OS. "Chrome OS diputuskan di tahun 2020 oleh dirjen dan direktorat terkait. Dan meskipun menurut saya keputusan Chrome OS sangat masuk akal, tidak ada satupun tanda tangan saya dalam keputusan [memilih] Chrome OS selama 2020," terang Nadiem.
Nadiem juga menyatakan bahwa ia tidak memiliki niat jahat untuk memenangkan Google (Chrome OS). Ia menandatangani Permendikbud Nomor 11 Tahun 2020, yang lampiran teknisnya mencantumkan Windows sebagai sistem operasi tunggal.
Nadiem menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak cermat karena mengabaikan pembagian kewenangan di internal kementerian. Ia juga membeberkan bahwa selama lima tahun menjabat sebagai menteri, ia hanya pernah menghadiri satu kali rapat mengenai kebijakan perbandingan Chrome OS dengan Windows pada 6 Mei 2020.
Dalam rapat tersebut, ia hanya mendengarkan paparan rekomendasi dari tim teknis yang sudah mengerucut pada penggunaan Chrome OS. "Chrome OS diputuskan di tahun 2020 oleh dirjen dan direktorat terkait. Dan meskipun menurut saya keputusan Chrome OS sangat masuk akal, tidak ada satupun tanda tangan saya dalam keputusan [memilih] Chrome OS selama 2020," terang Nadiem.
Nadiem juga menyatakan bahwa ia tidak memiliki niat jahat untuk memenangkan Google (Chrome OS). Ia menandatangani Permendikbud Nomor 11 Tahun 2020, yang lampiran teknisnya mencantumkan Windows sebagai sistem operasi tunggal.