Nadiem yang Merugi Saat Jadi Menteri, Kekayaannya Justru Menyusut.
Bisnis.com, Senin (5/1/2026)
Menjawab tuduhan memperkaya diri sebesar Rp809 miliar dalam proyek Chromebook, Nadiem Anwar Makarim, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan kekayaannya menyusut saat menjadi menteri. Ia mengklaim tidak mencari materi saat menjabat sebagai menteri, melainkan mengabdi selama lima tahun.
"Selama lima tahun mengabdi sebagai menteri justru kekayaan saya menyusut. Hilanglah kesempatan saya untuk mendapatkan saham tambahan yang diberikan kepada para pimpinan Gojek setelah saya keluar. Hilanglah gaji besar saya. Hilanglah ketenangan batin saya," ucap Nadiem di Ruang Sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).
Nadiem menceritakan bahwa saat menerima amanah dari Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), ia harus meninggalkan posisi puncaknya di Gojek. Keputusan tersebut membuatnya kehilangan gaji besar dan kesempatan untuk mendapatkan tambahan saham yang biasanya diberikan kepada pimpinan perusahaan.
"Saya sempat dibujuk oleh orang-orang terdekat saya untuk menolak jabatan menteri karena risiko reputasi dan kerugian finansial. Namun, pendiri Gojek itu memilih untuk tetap maju lantaran merasa terpanggil oleh negara," ucapnya.
Nadiem mengaku tidak mencari materi saat menjabat sebagai menteri, melainkan mengabdi selama lima tahun. Ia memilih jalan yang sulit dan tidak nyaman, padahal hatinya penuh dengan kesedihan musibah yang ia hadapi sekarang.
"Dia memilih jalan yang sulit. Dia memilih jalan yang tidak nyaman. Dan walaupun hati saya penuh dengan kesedihan dengan musibah yang saya hadapi sekarang, saya tidak pernah menyesali keputusan saya untuk menerima amanah sebagai menteri," tambahnya.
Di pengadilan, Nadiem membenarkan nilai saham GoTo yang melambung saat Initial Public Offering (IPO) membuat lonjakan kekayaannya. Namun, seiring dengan anjloknya harga saham GoTo di pasar publik, nilai kekayaan Nadiem turun drastis.
"Di tahun 2023, saat kisaran harga saham Goto drop ke sekitar Rp100, total kekayaan saya pun turun drastis ke Rp906 M. Di tahun 2024, di mana kisaran harga GoTo drop lagi ke Rp70-80/saham, kekayaan saya turun lagi ke Rp600 M," terangnya.
Nadiem menegaskan bahwa tuduhan memperkaya diri sebesar Rp809 miliar dalam proyek Chromebook sangat bertolak belakang dengan realita kariernya. Menurutnya, jika tujuannya adalah mencari harta, ia akan tetap bertahan di dunia bisnis di mana semua pintu kesuksesan terbuka lebar baginya.
"Selama saya tidak menguasai bidang birokrasi, pendidikan maupun politik maka saya harus cepat belajar dari orang-orang yang kenal dunia pendidikan dan birokrasi tapi memiliki integritas. Karena inilah saya mengumpulkan tim muda yang idealis dan kompeten sebagai staf khusus saya," imbuhnya.
Sementara itu, Jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Agung menjelaskan bahwa Nadiem menerima uang sebesar Rp809.596.125.000 dari PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB) melalui PT Gojek Indonesia.
Bisnis.com, Senin (5/1/2026)
Menjawab tuduhan memperkaya diri sebesar Rp809 miliar dalam proyek Chromebook, Nadiem Anwar Makarim, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan kekayaannya menyusut saat menjadi menteri. Ia mengklaim tidak mencari materi saat menjabat sebagai menteri, melainkan mengabdi selama lima tahun.
"Selama lima tahun mengabdi sebagai menteri justru kekayaan saya menyusut. Hilanglah kesempatan saya untuk mendapatkan saham tambahan yang diberikan kepada para pimpinan Gojek setelah saya keluar. Hilanglah gaji besar saya. Hilanglah ketenangan batin saya," ucap Nadiem di Ruang Sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).
Nadiem menceritakan bahwa saat menerima amanah dari Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), ia harus meninggalkan posisi puncaknya di Gojek. Keputusan tersebut membuatnya kehilangan gaji besar dan kesempatan untuk mendapatkan tambahan saham yang biasanya diberikan kepada pimpinan perusahaan.
"Saya sempat dibujuk oleh orang-orang terdekat saya untuk menolak jabatan menteri karena risiko reputasi dan kerugian finansial. Namun, pendiri Gojek itu memilih untuk tetap maju lantaran merasa terpanggil oleh negara," ucapnya.
Nadiem mengaku tidak mencari materi saat menjabat sebagai menteri, melainkan mengabdi selama lima tahun. Ia memilih jalan yang sulit dan tidak nyaman, padahal hatinya penuh dengan kesedihan musibah yang ia hadapi sekarang.
"Dia memilih jalan yang sulit. Dia memilih jalan yang tidak nyaman. Dan walaupun hati saya penuh dengan kesedihan dengan musibah yang saya hadapi sekarang, saya tidak pernah menyesali keputusan saya untuk menerima amanah sebagai menteri," tambahnya.
Di pengadilan, Nadiem membenarkan nilai saham GoTo yang melambung saat Initial Public Offering (IPO) membuat lonjakan kekayaannya. Namun, seiring dengan anjloknya harga saham GoTo di pasar publik, nilai kekayaan Nadiem turun drastis.
"Di tahun 2023, saat kisaran harga saham Goto drop ke sekitar Rp100, total kekayaan saya pun turun drastis ke Rp906 M. Di tahun 2024, di mana kisaran harga GoTo drop lagi ke Rp70-80/saham, kekayaan saya turun lagi ke Rp600 M," terangnya.
Nadiem menegaskan bahwa tuduhan memperkaya diri sebesar Rp809 miliar dalam proyek Chromebook sangat bertolak belakang dengan realita kariernya. Menurutnya, jika tujuannya adalah mencari harta, ia akan tetap bertahan di dunia bisnis di mana semua pintu kesuksesan terbuka lebar baginya.
"Selama saya tidak menguasai bidang birokrasi, pendidikan maupun politik maka saya harus cepat belajar dari orang-orang yang kenal dunia pendidikan dan birokrasi tapi memiliki integritas. Karena inilah saya mengumpulkan tim muda yang idealis dan kompeten sebagai staf khusus saya," imbuhnya.
Sementara itu, Jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Agung menjelaskan bahwa Nadiem menerima uang sebesar Rp809.596.125.000 dari PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB) melalui PT Gojek Indonesia.