Mundurnya tiga pejabat tinggi OJK menghantam pasar modal Indonesia dalam kesan pertaruhan besar untuk memulihkan kepercayaan publik dan integritas pasar, menurut analis pasar modal Republik Investor Hendra Wardana. Langkah drastis ini dinilai sebagai bentuk tanggung jawab moral karena meningkatnya kritik publik terhadap efektivitas pengawasan dan lambatnya reformasi pasar modal.
Hendra mengatakan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar isu teknis jangka pendek, melainkan akumulasi masalah struktural yang selama ini tertunda penyelesaiannya. Ia menilai posisi yang ditinggalkan berada di jantung arsitektur pengawasan pasar, mulai dari perumusan kebijakan strategis, pengawasan perdagangan emiten, implementasi reformasi struktural seperti standar transparansi, kepemilikan saham, free float, dan tata kelola bursa.
Ketidakpastian kepemimpinan regulator menjadi "pil pahit" bagi investor, terutama investor asing yang sangat mementingkan stabilitas. Absennya kepastian ini memperbesar tekanan psikologis dan memicu sikap defensif. Dinamika ini tercermin jelas pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami volatilitas ekstrem.
"Rentang yang luas tersebut mencerminkan tarik-menarik kuat antara sentimen negatif akibat ketidakpastian institusional dan upaya bargain hunting pada saham-saham berfundamental kuat," jelas Hendra. Pola pergerakan ini mengindikasikan pasar belum memiliki arah yang solid.
Mundurnya pejabat yang membawahi pengawasan pasar modal memperkuat persepsi bahwa agenda reformasi membutuhkan pendekatan yang jauh lebih tegas. Pasar menuntut konsistensi dan keberanian dalam penegakan aturan, khususnya terhadap emiten dan pelaku pasar yang gagal memenuhi standar tata kelola (GCG).
Hendra mengatakan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar isu teknis jangka pendek, melainkan akumulasi masalah struktural yang selama ini tertunda penyelesaiannya. Ia menilai posisi yang ditinggalkan berada di jantung arsitektur pengawasan pasar, mulai dari perumusan kebijakan strategis, pengawasan perdagangan emiten, implementasi reformasi struktural seperti standar transparansi, kepemilikan saham, free float, dan tata kelola bursa.
Ketidakpastian kepemimpinan regulator menjadi "pil pahit" bagi investor, terutama investor asing yang sangat mementingkan stabilitas. Absennya kepastian ini memperbesar tekanan psikologis dan memicu sikap defensif. Dinamika ini tercermin jelas pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami volatilitas ekstrem.
"Rentang yang luas tersebut mencerminkan tarik-menarik kuat antara sentimen negatif akibat ketidakpastian institusional dan upaya bargain hunting pada saham-saham berfundamental kuat," jelas Hendra. Pola pergerakan ini mengindikasikan pasar belum memiliki arah yang solid.
Mundurnya pejabat yang membawahi pengawasan pasar modal memperkuat persepsi bahwa agenda reformasi membutuhkan pendekatan yang jauh lebih tegas. Pasar menuntut konsistensi dan keberanian dalam penegakan aturan, khususnya terhadap emiten dan pelaku pasar yang gagal memenuhi standar tata kelola (GCG).