Mi Instan Dikonsumsi dengan Cara Berbeda untuk Meningkatkan Kualitas Gizi
Konsumsi mi instan sering kali dianggap sebagai makanan yang tidak sehat karena kandungan natrium dan lemaknya yang tinggi. Namun, Anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, mengemukakkan bahwa mi instan tetap bisa dikonsumsi dengan cara yang lebih sehat jika dilakukan dengan benar.
Pertama-tama, langkah utama untuk menekan risiko kesehatan dari mi instan adalah dengan mengontrol asupan natrium. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi penggunaan bumbu instan bawaan dan menggantinya dengan bumbu dapur alami.
Contohnya, jika memasak untuk porsi keluarga sebanyak lima orang, cukup gunakan tiga bungkus bumbu bubuk saja. Kekurangan rasanya dapat ditutupi dengan menambahkan tumisan bawang merah, bawang putih, kemiri, hingga cabai segar. Langkah ini efektif untuk memangkas asupan garam tanpa menghilangkan cita rasa makanan.
Selain itu, mi instan perlu dilengkapi dengan zat gizi lain agar lebih seimbang. Diah menyarankan penambahan lauk hewani seperti telur, ayam suwir, atau ikan sebagai sumber protein. Sayuran hijau seperti sawi, kangkung, ketimun, atau tomat juga harus disertakan karena menyedia kalium yang berfungsi menyeimbangkan kadar natrium di dalam tubuh.
Namun, perlu diingat bahwa konsumen tidak boleh menambah beban natrium baru melalui pelengkap lainnya. Hindari penambahan saos dan kecap berlebihan karena akan menambah kandungan natrium, hindari penambahan pilus, keripik asin, atau tidak menghabiskan kuah mi.
Terkait tren mi instan yang mengklaim lebih sehat seperti label mi panggang atau Non-MSG, Diah meminta masyarakat untuk tetap kritis. Meski secara teknik pengolahan (dipanggang) dapat menurunkan kadar lemak hingga 40 persen dan energi hingga 50%, kandungan natriumnya belum tentu rendah.
Akhirnya, mi instan tidak boleh dijadikan menu harian, melainkan sekadar makanan rekreasi. Masyarakat disarankan untuk tidak memasukkan mi instan ke dalam daftar belanja bulanan agar frekuensi konsumsinya tetap terjaga dan tidak menjadi kebiasaan sehari-hari.
Konsumsi mi instan sering kali dianggap sebagai makanan yang tidak sehat karena kandungan natrium dan lemaknya yang tinggi. Namun, Anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, mengemukakkan bahwa mi instan tetap bisa dikonsumsi dengan cara yang lebih sehat jika dilakukan dengan benar.
Pertama-tama, langkah utama untuk menekan risiko kesehatan dari mi instan adalah dengan mengontrol asupan natrium. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi penggunaan bumbu instan bawaan dan menggantinya dengan bumbu dapur alami.
Contohnya, jika memasak untuk porsi keluarga sebanyak lima orang, cukup gunakan tiga bungkus bumbu bubuk saja. Kekurangan rasanya dapat ditutupi dengan menambahkan tumisan bawang merah, bawang putih, kemiri, hingga cabai segar. Langkah ini efektif untuk memangkas asupan garam tanpa menghilangkan cita rasa makanan.
Selain itu, mi instan perlu dilengkapi dengan zat gizi lain agar lebih seimbang. Diah menyarankan penambahan lauk hewani seperti telur, ayam suwir, atau ikan sebagai sumber protein. Sayuran hijau seperti sawi, kangkung, ketimun, atau tomat juga harus disertakan karena menyedia kalium yang berfungsi menyeimbangkan kadar natrium di dalam tubuh.
Namun, perlu diingat bahwa konsumen tidak boleh menambah beban natrium baru melalui pelengkap lainnya. Hindari penambahan saos dan kecap berlebihan karena akan menambah kandungan natrium, hindari penambahan pilus, keripik asin, atau tidak menghabiskan kuah mi.
Terkait tren mi instan yang mengklaim lebih sehat seperti label mi panggang atau Non-MSG, Diah meminta masyarakat untuk tetap kritis. Meski secara teknik pengolahan (dipanggang) dapat menurunkan kadar lemak hingga 40 persen dan energi hingga 50%, kandungan natriumnya belum tentu rendah.
Akhirnya, mi instan tidak boleh dijadikan menu harian, melainkan sekadar makanan rekreasi. Masyarakat disarankan untuk tidak memasukkan mi instan ke dalam daftar belanja bulanan agar frekuensi konsumsinya tetap terjaga dan tidak menjadi kebiasaan sehari-hari.