Cuaca dingin ekstrem di Gaza saat ini menjadi ancaman bagi keselamatan warga. Mereka juga harus menghadapi infeksi saluran napas bawah yang semakin meningkat karena kondisi tenda pengungsian tidak layak dan blokad dari penjajah yang menyebabkan keterbatasan obat-obatan dan fasilitas medis.
Dalam beberapa hari terakhir, lebih dari 50 persen pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Syuhada Al Aqsa mengalami gejala infeksi saluran napas. Kondisi ini membuat dua dari tiga pasien yang dirawat terdiagnosis infeksi saluran napas bawah, baik akibat virus maupun bakteri.
Dokter di ruang rawat inap Ni Nyoman Indirawati Kusuma menyampaikan bahwa tidak sedikit pasien yang kemudian mengalami gagal napas dan membutuhkan perawatan intensif. Namun, keterbatasan pemeriksaan laboratorium dan obat-obatan semakin mempersulit penanganan pasien.
Di sini tidak ada pemeriksaan rapid antigen atau PCR untuk mendeteksi virus, sehingga mereka menangani pasien berdasarkan penilaian klinis. Bahkan, saat ini hanya tersedia satu jenis obat antivirus, yaitu oseltamivir.
Dalam beberapa hari terakhir, lebih dari 50 persen pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Syuhada Al Aqsa mengalami gejala infeksi saluran napas. Kondisi ini membuat dua dari tiga pasien yang dirawat terdiagnosis infeksi saluran napas bawah, baik akibat virus maupun bakteri.
Dokter di ruang rawat inap Ni Nyoman Indirawati Kusuma menyampaikan bahwa tidak sedikit pasien yang kemudian mengalami gagal napas dan membutuhkan perawatan intensif. Namun, keterbatasan pemeriksaan laboratorium dan obat-obatan semakin mempersulit penanganan pasien.
Di sini tidak ada pemeriksaan rapid antigen atau PCR untuk mendeteksi virus, sehingga mereka menangani pasien berdasarkan penilaian klinis. Bahkan, saat ini hanya tersedia satu jenis obat antivirus, yaitu oseltamivir.