Cuaca musim dingin ekstrem di tengah kehancuran sistem kesehatan di Gaza, Palestina. Tim medis yang beroperasi di jalur ini, seperti Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-12, mengeluh tentang meningkatnya angka infeksi saluran napas bawah.
Salah satu relawan EMT, Nadia Rosi, mengatakan cuaca dingin yang tidak biasa membuat kondisi pasien semakin buruk. "Cuaca dingin di tengah kondisi tenda pengungsian yang tidak layak membuat angka infeksi saluran napas di Gaza terus meningkat," katanya.
Sementara itu, dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Syuhada Al Aqsa, Mohamad Reynaldi, menyatakan lebih dari 50 persen pasien yang datang ke IGD mengalami gejala infeksi saluran napas. "Tidak sedikit pasien yang kemudian mengalami gagal napas dan membutuhkan perawatan intensif," katanya.
Keterbatasan pemeriksaan laboratorium dan obat-obatan semakin mempersulit penanganan pasien, terutama yang mengalami gagal napas. "Di sini tidak ada pemeriksaan rapid antigen atau PCR untuk mendeteksi virus, sehingga kami menangani pasien berdasarkan penilaian klinis," kata dokter paru, Indira.
Saat ini, hanya tersedia satu jenis obat antivirus, yaitu oseltamivir. Bahkan untuk pemeriksaan sel darah putih pun harus melalui permintaan khusus karena keterbatasan reagen. "Bahkan kami harus menunggu lama untuk mendapatkan pasien," tambahnya.
Kondisi ini membuat warga Gaza semakin terancam, di tengah kehancuran sistem kesehatan yang sudah tidak layak lagi.
Salah satu relawan EMT, Nadia Rosi, mengatakan cuaca dingin yang tidak biasa membuat kondisi pasien semakin buruk. "Cuaca dingin di tengah kondisi tenda pengungsian yang tidak layak membuat angka infeksi saluran napas di Gaza terus meningkat," katanya.
Sementara itu, dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Syuhada Al Aqsa, Mohamad Reynaldi, menyatakan lebih dari 50 persen pasien yang datang ke IGD mengalami gejala infeksi saluran napas. "Tidak sedikit pasien yang kemudian mengalami gagal napas dan membutuhkan perawatan intensif," katanya.
Keterbatasan pemeriksaan laboratorium dan obat-obatan semakin mempersulit penanganan pasien, terutama yang mengalami gagal napas. "Di sini tidak ada pemeriksaan rapid antigen atau PCR untuk mendeteksi virus, sehingga kami menangani pasien berdasarkan penilaian klinis," kata dokter paru, Indira.
Saat ini, hanya tersedia satu jenis obat antivirus, yaitu oseltamivir. Bahkan untuk pemeriksaan sel darah putih pun harus melalui permintaan khusus karena keterbatasan reagen. "Bahkan kami harus menunggu lama untuk mendapatkan pasien," tambahnya.
Kondisi ini membuat warga Gaza semakin terancam, di tengah kehancuran sistem kesehatan yang sudah tidak layak lagi.