Tren Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Indonesia terus melanda. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa jumlah pekerja yang kehilangan mata pencaharian telah mencapai 79.302 orang, meningkat dibandingkan periode sama pada tahun sebelumnya.
Peningkatan ini tidak hanya terkait dengan efisiensi bisnis, tetapi juga dengan kondisi permintaan pasar yang lemah. Banyak perusahaan, terutama di industri tekstil, menghadapi persaingan yang lebih ketat dan penurunan daya beli masyarakat membuat mereka kelimpungan.
"Upaya efisiensi dilakukan lebih serius oleh banyak perusahaan, termasuk dengan PHK. Beberapa perusahaan bahkan terpaksa tutup. Dari sisi perusahaan, tekanan utama berasal dari lemahnya permintaan atas produk mereka," kata Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky.
Pemerintah telah mengambil beberapa langkah untuk menangani masalah PHK, seperti melalui kebijakan insentif fiskal. Namun, banyak orang yang berpendapat bahwa upaya ini hanya dapat membantu jangka pendek, sedangkan reformasi struktural yang diperlukan lebih penting untuk mengatasi masalah ini di jangka menengah.
"Untuk jangka menengah butuh reformasi struktural. Satgas dan penempatan SAL hanya terobosan jangka pendek. Satgas yang tidak ditindaklanjuti dengan reformasi struktural, nggak banyak guna," ujar Awalil.
Tren PHK di Indonesia perlu dipantau lebih dekat untuk mengetahui apakah upaya pemerintah dapat mengatasi masalah ini atau tidak.
Peningkatan ini tidak hanya terkait dengan efisiensi bisnis, tetapi juga dengan kondisi permintaan pasar yang lemah. Banyak perusahaan, terutama di industri tekstil, menghadapi persaingan yang lebih ketat dan penurunan daya beli masyarakat membuat mereka kelimpungan.
"Upaya efisiensi dilakukan lebih serius oleh banyak perusahaan, termasuk dengan PHK. Beberapa perusahaan bahkan terpaksa tutup. Dari sisi perusahaan, tekanan utama berasal dari lemahnya permintaan atas produk mereka," kata Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky.
Pemerintah telah mengambil beberapa langkah untuk menangani masalah PHK, seperti melalui kebijakan insentif fiskal. Namun, banyak orang yang berpendapat bahwa upaya ini hanya dapat membantu jangka pendek, sedangkan reformasi struktural yang diperlukan lebih penting untuk mengatasi masalah ini di jangka menengah.
"Untuk jangka menengah butuh reformasi struktural. Satgas dan penempatan SAL hanya terobosan jangka pendek. Satgas yang tidak ditindaklanjuti dengan reformasi struktural, nggak banyak guna," ujar Awalil.
Tren PHK di Indonesia perlu dipantau lebih dekat untuk mengetahui apakah upaya pemerintah dapat mengatasi masalah ini atau tidak.