Menhaj Pakai Baju Loreng TNI di Pembukaan Diklat Petugas Haji

Kemenhaj menunjukkan semangat harapan dengan mengenakan seragam loreng di acara pembukaan diklat PPIH. Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, dan Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, dipakai secara kompak mengenakan seragam loreng dengan dipadukan celana cream. Menurut pendapat Gus Irfan, wakil menteri tersebut memakai baju ini karena kesepakatan dengan Dahnil melalui pesan singkat sebelumnya.

Pertanyaannya adalah, apa yang dilakukan pihak Kemenhaj dengan mengenakan seragam loreng di acara pembukaan diklat PPIH? Jika bukan sebagai tindakan yang berlebihan atau hanya sekadar kesempatan foto, maka bagaimana cara Kemenhaj untuk menunjukkan semangat harapan ini kepada para peserta?

Menurut Gus Irfan, Kemenhaj ingin menerapkan pelatihan tersebut dengan pendekatan semi militer dan seragam loreng dijadikan simbol harapan akan kedisiplinan. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang mengenakan seragam loreng ini harus memiliki postur tubuh yang kuat seperti Gus Irfan.

Kemenhaj memang ingin menunjukkan semangat harapan akan kesamaptaan fisik dan disiplin dari para peserta. Namun, perlu diingat bahwa seragam loreng ini bukanlah simbol harapan yang tepat, karena hal ini bisa menimbulkan kesalahpahaman.
 
Gak bisa ngerti kenapa pemerintah selalu memilih seragam loreng aja sebagai simbol semangat harapan πŸ€”. Gue rasanya itu lebih mirip dengan cerita anak kecil yang ingin dipertahankan untuk tidak jatuh dari kendiran. Kalau gak ada kesempatan foto, apa gue bisa tahu kalau seragam loreng itu bukan hanya sekedar kenyamanan aja? πŸ˜’
 
Gak enak banget sih kalau Kemenhaj memakai seragam loreng di acara pembukaan diklat PPIH. Tapi, kayaknya kena dipertimbangkan apa yang sebenarnya maksud dari hal ini. Mungkin ada ide bagus yang ingin dibawa, tapi gini, seragam loreng bukanlah simbol harapan yang tepat... πŸ˜ŠπŸ‘•
 
Saya pikir ya seragam loreng gini itu agak tidak pas keciknya, tapi kalo nanti diadakan pelatihan fisik dengan seragam loreng itu kayak sekali kayak aja kan ? mending jangan terburu-buru aja.
 
Maksudnya apa sih kalau Kemenhaj memakai seragam loreng di acara pembukaan diklat PPIH? Tapi bukan cuma untuk foto ya... Mereka ingin menunjukkan semangat harapan, tapi bagaimana caranya yang tepat? Seragam loreng ini kayaknya tidak cocok simbol harapan kesamaptaan fisik dan disiplin. Yang penting adalah peserta bisa fokus belajar bukan foto-foto seragam loreng πŸ€”πŸ‘•
 
Maksudnya aki, kalau seragam loreng itu kayak nyambung dengan peserta diklat, tapi sih di acara pembukaan paling tidak ada hubungannya ya? Mereka hanya ingin menunjukkan semangat harapan, tapi mereka harus lebih pintar cari cara yang tepat aja. Kalau mau menunjukkan kesamaptaan fisik, kayaknya harus ada latihan sebelumnya atau sesuatu yang lebih bervisi yang tidak hanya seragam loreng saja πŸ€”
 
Moga Kemenhaj lebih berhati-hati lagi, keren ya πŸ™. Seragam loreng itu kayaknya buat jadi tawa aja. Kalau mau menunjukkan semangat harapan, bakanya seragam formal bisa lebih baik πŸ’Ό.
 
Maksudnya apa sih? Kemenhaj mau nggak mau, sih? Mereka mau menunjukkan semangat harapan dengan cara apa, aja? Seragam loreng bukanlah simbol yang tepat, ya. Karena kalau kita lihat dari sudut pandang orang lain, seragam loreng ini kan bisa bikin kesal atau penasaran sih?

Mungkin yang perlu diingat adalah, semangat harapan itu harus diungkapkan dengan cara yang sesuai dengan masing-masing orang. Jangan pakai simbol yang bisa bikin orang lain merasa tidak nyaman atau kesal. Kita harus memperhatikan opini dan perasaan orang lain, ya.

Maksudnya, kita harus cermat dalam menentukan apa yang kita lakukan, karena itu akan memberikan dampak pada masing-masing orang di sekitar kita. Kita jangan terburu-buru, kita harus berhati-hati dan mempertimbangkan apa yang akan dipikirkan oleh orang lain, ya. πŸ€”
 
iya, kalau ga salah seragam loreng itu kayaknya kena diganti dengan sesuatu yang lebih santai aja, seperti jaket atep atau apa aja, tapi gak perlu dipakai di acara formal kayak diklat PPIH. sih kalau Menteri Haji dan Umrah mau menunjukkan semangat harapan, bisa buat cara lain aja, misalnya kena ngaduk-dikte dengan para peserta atau apa aja, jadi ga perlu pakai seragam loreng yang kayaknya bikin kesalahpahaman.
 
Gue rasa seragam loreng itu nggak tepat dipakai di acara pembukaan diklat PPIH. Kalau mau menunjukkan semangat harapan, mending pakai baju yang nyaman dan sopan aja. Seragam loreng itu lebih cocok digunakan di kampus militer atau sesuatu yang lebih santai, nggak cocok dengan acara resmi seperti diklat PPIH. Gue khawatir kalau peserta diklat PPIH akan merasa tidak nyaman dan nggak fokus karena harus memikirkan postur tubuhnya πŸ€”πŸ‘•
 
Kadang-kadang aku lihat cerita seperti ini dan rasanya terasa bingung... Kenapa Kemenhaj harus mengenakan seragam loreng di acara pembukaan diklat PPIH? Kalau bukan karena kesempatan foto, tapi memang ada alasan khusus. Aku pikir kalau mau menunjukkan semangat harapan, maka buka sinyal yang lebih jelas, misalnya dengan mengenakan baju yang sesuai dengan tema diklat tersebut.

Aku rasa seragam loreng ini tidak tepat, tapi aku juga paham apa yang diinginkan Kemenhaj. Mereka ingin menunjukkan kesamaptaan fisik dan disiplin para peserta. Tapi, perlu diingat bahwa seragam loreng ini bisa menimbulkan kesalahpahaman. Aku rasa lebih baik kalau mereka menggunakan baju yang sesuai dengan tema diklat tersebut, atau mencari cara lain untuk menunjukkan semangat harapan yang tepat πŸ€”πŸ’‘
 
hehe, gue pikir seragam loreng apa lagi deh nih... siap aja dipaksa foto oleh kamera... tapi apakah benar-benar buat tujuan? ga jadi masuk akal kan kalau wakil menteri pakai ini... lebih baik pakai baju biasa saja...
 
Gak sabar banget denger kabar itu 🀯! Aku pikir seragam loreng itu gak tepat untuk dikenakan di acara formal seperti diklat PPIH... tapi aku juga paham kalau minta semangat harapan dari para peserta, itu kan yang penting banget πŸ’ͺ. Aku rasa Kemenhaj ingin menunjukkan bahwa disiplin dan kesadaran tubuh punya peran penting dalam kesuksesan hidup... tapi aku juga pikir ada cara lain untuk mencapai tujuan tersebut, seperti dengan cara yang lebih santai aja πŸ€—.
 
Kemenhaj lagi-lagi ngejebak dengan hal ini πŸ€”. Seragam loreng itu gak ada gunanya kalau bukan untuk menggambarkan keadaan mental dari Kemenhaj sendiri ya πŸ˜…. Apalagi kayaknya wakil menteri yang dipakai seragam loreng itu memang punya masalah dengan postur tubuhnya, kayaknya gak perlu dibawa ke acara penting seperti diklat PPIH.

Dan apa dengan pendekatan semi militer? Serius sih kalau Kemenhaj ingin membuat para peserta lebih kedisiplin. Tapi, bagaimana caranya kalau tidak semua orang bisa memenuhi standar kesehatan fisik yang ditetapkan? Gak perlu dipaksa kayaknya πŸ˜’.
 
Apa lagi kekayaan Kemenhaj nih πŸ™„. Seragam loreng itu kalo tidak dipadukan dengan celana cream ga punya tampilan gak jelas πŸ˜‚. Tapi seriously, seragam loreng itu buat apa sih? Jadi di acara pembukaan diklat PPIH Kemenhaj mau menunjukkan semangat harapan apa? Kalau bukan sekadar foto material aja, maka bagaimana caranya buatnya menunjukkan harapan tersebut kepada para peserta yang sebenarnya ingin belajar di sana? Saya rasa seragam loreng itu lebih cocok digunakan di panggung pertandingan sepak bola, bukan di acara resmi seperti diklat PPIH.
 
Seragam loreng itu gak bakal membuat kita semangat ya... Kemenhaj ini kayaknya terlalu ngiler sendiri, kalo mau ngerasa serius dengan semi militer, kok harus pakai seragam loreng? Mungkin karena semua orang yang dipakainya punya postur tubuh yang tebal, kayaknya mereka tidak ingin menyesuaikan. Kita pasti tidak diinginkan untuk salah paham ya...
 
Gak percaya aja kalau Menteri Haji dan Umrah punya seragam loreng sendiri 🀯. Apa yang mau caranya dengan menggunakan seragam loreng itu? Gampang aja bikin kesan berlebihan ya πŸ˜‚. Jika ingin menunjukkan semangat harapan, gak perlu pakai seragam loreng, bisa aja ngomong di depan umum kalau mereka punya visi yang positif tentang PPIH βš–οΈ. Nah, jangan lupa sih bahwa seragam loreng itu bukanlah simbol harapan yang tepat, tapi lebih seperti... hmm, saya rasa kalau ini masih banyak hal yang gak jelas tentang ide ini πŸ€”.
 
Mau tahu apa yang salah dengan seragam loreng itu? Kalau aku benar-benar tidak mau dipaksa mengenakan seragam loreng di sekolah, aku juga tidak akan memakainya di acara-acara penting. Tapi, apa yang harus dilakukan Kemenhaj sih? Mereka harus lebih bijak dalam memilih simbol harapan ya... Seragam loreng itu gak tepat untuk dipakai oleh semua orang, terutama yang kurang fokus atau kurang bisa berolahraga.
 
Maksudnya sih bagaimana seragam loreng itu nggak masuk akal banget dipakai di acara formal seperti diklat PPIH . Mungkin kemenhaj ingin teksisasi agresif ya? πŸ€”
 
kembali
Top