Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS kembali menunjukkan tren naik pada perdagangan Jumat ini. Menguat hingga Rp16.820 per dolar AS, ini merupakan peningkatan 76 poin atau 0,45 persen dari level sebelumnya di Rp16.896. Bahkan sempat menguat hingga Rp17.000, menjauhkan diri dari rentetan yang lebih rendah pada pertengahan minggu lalu.
Tiga hari berturut-turut, rupiah meningkatkan nilai tukurnya dengan tingkat peningkatan 0,12 persen pada Rabu dan Kamis. Sementara itu, pada Jumat ini nilai tukar Rupiah mengalami peningkatan 0,45 persen. Pengamat ekonomi menilai adanya penguatan ini adalah disebabkan oleh pelemahan indeks Dolar AS di pasar global.
Pergerakan harga dolar as digambarkan sebagai penentu nilai tukar rupiah. Peningkatan nilai ini berpotensi untuk mempengaruhi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dalam beberapa minggu terakhir, karena BI akan meninjau persaingan dengan mata uang lain di pasar valuta asing.
Pengamat ekonomi juga menyebutkan bahwa ketegangan geopolitik semakin tenang setelah Presiden AS Donald Trump menunjukkan minat untuk mengurangi ketegangan ini. Sebagai gantinya, para ahli di pasar kini fokus pada keputusan penting dari The Fed di akhir Januari untuk penentuan suku bunga.
Sementara itu, Lembaga Moneter Internasional (IMF) meminta Bank Indonesia untuk berhati-hati dalam melakukan intervensi di pasar valuta asing. Menurut IMF, peredam guncangan utama yang dilakukan oleh Rupiah harus tetap berfungsi dengan baik selama penanggulangan kekayaan negara di masa mendatang.
Pada akhirnya, nilai tukar Rupiah semakin stabil karena penguatan dari Bank Indonesia dan dampak dari penurunan indeks Dolar AS pada perdagangan global.
Tiga hari berturut-turut, rupiah meningkatkan nilai tukurnya dengan tingkat peningkatan 0,12 persen pada Rabu dan Kamis. Sementara itu, pada Jumat ini nilai tukar Rupiah mengalami peningkatan 0,45 persen. Pengamat ekonomi menilai adanya penguatan ini adalah disebabkan oleh pelemahan indeks Dolar AS di pasar global.
Pergerakan harga dolar as digambarkan sebagai penentu nilai tukar rupiah. Peningkatan nilai ini berpotensi untuk mempengaruhi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dalam beberapa minggu terakhir, karena BI akan meninjau persaingan dengan mata uang lain di pasar valuta asing.
Pengamat ekonomi juga menyebutkan bahwa ketegangan geopolitik semakin tenang setelah Presiden AS Donald Trump menunjukkan minat untuk mengurangi ketegangan ini. Sebagai gantinya, para ahli di pasar kini fokus pada keputusan penting dari The Fed di akhir Januari untuk penentuan suku bunga.
Sementara itu, Lembaga Moneter Internasional (IMF) meminta Bank Indonesia untuk berhati-hati dalam melakukan intervensi di pasar valuta asing. Menurut IMF, peredam guncangan utama yang dilakukan oleh Rupiah harus tetap berfungsi dengan baik selama penanggulangan kekayaan negara di masa mendatang.
Pada akhirnya, nilai tukar Rupiah semakin stabil karena penguatan dari Bank Indonesia dan dampak dari penurunan indeks Dolar AS pada perdagangan global.