Proses produksi film Buto Ijo yang ditampilkan dalam Penunggu Rumah ternyata sangat ekstrem. Dalam menciptakan sosok horor ini, tim film harus menghadapi tantangan teknis dan fisik yang tidak kalah beratnya dari visual yang menyeramkan.
Untuk mewujudkan Buto Ijo, tim produksi bekerja sama dengan tim prostetik berpengalaman yang telah terlibat dalam berbagai film horor Indonesia. Mereka merancang kostum full body dengan lapisan prostetik di hampir seluruh tubuh aktor. Pendekatan ini memang menghasilkan tampilan yang sangat realistis dan menyeramkan, namun juga menuntut pengorbanan besar dari pemerannya.
Kostum Buto Ijo memiliki bobot yang berat, bersifat lengket, dan hampir tidak memiliki sirkulasi udara. Pratito Wibowo, aktor yang memerankan Buto Ijo, kerap mengalami kesulitan bernapas saat mengenakannya. Sesi pengambilan gambar hanya bisa digunakan selama satu hingga dua take sebelum harus dilepas agar aktor bisa beristirahat dan menurunkan suhu tubuh.
Meski proses syuting berlangsung di studio berpendingin udara, panas tetap terperangkap di dalam kostum. Akibatnya, tubuh aktor kerap basah kuyup oleh keringat. Keselamatan aktor jadi prioritas utama tim film.
Tantangan tidak hanya datang dari sisi teknis, tetapi juga dari desain karakter. Buto Ijo dikenal luas sebagai sosok folklor yang sering digambarkan secara kartunis. Tim kreatif film harus mencari formula yang tepat agar karakter tersebut tetap terasa seram tanpa kehilangan identitas dongeng yang sudah melekat di benak penonton.
Untuk mencapai itu, tim produksi memilih mengandalkan practical effect ketimbang CGI. Seluruh tampilan fisik Buto Ijo hadir secara nyata di lokasi syuting, sementara efek digital hanya digunakan secara terbatas, khususnya pada bagian mata.
Pendekatan ini membuat tim produksi harus menyeimbangkan detail untuk warna merah pada mata Buto Ijo agar tetap selaras dengan nuansa horor yang membumi. Tantangan lain muncul dari menciptakan tampilan yang tidak terlalu berlebihan, namun masih mengintimidasi dan hidup seperti karakter tokusatsu.
Untuk mewujudkan Buto Ijo, tim produksi bekerja sama dengan tim prostetik berpengalaman yang telah terlibat dalam berbagai film horor Indonesia. Mereka merancang kostum full body dengan lapisan prostetik di hampir seluruh tubuh aktor. Pendekatan ini memang menghasilkan tampilan yang sangat realistis dan menyeramkan, namun juga menuntut pengorbanan besar dari pemerannya.
Kostum Buto Ijo memiliki bobot yang berat, bersifat lengket, dan hampir tidak memiliki sirkulasi udara. Pratito Wibowo, aktor yang memerankan Buto Ijo, kerap mengalami kesulitan bernapas saat mengenakannya. Sesi pengambilan gambar hanya bisa digunakan selama satu hingga dua take sebelum harus dilepas agar aktor bisa beristirahat dan menurunkan suhu tubuh.
Meski proses syuting berlangsung di studio berpendingin udara, panas tetap terperangkap di dalam kostum. Akibatnya, tubuh aktor kerap basah kuyup oleh keringat. Keselamatan aktor jadi prioritas utama tim film.
Tantangan tidak hanya datang dari sisi teknis, tetapi juga dari desain karakter. Buto Ijo dikenal luas sebagai sosok folklor yang sering digambarkan secara kartunis. Tim kreatif film harus mencari formula yang tepat agar karakter tersebut tetap terasa seram tanpa kehilangan identitas dongeng yang sudah melekat di benak penonton.
Untuk mencapai itu, tim produksi memilih mengandalkan practical effect ketimbang CGI. Seluruh tampilan fisik Buto Ijo hadir secara nyata di lokasi syuting, sementara efek digital hanya digunakan secara terbatas, khususnya pada bagian mata.
Pendekatan ini membuat tim produksi harus menyeimbangkan detail untuk warna merah pada mata Buto Ijo agar tetap selaras dengan nuansa horor yang membumi. Tantangan lain muncul dari menciptakan tampilan yang tidak terlalu berlebihan, namun masih mengintimidasi dan hidup seperti karakter tokusatsu.