Mengapa Indonesia Harus Keluar dari Board of Peace?

Pembentukan Board of Peace (BoP) bukanlah wadah perdamaian untuk Israel dan Palestina. Menurut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, operasi demilitarisasi terhadap Hamas di Gaza sudah selesai dan tidak akan dilanjutkan lagi. Sementara itu, Indonesia yang bergabung ke dalam BoP itu malah menyumbang dana senilai 17 triliun rupiah untuk mengembangkan teknologi yang digunakan oleh Israel.

Dua hal yang menarik dari pernyataan Netanyahu adalah pertama, keterlibatan Indonesia di Board of Peace ini bertolak belakang dengan semangat multilateralisme PBB maupun Konferensi Asia Afrika 1955. Kedua, dugaan bahwa Indonesia terseret ke blok geopolitik tertentu yang tidak bebas dan mendorong kekayaan militer bagi Israel.

Jika memang benar itu, berarti kehadiran Indonesia di BoP tidak sejalan dengan prinsip dasar berdirinya negara. Pernyataan Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, hanya membantu penutupan mata.

Sementara itu, ketiga hal yang ditanggung oleh Board of Peace tersebut adalah pembentukan teknokrat Palestina dan pengawasan gencatan senjata tanpa memperhatikan kemerdekaan Palestina. Dengan demikian, kehadiran Indonesia di BoP ini semakin mencirikannya menyerap konstitusi demi kedekatan dengan kekuasaan global.
 
Gue rasa ni pernyataan Netanyahu yang susah dipercaya lagi. Siapa tau aja dia hanya ingin kita percaya dan tidak ada apa-apa. Tapi, apa yang terjadi kalau aksi ini bukan sekedar cerita? Kalau benar, gue rasa kita harus mempertanyakan kembali bagaimana Indonesia bergabung dengan BoP. Apakah kita hanya ingin membantu Israel saja dan biarkan Palestina sendirian? Gue tidak nyaman dengar hal ini. πŸ˜’
 
gak kayaknya Indonesia jadi bagian dari BoP yang hanya menguntungkan Israel deh πŸ€‘. apa benar kita cuma memberi dana senilai 17 triliun rupiah buat Israel aja? itu seperti belanjaan pribadi, gak transparan apa lagi. sementara itu, Palestina siapa yang akan mendapatkan manfaat dari ini? jadi kok kita ikut ke dalam BoP? mungkin kita harus fokus pada masalah Palestina sendiri ya πŸ€”.
 
BoP ini benar-benar bikin kita kecewa πŸ€•. Apalagi kalau asumsi yang dibuat dari dugaan ni punya bukti apa? Maksudnya, Indonesia hanya jadi sekedar omong-omongan aja, tapi tidak ada tindakan nyata untuk Palestine. Dan siapa nih yang ternaknya kekayaan militer Israel? Nah, ini salah paham dari kita juga πŸ€¦β€β™‚οΈ. Kita harus lebih bijak lagi dalam memilih perspektif global, ya πŸ’‘.
 
aku rasa ada sesuatu yang tidak jelas di situasi ini πŸ€”. kalau Israel udah selesai operasinya di Gaza, kenapa Indonesia tetep bergabung dengannya? apakah kita jadi 'toko' senjata untuk Israel? 🚫

sebenarnya aku penasaran, siapa yang benar-benar mengontrol Board of Peace ini? dan apa tujuan sebenarnya dari kehadiran Indonesia di sana? πŸ˜•
 
Eh, gue pikir gede-gede banget kan? Sementara Israel masih sengaja membom Gaza, kita Indonesia malah masuk ke board yang diharapkan bisa membantu perdamaian itu. Gue rasa ini kayak sedang membalas dana dengan cara yang sama aja... πŸ€¦β€β™‚οΈ Kita jadi kaya nih, tapi gak ada ganti rugi apa-apa. Dan siapa yang bilang ini bisa membuat kedua belah pihak lebih baik? Tapi ternyata, kita hanya memberikan senilai 17 triliun rupiah untuk teknologi Israel... πŸ’Έ Gue rasa ini bikin ngerasa kayak kehilangan semangat multi lateralisme di era 50an. Kita harus jujur, apa yang kita lakukan? πŸ€”
 
aku pikir gini, kalau kita ikut bergabung dgn Board of Peace itu, apa tujuannya? kalau tidak ada kesepakatan yang jelas antara Israel dan Palestina, kira-kira bagaimana caranya kita bisa membantu mereka? aku pikir lebih baik kita fokus pada keamanan dan perdamaian di Indonesia terlebih dahulu. tapi sayangnya, dulu sudah banyak promosi tentang BoP ini, kayaknya gini aja yang terjadi...
 
opeknya apa sih tujuan BoP? jadi apa aja dana 17 triliun rupiah kita kasih ke Israel? sih cuma mau dijadikan teknologi militer lagi? gini nanggung sih konstitusi Indonesia? sebenarnya sih di balik lama apa sih keinginan RI? harusnya jadi konsultan ya, bukan sekedar kasih dana dan jadi pelaku yang menutup mata aja.
 
ada yang nggak jelas kalau kita bergabung dengan boP itu apa? pertama, operasi Israel di Gaza sudah selesai kan? tapi kita masih membantu mereka dengan dana senilai 17 triliun rupiah πŸ€‘. itu seperti bermain sepak bola dengan kemenangan yang tidak ada artinya.

saya pikir pernyataan Netanyahu ini sama sekali tidak jelas, dia bilang operasi demilitarisasi sudah selesai tapi kita masih bergabung dengan boP. gimana lagi? itu seperti kita ingin terlihat maju tapi sebenarnya kita tetap dipasang pada posisi tertentu.

saya rasa ada sesuatu yang tidak beres di sini, kita harus lebih teliti dalam memilih platform dan kepentingan kita. boP ini justru membuat Indonesia kehilangan nilai-nilai multilateralisme kita sendiri. gimana kalau kita fokus pada pengembangan teknologi yang bermanfaat bagi rakyat Indonesia saja? πŸ€”
 
Gak ngerti apa arti dari Board of Peace ini... tapi kalau memang begitu, boleh jadi Indonesia lebih fokus pada teknologi dan kerja sama internasional bukan mencari perdamaian untuk konflik di Timur Tengah πŸ€”. Tapi, apakah ini benar-benar menjadi contoh kita sebagai negara?... tidak bisa dipungkiri, ada yang jadi kekecewa, seperti dana 17 triliun itu digunakan untuk teknologi Israel, bukan untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia sendiri πŸ€‘.
 
ini kisah sama lagi... nggak percaya kalau kita Indonesia bisa jadi bagian dari 'board of peace' yang hanya ada untuk membiayai kegiatan militer Israel, aja nggak? tapi mungkin itu sejalan dengan apa yang ada di pikiran Netanyahu, bukan? tapi kenapa kita harus terlibat dengan hal ini? seharusnya gak perlu lagi, kan? kita sudah punya komitmen untuk mendukung kemerdekaan Palestina, tapi sepertinya itu hanya 'main-main' aja. dan apa yang dibawa oleh Indonesia ke dalam BoP? uang, tapi nggak ada yang jelas siapa yang akan manfaatkan hasil itu...
 
gak bisa percaya juga sih, kalau asalnya boP itu suda wadah perdamaian tapi sekarang jadi keterlibatan politik yang lebih paranoa 🀯. apa yang dibicarakan adalah dana dan teknologi, tapi apa yang tidak dibicarakan adalah kondisi seseorang di Gaza yang masih banyak korban perang πŸ˜”.

boP ini malah bikin kita berpikir, sih apa yang sebenarnya keinginan kita? bukan hanya menambah dana saja tapi harus ada hasilnya juga πŸ€”. dan kalau tidak? kita akan sama-sama tertipu seperti Sugiono πŸ™…β€β™‚οΈ.

di samping itu, ada satu hal lagi, sih kenapa kita tidak pernah membicarakan tentang isu Israel dan Palestina dalam konteks yang lebih luas? bukan hanya soal dana dan teknologi tapi juga masalah pendidikan dan kesadaran masyarakat πŸ“š.
 
πŸ€”πŸ‘€ Israel vs Palestina... kan seperti pasangan yang tak pernah jatuh cinta, aja πŸš«πŸ’”

[GIF: pasangan yang berjalan lewat sambil memandang ke arah yang berbeda]

Dan Indonesia yang jadi pengaruh... πŸ€¦β€β™‚οΈ 17 triliun rupiah untuk teknologi Israel... πŸ€‘πŸ˜³

[Imajinasi: uang kueni yang tergantung di langit dengan mata yang menatap arah bawah]

Kita kira gini, kan? 😎
 
Gue rasa kalau Indonesia gak sabar-sabar kayaknya nih... apa artinya kita ikut ke dalam BoP yang hanya membantu Israel aja? Gue pikir itu sama aja kayak sekedar membeli senjata militer bagi Israel dengan uang 17 triliun... siapa nanti harus bertanggung jawab? Kalau boleh gue tanya, siapakah yang bertanggung jawab kalau kita gak bisa memastikan bahwa teknologi itu digunakan untuk kebaikan rakyat Palestina? Gue pikir ada sesuatu yang tidak beres di sini...
 
ini kabar yang makin jengkel... siapa tau benar-benar tidak ada lagi operasi militer di Gaza, tapi kenapa Indonesia terlibat dalam perundingan ini? kan kita sudah punya masalah sama Palestina juga... dan nggak keberatan kalau Israel ingin terus berkuasa, tapi kalau kita sendiri ngerasa tidak adil, apa yang cara kita lagi?
 
Saya rasa kalau giliran kita nih untuk ambil kembali perhatian dari Bung Karno siapa aja.. πŸ™„ Kita harus jujur, apa yang sebenarnya terjadi di BoP? Apakah benar-benar teknologi yang dikirim oleh Indonesia digunakan oleh Israel ataukah hanya sekedar promosi PR? πŸ€”
 
kembali
Top